Tips Stay-at-Home dari Ahlinya

Hai gaes, gimana, udah mulai mati gaya di rumah? Sowry, kalau gue sih cukup selow. Gimana enggak, pas masa belum zamannya karantina mandiri, gue udah curi start duluan tahun lalu gara-gara retina lepas!  Maka sebagai self-proclaimed expert pada bidang nganggur di rumah, gue mau membagikan tips-tips supaya masa karantina mandiri para pembaca menjadi lebih bermakna. 

Semua adalah berdasarkan pengalaman gue di bidang ini yaitu harus berada dalam posisi telengkup selama DUA BULAN dengan balon gas dalam mata. Jadi kalau masih bisa tidur terlentang dan masih bisa maen laptop dan baca buku sih, itungannya masih level 1…

Selain itu, gue juga pernah menganggur selama setahun di Singapura. Okelah memang gak ada larangan ke luar rumah. Akan tetapi ini SINGAPURA, salah satu kota termahal dunia. Mencoba banyak mau di saat tidak punya penghasilan adalah sebuah tindakan bunuh diri, karena segera sebuah virus keputusasaan yang tidak kasat mata akan menerkam.

But I survive, and here’s the secret: 

The Girl from the Dragon’s Head (A.K.A Kelapa Gading)

2002

“Pokoknya, begitu kering, langsung kita pindah dari kelapa gading!” Begitu si mamih mencetus, di tengah keremangan malam, menghentak seekor entah belut entah uler entah jadi-jadian, yang sedari pagi ikut ngedeprok di pojok dapur. 

Kami sedang duduk melingkar di titik tertinggi rumah satu lantai kami. Setengah betis terendam banjir. Kutu air mulai merayap, leptospirosis juga mungkin. Listrik sudah dari dua hari yang lalu mati. Zaman itu belum ada powerbank dan internet, jadi hiburan kami cuma minicompo baterai D 4 butir, mendengar laporan banjir dan berharap pacar kirim-kirim salam, hingga baterainya habis. 

Namun begitu banjir mengering, kami sibuk bersih-bersih lalu nggak jadi pindah rumah. Cukup lama, hingga kembali merasakan banjir 2007, di mana saya hilang kontak dengan seluruh keluarga hampir seminggu. Ternyata, mamih papih itin mengungsi di pelataran sebuah kantor, hingga akhirnya dengan memeluk rice cooker, ada gerobak sampah yang dapat mengangkut mereka ke rumah kami yang lain… di Kelapa Gading juga, cuma lebih tinggi posisinya.

Kenapa? Karena kami saat itu yakin Jakarta bebas banjir itu cuma mitos, semacam bahwa Kelapa Gading berfengshui kepala naga sehingga biarpun didera banjir berkali-kali harga properti tetap naik. 

Kami yakin dan percaya bahwa banjir di Jakarta itu diakibatkan oleh curah hujan yang terlalu tinggi, dan karena seluruh warga Jakarta jorok suka buang sampah sembarangan, sehingga siapapun gubernurnya, gak bakal lah ada yang bisa membebaskan Jakarta dari banjir. Jadi percuma kan pindah ke mana juga pasti dalam tahun-tahun berikut kena banjir. 

Instead, kami ‘bersiap-siap’ menyambut banjir. Rumah kami memang bukan rumah panggung, tapi sowry, interiornya mengadopsi kearifan nenek moyang. Semua lemari punya ‘kaki’ minimal 10 cm, demikian juga kulkas, dispenser, bahkan sofa. Jadi berasa main jangkungan terus kalau di rumah.

Hingga 2012. 

Lalu berangsur-angsur, banjir itu menghilang dari wilayah rumah. Pertama-tama hanya banjir di garasi, lalu tidak sama sekali. Padahal curah hujan cukup tinggi, Puncak dan daerah resapan sudah mulai botak.

Barulah saat itu saya menyadari, banjir Jakarta itu bisa diatasi. Memang tidak semua daerah sudah bebas banjir, Kelapa Gading pun tidak, tapi ada perbaikan. Saya kasihan, sama mereka yang belum sempat merasakan perbaikan tersebut.

Banjir di Jakarta bukan banjir bandang seperti yang terjadi di Filipina, atau bahkan di Lebak. Juga bukan murni bencana alam seperti gempa bumi atau tsunami. Banjir di Jakarta disebabkan oleh buruknya drainase, yang tidak mampu cukup cepat mengalirkan air atau tidak punya kapasitas yang cukup untuk menampung. 

Ketika saya melihat kali-kali tidak dibersihkan, pasukan oranye tidak segesit dulu, trotoar baru membuat gorong-gorong menjadi lebih sempit, saya tahu hanya tinggal tunggu waktu banjir kembali. Dan betul, 2020 ini.

