15 49.0138 8.38624 1 0 4000 1 http://www.margarita.web.id 300 0

Curhat Padaku Kau Kutinggal…

0 Comments

Berdasarkan comment yang masuk, ternyata banyak juga yang terjebak dalam persahabatan dengan pencurhat maniak, tapi maap yah.. gue itu kmaren juga emang skadar curhat. Kalau gue uda ketemu solusinya, gue kagak bakal curhat lagi atuh! Masalahnya segala cara udah gue coba untuk meng-upgrade status gue dari tong sampah, tapi hasilnya nihil! Tapi siapa tahu bisa dicoba…

1. Berikan Saran yang Tidak masuk akal
Tingkat keberhasilan: 1
Tingkat kesulitan: 1 juga

Jika anda dijadikan penampung curhatan selama 5 tahun atau lebih dan oleh 5 orang atau lebih, mungkin justru anda yang harus introspeksi! Jangan-jangan anda selalu menanggapi setiap curhatan dengan serius dan selalu memberikan saran yang manjur, jauh lebih expert daripada psikolog. Teman anda, menyadari potensi anda, akhirnya memilih Anda sebagai psikiater pribadi, yang bertugas mendengarkan segala keluh kesah mereka. Anda ini merupakan pilihan yang menarik karena dengan ‘tarif teman’ alias gratis, sanggup melegakan hati mereka tanpa harus bayar biaya administrasi klinik 125 ribu rupiah.

Menyadari gue telah dimanfaatkan, gue kemudian mencoba taktik ini: berusaha memberikan saran yang paling tidak bisa diterapkan, dan gue tes ke temen gue yang penyakit curhatnya sudah sangat kronis itu. Contoh:
A: Gy, kayaknya uda ga bisa dipertahanin lagi deh…
B: Ya udah! Putus aja!
A: Tapi gy..gue sayang banget sama dia…
B: Yaa..sayang si sayang..tapi kalau uda ga bisa dipertahanin kan?
A: Bukannya kalau gue sayang semuanya mungkin ya?
B: Enggak tuh
A: Loe sayang ga sih sama mantan pacar loe?
B: Banget! Tapi gue tetep putus tuh! Makanya putus aja…
A: Gimana sih gy? Mana2 cewe tuh sabar…kalau gue curhat disuruh pertahanin hubungan…
B:….

Dari conversation barusan, bisa ditebak kalau strategi gue itu GAGAL TOTAL. Bukannya berakhir bahagia, beliau malah menasehati gue, yang jelas-jelas lagi ga curhat. Dan akhirnya dia malah balik sama pacarnya, dan dalam beberapa hari kemudian kembali brantem dan curhat sama gue.

Tingkat kesulitan metode ini memang sangat rendah, secara ga sulit gitu untuk memberikan usulan yang paling mustahil. Tetapi hasilnya juga sangat minim, karena kebanyakan orang curhat itu hanya butuh didengar. Apapun solusinya, atau bahkan kalau kita Cuma bilang “iya..oh ya? Masa si ? terus….Oohh..gitu ya ? “ tetep tidak menurunkan hasrat mencurhat seseorang.

2. Jadilah teman yang buruk
Tingkat keberhasilan : 8
Tingkat kesulitan : 1.5
Risiko : 10

Seorang pacar (sekarang mantan) teman gue adalah pencurhat sejati. Akan tetapi, karena objek curhatan adalah temen gue sendiri itu, dia tidak kuasa curhat kepada pacarnya sendiri. Yang ketiban sial tentunya adalah gue, teman mereka berdua. Tiap hari pada masanya dia curhat, yang gue tanggapi dengan asal, dan sekali lagi membuktikan cara ini gagal total. Bukannya berhenti curhat, beliau malah menganggap gue sebagai anak yang asik, hingga munculnya remark, “kayanya asik dhe kalau gue sama loe aja..” jederrr…bukan Cuma stigma pemakan teman yang segera terbayang di otak gue saat itu, tapi terbayang bahwa cowo baru gue itu nantinya akan merepotkan temen gue yang lain dengan curhat tiap hari dan berakhir dengan beliau selingkuh sama temen baik gue sendiri. After all, sejarah berulang…

Sejak hari itu gue memutuskan untuk memutuskan tali persahabatan kami dengan mencitrakan diri gue sebagai wanita yang sangat jutek, seperti di bawah ini:
A: Gy…gue bête nih sama temen loe..
B : Oh.
A : Loe lg sibuk ya ?
B: Iya
A: Yaa..klo loe sibuk gue curhat sama siapa dong?
B: Ga tau
A: hmm..ya udah deh…loe juga bête ya?
B : Iya, sama loe. Tau ga klo gue tuh ga peduli sama loe, sama pacar loe, sama idup kalian…males banget gue ngedengerinnya.
A: Oh, ok dhe…makasih ya gy…

Manjur! Sangat manjur! Tetapi berisiko tinggi…Setelah pembicaraan tersebut, tidak pernah sekalipun gue mendengar curhatannya lagi. Bahkan setelah beliau dan teman gue putus, tetep tidak pernah dia menghubungi gue lagi. Mungkin curhat itu risiko temenan…

3. Kabur keluar negeri
Tingkat keberhasilan: 9.5
Tingkat kesulitan: 9 (kesulitan ekonomi)

Naa..yang ini sangat gue anjurkan, jika anda kaya raya dan emang udah ga kuat lagi jadi tong sampah. Ini sudah gue coba sendiri! Sejak gue balik ke Jakarta secara mendadak kemarin ini, gue berhasil mengurangi shift gue sebagai penampung curhatan.

Sebenarnya strategi ini sangat mudah, begitu anda kabur, segera ganti nomor handphone, pekerjaan, kalau perlu identitas diri. Abaikan semua email yang masuk dan appear offline-lah secara berkala. Cara ini juga sering diuji oleh koruptor, pembunuh berantai dan mahasiswa Indonesia yang tidak bisa melunasi bond di Singapura. Jika Anda masih dapat juga terdeteksi, maka Anda harus curiga. Jangan-jangan teman anda itu adalah…anggota Komisi Pemberantasan Korupsi…

4. Pura-pura kabur keluar negeri
Tingkat keberhasilan: 8.5
Tingkat kesulitan: 5

Jika pergi keluar negeri tidak visible karena tuntutan pekerjaan atau hambatan ekonomi, jangan khawatir jangan risau, masih ada cara lain yang bisa ditempuh: pura-pura saja.

Ketika telpon masuk dan nada-nadanya bakal curhat, coba bilang, “halo…aduhh..apa ya? Aduhh..kresek-kresek nihh…Halo? Halo? Duh, sorry yah…gue lagi di LOS ANGELES sih…ntar klo gue dah touch back ke tanah air gue hubungin loe yah…” Niscaya si pencurhat akan mikir-mikir lagi untuk curhat selama berjam-jam.

Demikian juga dengan akses internet bisa dibatasi dengan bilang, “Duhh..sorry..selama gue di Timor Leste itu susah banget connect ke internet, klo ada apa2 email aja yah…trus klo sempet gue buka…” Maka si pencurhat akan sedemikian rupa merangkum curhatannya dalam bentuk email yang tertulis secara rapi, tanpa perlu dibalas.

Kelebihan taktik ini adalah fleksibilitasnya. Jika setelah beberapa bulan Anda membutuhkan temen kita yang hobi curhat itu untuk alasan apapun, anda bisa pura-pura sudah balik ke tanah air, dan siap menampung semua curhatannnya. Tapi waspadalah! Jika anda kurang pandai berbohong sangat mungkin teman anda mencium keberadaan anda. Atau jika anda tenar, infotainment akan membocorkan aktivitas terkini anda dan membiarkan teman anda terpaku di hadapan layar kaca dengan perasaan dikhianati…

Sekali lagi, semua metode yang disebutkan diatas tersebut tidak ada yang 100% sempurna. Ada yang punya yang lebih ampuh?

Previous Post
Curhat itu Penyakit
Next Post
Gara-Gara Kondom

0 Comments

Leave a Reply