China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

13-arc-de-triomphe_0

Mencari Kucing Garong yang Sopan

“BUUU!! KUCINGNYA NAKAL!!! NAIK KE ATAS UGE!!”

“APAAAAAA??? KURANG AJAR!!! CIYATTTT!!!!”

Dengan perkasa si mamih langsung menyabet dengan ujung sapu si kucing gendut yang sedang tidur siang sambil menggaruk-garuk atap UGe, mobil semata wayang gue. Kucing gendut langsung melompat panik.  Bulunya rontok bertebaran.

Sesaat gue melemparkan senyum penuh kemenangan. Kucing gendut membalas dengan cibiran licik. Dicakar-cakarnya UGe dengan kalap sebelum meloloskan diri dari sela-sela pagar. “KUCING!! AWAS LOE BERANI KESINI LAGI! GUE JEPITTTT!!!”

read more

26th April 2010 | 7:36 am |

no

Respon

Unlikeliest Friend in the Unlikeliest Place

Tukang pos mampir di rumah gue awal minggu ini. Sebuah postcard bergambar kastil di Jerman kini terpajang di atas meja. Dibaliknya, penuh dengan tulisan tangan sangat rapi ukuran seorang pria, berkisah tentang nikmatnya makan dengkul babi di tanah kelahiran kakak ipar gue. Dan gue menjerit,

read more

13th April 2010 | 10:49 am |

no

Respon

Cina Tanggung

Lobby Hotel

“Ibu Margarita!” Menoleh, mencari suara yang memanggil.

“Ah! Saya langsung ngenalin Ibu! Habis beda sih rupanya! Ibu orang apa ya?”

“Jakarta, Pak!”

“Ah, masa asli Jakarta?”

“Err..iya deh, Cina, Pak.”

“Bukan ah! Cina nggak kaya gini wajahnya! Bapak orang mana? Ibu?”

Menghela nafas panjang, terpaksa harus menjabarkan panjang lebar “Bapak campuran Jawa dan Cina. Ibu campuran Cina dan Betawi asli. Jadi saya 50% Cina, 25% Jawa, 25% Arab-Betawi.”

“Naa gitu baru pas, empat macam! Makanya saya nggak bisa nebak!”

“Tiga dong, pak, kan Cina-nya disebut dua kali.”

“Tapi Betawi harus dipisahkan dari Arab-nya.”

“Atur aja, Pak…”

read more

6th April 2010 | 10:25 am |

one

Respon