15 49.0138 8.38624 1 0 4000 1 http://www.margarita.web.id 300 0

Singapour Van Europe

0 Comments

“Jadi dari kota-kota yang loe kunjungin kemarin, mana yang loe paling suka?” demikian biasanya pertanyaan lanjutan setelah cerita dua lembar A4 bolak balik tentang ziarah Eropa gue,

“Paris dong!” Gue menjawab antusias, as if gue bisa segera kembali dan menetap di kota pilihan.

“Lho bukannya Paris jorok ya? Loe bukannya lama di Monte Carlo? Cantik banget kan tempatnya? Tinggal di hotel mewah pula!”

“Tapi Paris tuh a real city! Monaco tuh cuma tempat turis, nggak real!”

Lawan bicara menatap gue aneh mendengar alibi yang tidak masuk akal itu.

Memang, di antara Paris, Rome, Nice, Cannes dan Monte Carlo, yang terakhirlah yang paling ‘Eropa’ sesuai bayangan masyarakat dunia ketiga macam gue. Kotanya indah, persis nge-jogrog di tepi Laut Mediterania yang warnanya azzura. Ukurannya juga pas, kecil mungil bersih tertata rapi.

 

Nggak ada yang jelek di kota ini. Isinya cuma kasino, hotel mewah, kafe-kafe cantik pinggir laut, club eksklusif, apartemen mewah dan yacht, a lot of it… Kalaupun ada bangunan dari dekade yang silam, semuanya terlihat serasi dengan cat tembok yang seragam, warna krem Mediterania (persis kayak apartemen salah kostum di Jakarta itu) atau biru telor asin.

 

Kotanya berbukit-bukit, tapi jangan khawatir! Ada lift dipasang di jalan umum. Naik turun pantang cape. Jalanan banyak yang sempit, tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan hingga larut malam. Nampaknya masyarakat di sini tajir semua, sehingga tidak pernah ada kerisauan jambreta dan copetta. Jalanan terowongan ditaburi glitter. Pokoknya, Monte Carlo adalah kota tanpa cela!

 

Tapi, keteraturan, keindahan, kesempurnaan Monte Carlo justru membuat gue merasa tidak nyaman. Monaco mengingatkan gue pada  kota lain yang nilainya 100,5 di mata orang Indonesia. Kota yang teratur, indah, dan sempurna.

 

Monaco di mata gue adalah Singapore Van Europe. Salahkan gue yang bersikap subjektif, pilih kasih dan tidak adil. Monaco memang bukan Singapur dan gue tidak tinggal cukup lama di sana untuk main hakim sendiri.

 

Tapi tinggal di Singapura telah menyadarkan gue bahwa hidup seharusnya memang tidak sempurna. Tanpa cacad bukanlah ciri alami kehidupan dan karenanya, sesuatu yang sempurna pastilah punya kekurangan besar. Atau kalaupun memang sempurna, dibuat dari sesuatu yang artifisial.

 

Singapura memang cantik, teratur, bersih, rapi, hijau, surga belanja. Tapi semua itu diciptakan dengan menghilangkan sisi manusiawi masyarakat penyusunnya, dalam sistem persaingan ketat yang menyingkirkan mereka yang dianggap tidak layak. Semua unek-unek yang gue tuangkan dalam buku After Orchard itu.

 

Dan, berada dalam kota yang cantik, teratur, bersih, rapi, hijau, surga belanja (merk) ini membuat gue bertanya-tanya jikalau ada hal yang sama salahnya bisa terjadi di sini. Gue tidak merasa ini adalah kota sesungguhnya, tempat orang sungguhan hidup. Setidaknya, gue tidak merasakan ada orang yang tinggal di kota mungil ini. Semua adalah turis, dan orang kaya yang hanya bisa gue khayalkan itu.

 

Toko-toko dengan serempak tutup jam 7 malam. Seolah-olah satu kota tidak ada yang butuh duit. Bahkan tidak ada imigran-imigran Asia yang suka jualan souvenir 24 jam nonstop itu. Satu-satunya tempat atraksi yang menurut gue cukup seru, hanyalah Jardin Exotique, taman kaktus yang tentunya tidak untuk dikunjungi lebih dari sekali.

 

Meski hidup dalam kenyamanan hotel bintang lima, gue tetap jauh lebih lega saat bertandang ke kota-kota pinggir Cote d’Azurre lainnya seperti Cannes dan Nice. Sama cantiknya, lautnya masih tiga warna dan langitnya masih biru terang, tapi bahkan kota-kota ini terasa lebih hidup dan lebih nyata dibandingkan Monte Carlo.

 

Tentu saja selain sama-sama city-state, sama-sama sempurna dan sama-sama tidak punya banyak atraksi wisata, Monaco tidak punya kemiripan lain dengan Singapura. Setidaknya, warga Monaco lebih ramah dan punya pantai sungguhan…Malah Monaco punya kemiripan lebih dengan Indonesia. Benderanya sama!

 

Monaco dan Southern French bisa diintip di sini!

Previous Post
Mengantri di Paris
Next Post
The Brown Bag Gift

0 Comments

Leave a Reply