Apakah semua bencana alam terjadi akibat kepemimpinan yang buruk? Tentu tidak. Tapi apa yang terjadi di Jakarta, Banten, Bekasi? Ya. Termasuk gubernur-gubernur, walikota, bupati daerah-daerah tersebut, bukan satu orang saja.

Tapi saya warga Jakarta. Saya tidak merasakan banjir di Bekasi dan Banten. Maka saya tidak berhak mengomentari kepala daerah tersebut. Saya harap juga demikian dengan warga di luar Jakarta.

Sedangkan kami di Jakarta, biarkan kami menghibur diri dengan membuat humor. Kalau kata seorang komika, humor itu lucu karena ada korban. Makanya selalu ada orang yg kepleset, dilabur krim kue ulang tahun, dan ditoyor-toyor. Seringnya korbannya diri sendiri. Namun karena warganya sudah pada jadi korban banjir, maka mencari korban humor yang lain.

Sejujurnya saya tidak bisa membayangkan bertahan dirayapi kecoa yang begitu haus akan tempat kering tanpa peduli risiko dikepret, tanpa postingan memes, cerita, video dan celetukan netijen. Menurut saya orang Indonesia itu emang paling jago menghibur diri. Favorit saya adalah video orang lempar tali pancing dari atas kasur, terus tau-tau dapet ikan beneran. Gede banget lagi.

Sedih banget, ketika udah kebanjiran terus dilarang ketawa-ketawa sama orang-orang maha bijaksana yang entah kering kakinya, atau belum merasakan program perbaikan banjir dan yakin semua orang nasibnya sama, atau dari provinsi berbeda. Semoga semua amal ibadahnya ngebantuin korban banjir impas-impasan aja sama dosa riya pamer-pamer bantuan korban banjir di social media.

Ngomong-ngomong soal hiburan, terus zaman dulu gimana dong warga Jekardah menghibur diri? Kalau mamih memanfaatkan bantuan truk evakuasi tiap hari selama seminggu untuk numpang ke mall dari kompleks yang kebanjiran. Lumayan sekalian dapet biskuit sama Aqua tiap kali nebeng. Sampai beliau masuk liputan banjir Indosiar!

Renungan Ulang Tahun: Edisi Baru Belajar Astrologi

Gambaran grafis berdasarkan detail kelahiran seseorang ditampilkan di dalam kelas astrologi siang itu. Wajah-wajah para murid berkerut, membaca apesnya pemilik birthchart.

“Cacat dari lahir, ya?” tebak seorang murid.

“Apa orangnya masih hidup?” Tanya seorang murid yang lain. 

Bu Guru hanya tersenyum, “masih, dan ada di antara kita, coba, tunjuk tangan, birthchart siapa ini?” Gue, cengengesan seperti biasa, mengangkat tangan. Ruangan penthouse apartemen di bilangan Jakarta Selatan itu tiba-tiba terisi gemuruh bisikan. Gumaman kasihan, yang disertai tatapan tidak percaya. 

Bagaimana mungkin, seseorang yang begitu digandrungi penyakit dan kenaasan, bisa bertahan hingga usia dewasa, punya perusahaan sendiri, menulis tujuh buku, keliling puluhan negara,  belajar astrologi pula. Sambil ketawa-ketawa.

Lah jangankan mereka, gue aja kadang heran kok.

Dua Garis Biru Tanpa Pilihan

Ke klinik aborsi naik bajaj

 

Demikian ‘tantangan minggu ini’ yang gue terima. Entah apa yang membuat gue berpikir sekolah di SMU unggulan yang ekskulnya segabreg sebagai kurang sibuk dan menantang, sehingga ikut kegiatan uji nyali bersama beberapa teman beda sekolah yang sifatnya adalah kurang kerjaan dan nirfaedah.

 

Tapi melewatkan tantangan adalah sebuah bentuk kepengecutan dan berakhirlah gue menghampiri satu bajaj di sebuah deret jalan di Jakarta Pusat yang dikenal pada dekade lampau sebagai ‘area klinik aborsi’. Mungkin sekarang juga sik.

Kisah Retina yang Lepas (bonus FAQ!)

“Hah retina bisa lepas?”  Ya sahabat awamku, bisa… namun gue memahami kekagetan kelean semua karena demikian juga pertanyaan gue pada pak dokter sore hari itu. Dan meski info terkait ablasio retina (caileh! Istilah baru! Padahal baru gugel bulan lalu!) ini sudah mulai banyak, tentu masih banyak yang memilih jawaban dari first hand experience, maka gue akan membuat posting FAQ sesuai trending topic instagram..

Bukan Kreativitas, Inilah Kunci Sukses Sebenarnya!

“Nyet, kasi tau dong, apa rahasia sukses bisnis loe!”

“Nggak ada, juga nggak sukses-sukses amat.”

