Falling in love with my life (lewat Solo)

Bapak-bapak.

Itulah jawaban gue jika ikut permainan menyebutkan hal pertama yang terlintas dalam benak saat satu kata disebut, dan jika kata tersebut adalah Solo.

 

Gue tidak tahu mengapa alam bawah sadar gue akan mencetuskan kata itu. Mungkin sebagai anak muda kota yang berwawasan dan berpengalaman katak dalam tempurung, gue cuma bisa mengidentikkan Solo dengan batik. Dan batik dengan kondangan. Dan kondangan dengan…bapak-bapak tamu kondangan.

Siti Nurbaya Vs Malin Kundang

Seorang teman telah bertahun-tahun mencintai seorang pria. Seluruh perhatian dan kasihnya hanya untuk sang kekasih. Sayang, takdir berkata lain. Orang tua sang teman tak merestui hubungan mereka karena perbedaan latar belakang. Dengan berat hati sang teman harus rela berpisah dengan pujaan hati. Ia  begitu menderita atas perpisahan ini. Tak mampu ia mencari pengganti. Setelah berbulan-bulan, akhirnya pria lain datang menghampiri. Pria yang bisa membantunya melupakan kekasih lamanya. Dibawanyalah pria yang latar belakangnya sama dengan pria pertama ke hadapan orang tua.

Yang Hamil Yang Beruntung?

This is a just for fun observation…

Ada gosip. Seorang kenalan diberitakan akan melangsungkan MBA alias Married by Accident. Dan gue menanggapi dengan komentar: “Kok bisa sih DIA yang hamil di luar nikah? Gue aja belum…”

Dilema Cinta Lelaki Berbulu Dada

Setelah huru-hara perbukuan dan kejaran oom deadline menulis chicklit mereda, gue akhirnya bisa kembali mendengarkan dan menuliskan kembali cerita keresahan di antara sesama umat manusia. Salah satunya adalah keluhan kisah kasih seorang teman, bahwa pacarnya ternyata berbulu dada.

have a sip of margarita: love, life, journey

have a sip of margarita: love, life, journey, published by AZKA MEDIA, subsidiary of GANECA EXACT, released November 2009.

Have a Sip of Margarita is a compilation of 37 short stories taken from the blog with the same title, revolving around issues matters to the social life of urban community such as relationship, race/gender relationship and identity. The book and the blog have gained positive reviews from magazines and media practitioners.

Ketika Singa Bermulut Besar yang Jahat Menulis Buku

“Gie, itu si X loe apain? Kok nggak kedengeran lagi kabarnya?”

“Nggak gue apa-apain kok, Cuma gue kitik-kitik aja pake kata-kata..”

“Kitik-kitik pake kata-kata! Ngeri banget sih loe!”

“Sungguhlah gue pecinta damai! Tapi dia menggangguku..Belom aja dia gue jadiin pembantu seumur idup!”
“Giee..untung gue temen loe ya?”

Tuhan yang suka menghukum

Sungguhlah orang sombong akan direndahkan. Prestasi di bidang gosip yang amat gue bangga-banggakan ternyata kalah dengan hanya seorang hansip. Zaenudin, atau Udin-lah yang dapat mengetahui dan punya pengaruh untuk menyebarkan siapa yang berselingkuh, berpacaran diam-diam, kawin siri, pulang pagi, atau beli kulkas baru di RT 010/ RW 002 yang termasyur.

Menulis seperti Miyabi

“De, kamu tuh kalau nulis yang kaya Miyabi gitu!”

Emang Miyabi penulis?

“Nulis bokep maksudnya?”

Gue berkerut-kerut mendengar saran si mamih di pagi yang cerah. Beberapa hari lalu ia bertanya siapa Miyabi. Ketika dijelaskan bahwa Miyabi adalah bintang porno Jepang, si Mamih berkomentar heran, “Kok FPI bisa tau ya dia main film apa? Mami aja nggak tau…” ujarnya sambil lalu.

Overheard in Singapore

Gue pernah tinggal selama 4 tahun di Singapur, dan setelah itu masih mengakrabi negeri tersebut beberapa bulan sekali. Tapi gue masih sering terkejut-kejut kaget mendengar percakapan dengan asumsi Uniquely Indonesian. Kaget-kagetan itu membuat gue tidak bisa merespon secara tepat saat itu. Sebagai penebusan rasa bersalah karena gagal menjadi duta bangsa yang menjelaskan lebih jauh tentang Negara junjungan kita semua ini, maka gue pun bermaksud menjelaskannya, disini saja…

A Proud Bitch

It’s just another day in the city, dimana setiap orang yang menggunjingkan yang lainnya, dan dimana setiap orang merasa dirinya lebih baik dari yang digunjingkan atas standard moralnya masing-masing.

Dan sebagai bagian dari hari yang biasa itu, seorang kenalan dengan gaya biasa menyarankan agar gue tidak terlalu dekat dengan kenalan yang lain, perempuan murahan bahkan gratisan ga punya harga diri yang  menggunakan kewanitaannya untuk mendapat kemudahan dalam hidup.

Sambil memasang topeng dan senyum ‘karir’, gue menjawab halus, “Woman, I lived with hookers before, I think I should be able to handle a bitch.” Gue mengangkat gelas kopi stirofoam gue dan meninggalkan lawan bicara ternganga.