A Cruise for Two

Yang males baca, inilah rangkumannya….

Seumur hidup sejak diperkenalkan pada kapal kontainer di Tanjung Priok, impian Marella Cuma satu: naik kapal pesiar. Sayangnya, menjadi seorang creative illustrator dengan gaji 2 juta dan sifat suka hura-hura menjauhkan Marella dari kesempatan membeli tiket kapal pesiar.

Mendadak Chicklit

Tiba-tiba saja gue menulis Chicklit. Tiga hari sebelum Valentine, di saat kehidupan asmara gue begitu datarnya, justru seorang teman menceritakan drama asmaranya yang ganjil dan aneh. Komentar gue saat itu cuma satu, “Chicklit banget sih!”

Temen gue langsung protes, menurutnya kisahnya itu lebih cocok dikategorikan sebagai cerita horror daripada chicklit.

“Tapi aduhh..coba loe liat deh, kalau berakhir kayak gini yah, wahhh…soo sweeeetttt!” gue mengompori. Tentunya temen gue itu langsung melotot protes, “Enak aja akhirnya kayak gitu! Loe aja yang balik sama mantan pacar loe yang…*sensor…komentar rasis yang tidak pantas disebutkan di dalam blog*”

Ambisius!

“Jadi, apa rencana karier Anda dalam sepuluh tahun kedepan?”

Gue menarik nafas panjang. Dan sebanyak pertanyaan tersebut diajukan, sebanyak itulah jawaban gue berubah. Itu sebabnya gue membenci interview pekerjaan. Setiap sessionnya menyadarkan, betapa tidak terencananya hidup gue.