“Tapi pasti loe melakukan sesuatu kan, sampai loe ada di tahap yang sekarang? There gotta be some criteria, some skills, yang bisa dipelajari!”

“KAGAK ADA!!Loe serius amat sih kayak peserta workshop pengembangan diri!”

 

Gue menyanggah kencang. Sebagian karena harus melawan musik pop-rock di Irish bar mungil itu. Sebagian, karena setelah panjang kali lebar gue menjelaskan tentang bagaimana kami merintis Javafresh, teman gue ini nampaknya belum ngerti juga, bahwa,there is no secret ingredients! Kita cuma gak punya pilihan selain terus ngotot jalan! 

 

Or… is it.. THE secret ingredients?

Pilih Gompal tapi Natural apa Cantik tapi Hasil Suntik

OMG, What did I just swallow?

 

Sesaat sebelumnya… kami berada di sebuah rumah kemas manggis di daerah Thailand Selatan. Seperti tradisi di rumah kemas manapun, kami langsung disodori manggis oleh pemiliknya. Dibuka satu-satu. Memang dasarnya suka makan dan doyan manggis, gue menyambut baik tawaran dengan melahap sebanyak-banyaknya.

 

“MMM.. enak-enak!” Gue menjawab rakus, menerima lagi potongan demi potongan manggis yang telah dibelah. Lagipula, gue tidak tau bagaimana caranya menolak dan bilang ‘cukup’ dalam Bahasa Thailand.

 

Puas makan manggis, kami diajak ke perkebunan manggis yang baru dipanen dan kita santap barusan. Barulah kami melihat, pohon manggis, di bibir pantai, tumbuh di tanah pasir merica. Iya, yang kayak di Lombok Barat. Pohonnya ranum dengan satu tangkai bisa berisi 10 butir lebih. Katanya kemarin habis diterjang badai topan, tapi tidak ada satu butirpun yang jatuh.

 

Padahal manggis secara natural hidup di dataran tinggi, sekitar 600-800 meter di atas permukaan laut. Tanahnya biasanya jenis litosol, semacam tanah vulkanis yang subur. Untuk tumbuh dengan kondisi jauhh dari alam naturalnya pasti diperlukan banyak rekayasa, genetika dan kimiawi.

 

Sesaat gue langsung teringat camilan manggis yang baru gue santap itu. Mana banyak banget.

Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.

 

Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik pembungkusnya. Satu kompleks menyerupai Jogja City Mall.

 

Jadi kontras dengan pos milik Timor Leste yang meski bangunannya layak, tapi bergaya tradisional sehingga lebih sederhana. Padahal, empat tahun lalu kebalikannya. Pos Indonesia lebih mirip tenda warung soto Lamongan pinggir jalan.

Matchmaking Contest

“Gy, kasi ide dong! Ini gue lagi ketemuan ama cowo yang dijodohin, garing banget! Mana gue cuma makan bakmi bayar sendiri terus mau nonton masih lama die maunya nunggu di tukang bakmi aje!”

 

“Dih, loe apaan sih, uda pegi aja lah, bilang loe lupa mau ke gereja!”

“Yee mana bisa! Jelas-jelas tadi dia jemput gue di Gereja!”
“Ya udah bilang kek, rumah loe korslet, tadi lupa cabut setrikaan, baju loe kebakar, ketiup angin, nyamber kompor, apa kek!”

“Duh, untung ini masih trial, gue kagak mau dah sama mak comblang yang itu, gak bakal balik modal!”
“Eh, gimana?”

Usut punya usut, lelaki yang ditemui sang teman adalah buah perkenalan dari seorang Mak Comblang. Ya, di era milenial macam ini, jasa perjodohan ternyata masih laris. Bahkan bukan Cuma laris, tapi juga MAHAL. Untuk tiga perkenalan, Mak Comblang menawarkan paket tiga juta rupiah.

 

“Udah deh kenapa sih, bukannya yang gratisan aja,” gue menyarankan pada Tinta.

“Lah loe kagak liat tuh Tinder isinya kayak apaan sekarang? MAS-MAS semua cuy!”

 

Gue manggut-manggut. Gue memang sudah tidak update dunia dating apps. Sejak terpaksa cuci gudang banyak aplikasi supaya storage iPhone masih bisa digunakan untuk hal-hal fungsional seperti email dan whatsapp. Dan karena menurut gue Candy Crush Saga lebih setia menemani malam-malam dingin dibandingkan cowok-cowok yang gue temui di Tinder, maka gue memutuskan menghapus Tinder saja.

 

Namun kegigihan Tinta ikut biro jodoh membuat gue terpicu untuk mengorbankan aplikasi kurang terpakai seperti Microsoft Word, untuk kembali mengunduh satu aplikasi perjodohan. Gue dan Tinta pun membuat ulasan beberapa aplikasi yang layak memakan storage tersebut: