Dongeng Dari Timur

Once upon a time, there was a man who wished to be the richest on the land. He made a pact with the Earth God that in return of the uncountable wealth, he would sacrifice his last great grandchild, from his first grandson, from his first child.   The God of Earth accepted his sacrifaction and soon after he became the richest man in the land of Ambarawa. He owned the largest puppet theat...
read more

33-pinus-vatikan

Dongeng Dari Timur

Once upon a time, there was a man who wished to be the richest on the land. He made a pact with the Earth God that in return of the uncountable wealth, he would sacrifice his last great grandchild, from his first grandson, from his first child.

 

The God of Earth accepted his sacrifaction and soon after he became the richest man in the land of Ambarawa. He owned the largest puppet theater in the region and his wealth was plenty.

 

Believing to own such a power, the man lured a Javanese pricess with magic so strong that once broken, it would destroy everything he owned. The devil was a master of deceival, and he fell into the charm of women’s seduction, the one thing that could break the magic.

 

The Javanese princess was an observant Javanese rituals follower capable to see the future: on the first Pahing Thursday of the month, all the wealth her husband owned would turn into ashes.

 

Indeed that day, there was a big fire in Ambarawa that torn down all buildings in the town. At that time, there was no banking concept, so all of his fortune was burned. In a bid to save her descendant, his wife seek refuge to the Queen of the South Sea.

 

The Queen agreed to give protection. A girl would be born and the queen would take her as her heir. The Queen’s spirit would make a lot of people love her so much that they will protect her from everything, including the Earth God. They will turn crazy on her, and those who are weak in mind would eventually lose their sanity.

 

  read more

21st February 2018 | 4:22 pm |

no

Respon

Hai Orang Jawa, Belajarlah Pada Papua!

“Kira-kira mau dibawain apa dari Jakarta?”

“Apa yah? Apa sih yang ada di Jakarta yang nggak ada di Papua?” koordinator lapangan kami, menatap dengan bingung seperti tidak punya ide.

 

Saat itu kami sedang bersiap untuk tugas peliputan ke Sorong, Papua. Ini pertama kalinya gue menjejakkan kaki ke pulau kepala burung itu. Gue tidak terbayang, bahwa satu-satunya yang orang jawa sombong ini bisa bawa ke Papua cuma rasa miskin dan kegagalan. Atau mungkin ilmu.

Itupun pas-pasan.

read more

25th January 2018 | 3:51 pm |

3

Respon

Bukan dari China

“Dari mana Mbak?” tanya pria di samping dalam pesawat malam itu.

“Dari Jakarta Pak,” jawab gue mantab.

“Ah masa?”

“Iya bener, emang bapak pertanyaannya apa?’

“Dari mana..” ia mengulang pertanyaan.

“Dari Jakarta,” gue kembali menjawab bak burung beo bersautan.

read more

20th January 2018 | 3:43 pm |

2

Respon

Resolusi-oner

Sudah menikah, sudah punya perusahaan sendiri, sudah pernah keliling Eropa. Hmm.. Ok, semua resolusi sudah tercapai. Demikian si kakak bergumam, sambil meniup lilin ultahnya yang ke-30. Ia lalu melirik pada si bungsu yang senyum sumringah tepuk tangan sambil nyanyi TIIIUPP LILINNYAA…, ‘kamu punya resolusi apa?’

 

Nyanyian konyol si bungsu seketika mengecil. Saat itu ia baru saja memutuskan menunda kelulusan beberapa bulan supaya bisa menikmati waktu menganggur. Resolusi, adalah sebuah hal yang jauh dari pikiran.

 

Mau S2, masih cape kelar kuliah. Mau nikah, gak kepingin-pingin amat. Yang ia inginkan hanya jalan-jalan gratis tanpa perlu kerja seumur hidup, tanpa terdengar, tidak ambisius.

 

“Russia before 30!” Gue kemudian keluar dengan satu resolusi . Kenapa Rusia? Yaa, kesannya jauh aja, pasti mahal dong, artinya gue udah jadi horangkayah pada umur itu.

read more

1st January 2018 | 8:43 am |

no

Respon

Gereja Tua

Seberapa susahnya sih mencari Gereja di Roma?

 

Siang itu gue sedang berdiri di depan Basilica Santo Petrus di Roma, ketika kepala gue berputar-putar seperti tujuh keliling. Yang sudah kenal gue sudah khatam, kalau antimo gak bakal mempan. Gue perlu buru-buru masuk ke tempat ibadah untuk mendapatkan ‘obat penangkal’. Aneh emang, tapi sejak kapan idup gue gak aneh.

 

Antrian di depan masih panjang mengular-ngular. Mungkin masih sekitar satu jam lagi. Jalur potong antrian harganya 8 Euro, tidak cocok dengan semangat backpacker gue. Lagipula gue sudah pernah masuk Basilika dan cuma mau cari Gereja saja. Dalamnya kayak apa ga penting.

 

Gue lantas memutuskan untuk keluar antrian dan pindah Gereja saja. Maksudnya, ini Roma gitu loh, pusat kekatolikan dunia, yang sepanjang jalan ada Gereja bangsa 500 meter sekali. Yang basilikanya ada 28 buah beserta uskup-uskupnya. Pasti dong menemukan gereja itu semudah menelan remah-remah rempeyek!

 

Gue menuju Gesu, sebuah Gereja Jesuit yang katanya penuh interior historik. Sekalian piknik. Namun ketika gue mencoba membuka gagang pintu Gereja, pintu terkunci rapat. Gue tidak percaya, mencoba mencari pintu lain. Tetap tidak terbuka. Gereja megah ini tidak buka di hari Senin.

 

Gue memilih gereja yang lain, dekat Fontana di Trevi. Sekali lagi, Gereja ini pun tutup. Bahkan gerbangnya sudah karatan seperti lama tidak dibuka.

 

Lagi renov. Sudah tutup. Hanya buka hari Minggu. Tidak tahu kapan buka lagi yang jelas sudah tutup. Menjadi jawaban yang gue terima berulang kali ketika gue mengetuk pintu-pintu Gereja itu. Gue hampir putus asa. Rasanya lebih mudah menemukan Gereja di negara berpopulasi Muslim terbesar dunia daripada di Roma.

read more

24th November 2017 | 4:49 pm |

2

Respon
next