The Brown Bag Gift

Peringatan: Posting di bawah ini mengandung unsur pamer, norak, kampungan yang mungkin memuakkan. Tapi maklumlah! Gue baru  ulang tahun!

 

Tiga hari setelah masuk kuliah di NTU, rekan berbagi kamar di asrama, Jeng Ti melaporkan pengamatannya terhadap pria kampus, “Margie, you want a Louis Vuitton for your birthday, don’t you? Deketin si Abang XYZ! Dia kayaknya tipe cowo yang suatu hari bakal bisa beliin loe LV.”

 

Ya, kami, peraih pendidikan dengan subsidi pemerintah 70%, penerima Singapore Permanent Residency invitation di hari kelulusan, dan penjunjung emansipasi wanita, pun besar dengan dongeng Cinderella. Memimpikan menikah dengan  ban pinggang emas ala Dian Sastro, atau berbulan madu dengan jet pribadi macamnya Nia Ramadhani.

Singapour Van Europe

“Jadi dari kota-kota yang loe kunjungin kemarin, mana yang loe paling suka?” demikian biasanya pertanyaan lanjutan setelah cerita dua lembar A4 bolak balik tentang ziarah Eropa gue,

“Paris dong!” Gue menjawab antusias, as if gue bisa segera kembali dan menetap di kota pilihan.

“Lho bukannya Paris jorok ya? Loe bukannya lama di Monte Carlo? Cantik banget kan tempatnya? Tinggal di hotel mewah pula!”

“Tapi Paris tuh a real city! Monaco tuh cuma tempat turis, nggak real!”

Lawan bicara menatap gue aneh mendengar alibi yang tidak masuk akal itu.

Mengantri di Paris

Jika ada yang bertanya, apa pengalaman paling unik selama gue di Paris, gue akan menjawab: Mengantri.
Beli karcis masuk Chateaux Versailles, antri menguler-uler.
Masuk tamannya, ngantri lagi.
Masuk Le Petit Trianon, tempat tinggal Maria Antoinette, antri.
Ke tempat kaisarnya, antri juga.
Naik kapal di sungai Seine, antri.
Naik menara Eiffel, antri.
Naik ke menara Notre Dame de Paris, antri.
Naik funiculaire ke Montmarne, antri berdesak-desakan.
Masuk Louis Vuitton, antri.
Menunggu dilayani dalam toko Louis Vuitton, antri.
Mencari stok tas yang belum tentu ada, antri.
Bayarnya, antri.
Minta kembalian pajak, antri
Dan kalau gue bilang antri, bukan antrian tidak berbahaya yang berakhir sebelum terasa, tapi antrian berjam-jam yang traumatis dan bisa membuat putus asa.

Roma dan tuhan yang baru

Sebagai seorang Katolik (self-proclaimed) yang pernah menulis untuk majalah rohani (sungguhan), tentu Roma ada dalam salah satu daftar teratas rencana tempat yang wajib dikunjungi (kalau punya duit). Roma, kalau gue boleh menyebut, adalah simbol peradaban Katolik.

 

Caput Mundi, The Capital of the World, pusat penyebaran agama Katolik setelah usainya era salah satu peradaban termasyur dunia, Romawi. Berziarah ke Roma, seperti naik haji buat orang dengan pengetahuan agama terbatas macam gue.

Modal Ngimpi

Untuk semuanya 1999. Sebuah majalah Vogue menjadi racun bagi dunia gadis muda saat menampilkan feature tentang sepasang kembar pemilik sebuah usaha mode yang tinggal di  sebuah penthouse di jalan  Champs-Elysees, Paris.

Otak muda gue langsung terbakar cemburu melihat kemewahan yang digambarkan. Gue ingin mencoba tinggal di sebuah penthouse. Gue membayangkan mandi di kamar yang lebih besar dari kamar tidur gue itu. Halusnya handuknya, hangatnya airnya, indahnya pemandangan di luar jendela.

AFTER ORCHARD

AFTER ORCHARD, published by PENERBIT BUKU KOMPAS, a subsidiary of PT KOMPAS-GRAMEDIA, released September 2010. After Orchard is a personal note of living and studying in Singapore, an experience beyond touristic exposure that often impresses Indonesians.

Balada Bimbo

Admit it. I’m a bimbo. A real, life-size, true blue bimbo. Gue bangga dan menjaga dengan ketat kulit kuning langsat gue. Gue adalah pasien favorit dokter kulit, selalu rutin membeli segala paket perawatn meski muka sedang tidak berjerawat sekalipun. Penampilan adalah sebagian dari iman, dan layaknya mencari kunci surga, gue dengan taat mengikuti tips kecantikan dan mode terbaru.

 

Salah satu pencapaian gue di dunia kebimboan yang sulit ditandingi adalah berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu jenis minuman beralkohol di sebuah klub ternama Singapura. Passion Margarita—yang mengindikasikan berapa sering gue mengunjungi klub tersebut dan bagaimana tingkah polah serta penampilan gue saat di sana.

Baik Kecil dan Baik Besar

Sudirman-Kelapa Gading, pada kondisi jalanan ‘normal’, sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu 20 menit. Jika macet berat seperti pada jam pulang kantor atau jam berapa saja di bulan Ramadan, perjalanan bisa makan waktu 1,5 jam. Tapi di dini hari itu, di saat jalanan telah lengang ditinggal penggunanya, butuh 2.5   jam penuh untuk gue sampai di rumah.

Melankolis

Such an irony, how a minute awaited for long

Could just pass with nothing done

Or probably the best way a moment could happen

Is by letting that moment takes part, and us giving in?

Isi Otak Seorang Plagiat

Bisakah seseorang menjadi saksi kontes foto romantis yang sama? Bisakah seseorang punya mantan pacar yang sama? Bisakah seseorang mendapat inspirasi yang sama? Dan bisakah inspirasi itu dituangkan dengan cara yang sama?