Waktunya Hamil, Girls!

“Keluhannya apa, Mbak?” tanya Pak Dokter simpatik pada Jeung Wi, seorang teman. “Mual-mual, sama kadang muntah Dok,” jawab Jeung Wi “Ohh.. kita tes kehamilan ya?” Pak Dokter menawarakan. “Nggak usah Dok, saya nggak hamil kok,” jawab Jeung Wi yakin. “Ahh, nggak apa-apa, sudah umurnya kok,” Pak Dokter meyakinkan. “Ya tapi saya nggak mungkin hamil, Dok!...
read more

8-piramid-louvre

Waktunya Hamil, Girls!

“Keluhannya apa, Mbak?” tanya Pak Dokter simpatik pada Jeung Wi, seorang teman.

“Mual-mual, sama kadang muntah Dok,” jawab Jeung Wi

“Ohh.. kita tes kehamilan ya?” Pak Dokter menawarakan.

“Nggak usah Dok, saya nggak hamil kok,” jawab Jeung Wi yakin.

“Ahh, nggak apa-apa, sudah umurnya kok,” Pak Dokter meyakinkan.

“Ya tapi saya nggak mungkin hamil, Dok!” Jeung Wi ngotot.

“Ahh, nggak apa-apa, nanti kalau hamil saya bantu deh ngomong ke orang tua!”

“Dok, saya tuh terakhir ML 3 bulan yang lalu!” Jeung Wi makin kesal.

“Ahh, nggak apa-apa, kalau ternyata hasilnya negatif saya yang bayar deh tesnya..”
Tidak tahu mau berkata apa lagi, Jeung Wi menyerah pada tes kehamilan. Dan karena Jeung Wi bukan sebangsa hemaprodit, hasilnya negatif.

 

Ketika menceritakan pengalamannya, kami semua tertawa terbahak-bahak.

“Gue rasa ini gegara film-film Indonesia deh, kalau ada apa-apa, pastiii buntutnya hamil! It’s like you can’t miss a single intercourse without being pregnant,”  komentar seorang teman, mengacu pada referensi budaya. Hal ini menyebabkan dokter-dokter Indonesia selalu menawarkan tes kehamilan pada pasien perempuannya yang sakit mual-mual.

read more

1st August 2018 | 1:52 pm |

no

Respon

China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeberang.

 

Gue mengarah ke Stasiun MRT super modern yang bersih kinclong bak baru disikat Sunlight. Turut mengantri tertib seperti warga lainnya, yang semuanya tampil trendi dengan baju bermerk keluaran terbaru, warna-warna pastel, putih dan hitam. Sebelumnya, tentu gue sudah membuang sisa tusuk sate ampela tadi di tempat sampah khusus yang memisahkan sampah organik dan non-organik. Tidak ada yang salah buang, tidak ada yang buang sembarangan.

 

Tidak, gue tidak sedang berada di Singapura negara tetangga pujaan kita semua itu. Apalagi di kota-kota di Eropa yang kejayaan masa lampaunya semakin luntur. Gue di Guangzhou, salah satu kota di China. Demikian juga pengalaman gue ketika berada di Beijing, Shanghai, atau bahkan kota-kota sekunder mereka seperti Xian dan Shenyang.

read more

4th July 2018 | 12:52 pm |

no

Respon

The New Majority

“Lu pulang kagak bawa pacar?” tanya mamih, sesaat setelah gue menyelesaikan ziarah Eropa gue 3 minggu.

“Kagak,” gue menjawab datar

“Ah elu mah di sono kagak mau nyari, ntar di sini dapetnya yang beda agama lagi,” mamih berkomentar kuciwa.

“ Yee Mak, Eropa sekarang udah nggak kayak dulu lagi! Udah ada pergeseran tren mayoritas!” gue berargumen.

read more

11th April 2018 | 5:37 pm |

one

Respon

Korban Move-On

“Gue sih nggak bahagia sama pernikahan gue, tapi gue akan tetap pertahanin, buat menghukum mantan pacar gue!” ia berujar gagah, dengan suara bulat mantab.

 

“Tunggu, tunggu bentar.. yang ga bahagia dalam perkawinan, eloe?” gue bertanya mencoba mengklarifikasi.

“Iya,” jawabnnya mantab

“Yang dihukum, mantan loe?”

“Iya,”  jawabnya makin yakin.

“I see..” gue manggut-manggut, berusaha menelaah logika gaya baru ini. Emang sih di socmed orang gila makin banyak. Cuma gue kira gilanya cuma urusan agama dan pulitik aja. Mana tau, urusan mantan juga ogeng!

read more

24th March 2018 | 2:45 pm |

no

Respon

Matinya Kulot dan Punahnya Kebaya Tasik

Pasar Beringharjo, Sabtu pagi.

“Mbak, jual kulot nggak?” gue bertanya. Kehabisan baju tidur bersih memang merupakan problematika para eksportir manggis yang hidup jauh dari rumah.

“Yang ini?” si Mbak menunjukkan sebuah setelan batik lengan panjang celana panjang.

“Yee itu mah piyama! Kulot Mbak! Yang celana pendek tangan buntung atau pendek buat tidur!”

“Ohhh… babydoll?” respon si Mbak dengan aksen Jawa yang kental.

 

“Sekarang tuh lagi ngetren baju syari’i! Yang kutungan nggak bakal ada yang jual!” Si Mamih yang menemani saat itu berkomentar. Gue tidak menggubris dan kembali meneruskan pencarian. Namun setelah kios kesepuluh yang menolak permintaan gue bak perempuan yang mau tidur senonoh, gue terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Budaya Indonesia sudah mulai bergeser, dengan asimilasi budaya asing, hingga ke level baju tidur. Dan jika gue tidak ngotot mempertahankannya, entah apa lagi barang sehari-hari gue yang dianggap bawaan aseng.

read more

12th March 2018 | 6:03 pm |

no

Respon
next