China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

17

Generasi tanpa mimpi

Untuk Semua nya nuhun…ini sbenernya nulisnya uda dimulai minggu lalu, tapi terdistract sama mas mantan yang numpang lewat di tengah minggu…lalu si bos dateng dari singapur..jadinya baru terpost skarang..tapi kondisi tetep sama kok..tetep ga punya mimpi…
read more

31st October 2008 | 1:06 am |

no

Respon

He’s just not that into me (anymore)

Takdir memang kejam. Of all other places…of all the time…dari smua kafe, rumah makan, pesta, silaturahmi…gue harus ditakdirkan untuk bertemu kembali dengan Mas Mantan di ruang tunggu DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN.
read more

23rd October 2008 | 5:42 am |

no

Respon

Sapa suruh kawin lagi?

Apa rasanya punya tiga orang ibu?

Itulah pertanyaan yang terus menghantui gue setelah bertemu dengan keluarga seorang teman.

“Kenalin, ini nyokap…”

“err..halo…err..tante?”

Gue menyapa dengan canggung. Bagaimana tidak, perempuan yang disebutnya sebagai nyokap itu kira-kira usianya cuma sekitar 2 tahun lebih tua dari gue, padahal teman gue sebaya dengan gue. Berdasarkan pengetahuan, ga mungkin kan beliau hamil pas usia 2 tahun?
read more

12th October 2008 | 11:48 am |

no

Respon