Pura-pura toleran

“Mbak, Markus Horison itu Islam apa Kristen, sih?” supir taksi memecah lamunan gue yang sudah berlayar ke pulau impian, saat memasuki gerbang Ancol untuk pergi tahun baruan di Pulau Kaliage.

“Hah? Kayaknya Islam, deh, Pak, kan suaminya Kiki Amalia, Kiki-nya Islam,” gue menjawab asal.

“Iya, saya juga pikir begitu, tapi kemarin anak saya yang umur tujuh tahun nanyain, papa, kok namanya kayak yang di alkitab, saya jadi bingung, saya jawab aja, ini Markus-nya lain, bukan yang di alkitab, tapi yang di Al-Quran.”

“Emang di Al-Quran ada Markus?”

The Battle of the Call Center

Seorang teman duduk di pojok dekat tangga darurat sambil menggenggam handphone. Ia nampak berbicara serius. Tiba-tiba suaranya meninggi, INI KAN JUGA BUKAN SALAHKU! Wajahnya merah padam. Sang teman masih terus dengan tegang mendengarkan lawan bicara. Setelah beberapa saat, ia mulai menangis.

 

Usai menelepon gue menghampiri penuh hasrat bergosip, “telepon siapa sih?”
“Customer Service.”

“Ohhh..pantes…” gue mengangguk-angguk penuh simpati.Bicara dengan customer servicememang bisa menguras emosi semacam bicara dengan pacar yang selingkuh.