Life Ends at 90s

Yang kurang, mungkin hanya lagu New Kids on the Block, gue berpikir saat membuka jendela mobil lebar-lebar mengharapkan udara segar pegunungan, meski hidung langsung tersumbat asap knalpot angkot di hadapan.

Berbekal alasan mengejar MoU dan bermaksud mengajak kerja sama blogger yang ‘sayangnya’ bermarkas di Cisarua, gue dan seorang teammate berhasil piknik ke Puncak memanfaatkan mobil kantor dan jam kerja di Jumat yang indah. Tentu saja, ini jadi piknik yang sangat berarti bagi kami berdua, apalagi ditambah semangat nostalgia.

Gawat-Darurat

Nit..nit…nit…nit… Suara alat deteksi jantung dari pasien di sebelah gue itu terdengar nyaring di telinga. Nit…nit…nit….NITNITNITNITNITNITNITNITNIT… Ada yang nggak beres nih, aduh, kok bunyinya kedengerannya nggak sehat sih? Suster…Suster…

Mega-Wedding

“Pelaminannya dari kaca yang diukir! Seluruhnya! Lalu ditembakkin laser!”

“Iya, gue denger juga bajunya nggak sembarangan, dari perancang siapa tuh? Yang ngetop banget di New York?”
“Pokoknya bener-bener Mega-Wedding dah!”

Demikian pembicaraan dalam taksi siang itu, tentang sebuah pesta pernikahan kenalan yang konon digelar gede-gedean dan menghabiskan biaya M-M-an.Mendengar konsep ini, gue langsung mengirim pesan singkat pada Oknum R.

“Konsep pernikahan loe di Bali sudah kurang gres lagi!”

“Oh gitu ya? Emang sekarang harus yang kayak gimana?
“Gue denger dari temen gue, konsepnya Mega-Wedding!”

“Emang Mega-Wedding apaan sih?”

Dumped and Dumber

Have you ever seen a girl and think that if you were a boy, you would dump her too exactly the way her ex-boyfriend did?

Have you ever seen another girl and think that if you were her boyfriend, you would cheat on her exactly the way he was?

Gue, dengan hati yang keji dan penuh kejahatan, tentu saja, pernah.

Gangsta’

Kalau lembar hasil laboratorium itu adalah hasil ujian, gue sudah pasti tidak lulus.

Setelah empat hari mengalami demam tinggi 40 derajat Celsius secara konstan siang dan malam, gue dianjurkan untuk tes darah. Curiganya, kalau bukan tifus, mungkin demam berdarah, atau penyakit dalam lainnya. Maka gue dites untuk berbagai penyakit tersebut. Yang hasilnya menyimpang dari normal diberi warna merah, yang baik-baik saja warna hitam.

Lembar itu, bewarna merah nyaris di semua bagian. Virus demam berdarah berkomplotan dengan bakteri tifus, didukung virus campak dan juga gangguan liver untuk menyerang badan. Paket combo. Gue masuk rumah sakit seketika.

Midnight in Paris : A first World City that isn’t Really No.1

Namanya juga baru dari Paris, jelas harus nonton film yang berbau Paris dong, biar makin terkenang-kenang menelusuri Champ-Elysees dan foto bareng menara Eiffel lagi. Wajar saja gue langsung memilih film ‘Midnight in Paris’ garapan Woody Allen sebagai salah satu peneman perjalanan 12 jam, saat gue menyadari kenyataan pahit : gue kini kebal Antimo…

Sesaat setelah film diputar gue langsung ber-ooh dan ber-ahh menikmati sinematografi manis yang membalut kisah seorang penulis yang ingin tinggal di Paris karena terkenang masa jaya seni era Picasso dan Dali di awal abad ke-20 ini.

Keajaiban yang terjadi setiap Paris memasuki tengah malam, saat ia terlempar sungguh ke abad impian, menjalin cinta dengan Adriana, kekasih Hemmingway, digambarkan dengan latar jalan-jalan dan bangunan kuno khas Paris, Montmarne, dan kafe-kafe mungil pinggir jalan yang selalu punya croissant enak.

Umur itu Relatif

I swear this kind of things only happen to me.

Saat gue mengetahui bahwa rancangan meng-‘umroh’-kan orang tua ke Eropa adalah sama dengan rencana seorang kenalan, whom I shared living quarter before, berbulan madu, gue tidak punya perasaan jelek sama sekali.

Bahkan meski ada peristiwa ganjil saat beliau menyatakan bahwa yang ia rasakan pada gue sungguhlah cinta, lewat messenger-setelah bertahun-tahun tak terdengar kabar- dua minggu sebelum pernikahannya, gue tetap positif.

Hepatitis Membawa Berkah

Semua berawal dari hepatitis A…

Dan kalimat awalan sebuah cerita di www.aksisemangat.com itu berhasil membuat gue tertawa terbahak-bahak. Kalau ada yang berani mengaku punya kedekatan khusus pada penyakit hepatitis, gue-lah orangnya. Betapa tidak, kalau banyak orang diingatkan untuk tidak kena hepatitis sampai dua kali, gue sudah merasakan penyakit itu selama empat kali.

Seproduktif Ibu 15 Anak

Ibu selalu bilang kalau gue seperti hidup dengan tanggungan 15 anak.

Ada masanya gue menjalani tiga pekerjaan sekaligus. Yang pertama adalah pekerjaan tetap, sistem kerja pagi hingga sore, di sebuah perusahaan multinasional. Yang kedua adalah menulis buku, ditargetkan satu setiap bulan sebelum istirahat sedikit demi mengatur layout, editing dan cover. Yang ketiga adalah menjadi seorang penulis lepas atau sekadar memberi arahan editorial secara anonim.

Listen

“Mau pergi ke mana?”

“Ke pasar, beli pupuk.”

“Beli krupuk terus, yang kemarin aja masih belum digoreng, masa udah mau beli krupuk lagi?”

“PUPUK bukan KRUPUK!”