The RIGHT Time

“Gy, gue udah pacaran sebulan kok belom diapa-apain ya?”   Pertanyaan itu memecah keriuhan denting cangkir teh herbal di tengah kafe yang bangkunya semakin berdempetan sejak kasus pembunuhan legendaris di tempat itu.   “Loe tau nggak, di negara ini, banyak pasangan yang baru salaman di hari pernikahan!” gue memajukan badan setengah berbisik, sambil lirik kiri-lirik ka...
read more

10-perempatan-louvre-siang-hari

The RIGHT Time

“Gy, gue udah pacaran sebulan kok belom diapa-apain ya?”

 

Pertanyaan itu memecah keriuhan denting cangkir teh herbal di tengah kafe yang bangkunya semakin berdempetan sejak kasus pembunuhan legendaris di tempat itu.

 

“Loe tau nggak, di negara ini, banyak pasangan yang baru salaman di hari pernikahan!” gue memajukan badan setengah berbisik, sambil lirik kiri-lirik kanan di tetangga yang berjarak dua puluh senti.

 

“Lah ya bodo amat! Itu pasangan pada kawin umur 18 taon, gue mah udah umur segini, ga usah pake salam-salaman!” jawabnya, sekali lagi, dengan nada yang sama tingginya.

 

Gue tersenyum sambil memutar-mutar cangkir di tangan. Oh, ini pertanyaan klasik, dari perempuan-perempuan Indonesia yang lebih dari sepuluh tahun tinggal di luar negeri, dan kini sedang menghadapi proses ‘naturalisasi’ kembali hidup bersosialisasi dengan tatar budaya ketimuran.

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam setiap level keintiman sebuah hubungan?

read more

18th August 2016 | 5:48 am |

no

Respon

Ugly Path in that Beautiful Plan: Renungan dari Santorini

Confirmed! This is the ugliest airport on earth.

 

Kami sedang duduk di lantai berdebu di tepi bandara Santorini bak pengungsi yang ditolak, menghadapi angin malam pantai yang mulai mendingin, ditumpuk 6 koper besar yang baru bisa di-check-in-kan 2 jam sebelum keberangkatan. Itu 4 jam lagi.

 

Ya tentu saja, ada bandara yang lebih kecil dari ini. Bandara Susilo di Sintang, Kalimantan Barat dengan ruang tunggu di warung indomie depan landasan juga lebih kecil. TAPIII kan tidak melayani penerbangan internasional dari Paris, Roma, Barcelona dan Madrid!

 

Otomatis, bandara JTR ini sudah mau meledak. Bau pesing menyeruak dari WC. Tempat duduk hanya 10 buah dirantai gembok. Jangan coba-coba nanya password WIFI. Dan kami, sudah pasti memilih berada di mana kek asal jangan di sini. Kami harusnya ada di Nice!

read more

24th July 2016 | 2:13 pm |

one

Respon

Civil War AADC 2: Rangga Vs Trian

“Lain kali kalau AADC ada triloginya, kalian pada nonton DVD di Rumah aja deh! Pada ribut sama pilihannya masing-masing yang gak bakal kesampaian itu!” demikian komentar seorang teman setelah kami nonton film Ada Apa Dengan Cinta  (AADC 2).

 

Menginjak usia yang ke-30, sekelompok perempuan alumni SMU yang sama ini memang sudah mulai kehilangan cara menonton film yang pasrah, tanpa kritik berlebih, termasuk pada alur film. Di akhir film, grup ini terbagi menjadi Tim Rangga dan Tim Trian.

 

Gue jelas termasuk tim Trian, si pacar baru dan tunangan Cinta. Gila aja loe. Apa sih salah Trian? Ganteng, berwibawa, mapan sejak lahir, baik hati, bijaksana…

 

“Tapi gantengan Rangga, ah!” begitu seorang Tim Rangga membela.

“Ya elah, namanya juga pemeran pendukung, ya dibikin nggak ganteng lah, dipeciin juga jadi ganteng! Turun dari mobil BMW juga jadi ganteng! Daripada Rangga musti sewa mobil, loe tau nggak sih aslinya mobil itu gampang mogok dan panas karena AC-nya sering mati!” gue membela.

 

Begitu fanatiknya dengan Tim Trian hingga di akhir film gue sibuk membagikan link ‘Surat Balasan Trian’ dan mengompori setiap orang yang gue ajak bicara tidak peduli gender, agama maupun latar belakang.

 

Hingga salah satu target kampanye Tim Trian tiba-tiba membalikkan kondisi. “Bagaimana jika dalam kehidupan nyata, Cinta itu lelaki, Rangga dan Trian itu perempuan, dan KAMU adalah Rangga?”

read more

22nd May 2016 | 2:21 pm |

one

Respon

What (Gentle)Men Want

Rejeki orang memang tidak bisa ditebak. Seorang teman satu genk dan kerja kelompok di universitas jurusan jurnalistik dulu kini sudah menjadi pengusaha pemilik jaringan gentlemen club di Singapura.

 

“Wuih, bro, udah jadi orang loe ya sekarang!” gue memuji. Namun Joko, demikian saja namanya disebut, menepis. Menurutnya, dalam bisnis ini bukan dia yang meraup keuntungan terbesar. Adalah para flower girl (bukan dalam konteks upacara pernikahan) yang jadi paling kaya.

 

Flower Girl ini bertugas menari dan menyanyi bagi para tamu. Sebagai tanda apresiasi, para gentlemen yang datang akan mengalungi karangan bunga seharga 1000 SGD yang dibeli dari klub. Mirip metode sawer di dangdut pantura.

 

Dalam semalam, seorang flower girl bisa mendapatkan hingga 8 karangan bunga. Bayangkan, jika ia bekerja 3 hari seminggu saja, dalam sebulan ia akan meraup 96 ribu SGD. Itu untuk kelas flower girl yang biasa aja. Yang memang bintang panggung bisa menyabet lebih dari SGD 200.000 semalam.

read more

3rd May 2016 | 1:31 pm |

one

Respon

Pelet (Bukan untuk Ikan)

 

Suatu kali ketika Bunda masih hidup, ia bertandang ke apartemen gue. Setelah berdoa bersama, Bunda bertanya ‘Nak, kamu pernah memikirkan lelaki yang seharusnya nggak kamu pikirkan ?’

Gue berpikir sejenak dan menjawab mantab, ‘gak tuh!’ Usut punya usut, Bunda mendeteksi seseorang yang berusaha mengirim pelet yang bukan buat ikan.

“Oh, emang kenapa sih Bun, mustinya ngomong aja dulu gitu!”
“Ya dia merasa kamu telah menolak dia,” jawab Bunda
“Ohh.. emang kenapa orangnya? Jelek banget?”
“Bukan gitu…”
“Ohh.. miskin?”
“BUKAN! Dia itu udah punya anak dan istri!!”

Dari segala jenis ilmu hitam yang pernah gue dengar, dari santet, sihir, celaka lintas, susuk dan teluh, gue paling takut sama pelet.
read more

1st April 2016 | 4:37 pm |

no

Respon
next