The New Majority

“Lu pulang kagak bawa pacar?” tanya mamih, sesaat setelah gue menyelesaikan ziarah Eropa gue 3 minggu. “Kagak,” gue menjawab datar “Ah elu mah di sono kagak mau nyari, ntar di sini dapetnya yang beda agama lagi,” mamih berkomentar kuciwa. “ Yee Mak, Eropa sekarang udah nggak kayak dulu lagi! Udah ada pergeseran tren mayoritas!” gue berargumen. read more

24-sepotong-surga

Midnight in Paris : A first World City that isn’t Really No.1

Namanya juga baru dari Paris, jelas harus nonton film yang berbau Paris dong, biar makin terkenang-kenang menelusuri Champ-Elysees dan foto bareng menara Eiffel lagi. Wajar saja gue langsung memilih film ‘Midnight in Paris’ garapan Woody Allen sebagai salah satu peneman perjalanan 12 jam, saat gue menyadari kenyataan pahit : gue kini kebal Antimo…

Sesaat setelah film diputar gue langsung ber-ooh dan ber-ahh menikmati sinematografi manis yang membalut kisah seorang penulis yang ingin tinggal di Paris karena terkenang masa jaya seni era Picasso dan Dali di awal abad ke-20 ini.

Keajaiban yang terjadi setiap Paris memasuki tengah malam, saat ia terlempar sungguh ke abad impian, menjalin cinta dengan Adriana, kekasih Hemmingway, digambarkan dengan latar jalan-jalan dan bangunan kuno khas Paris, Montmarne, dan kafe-kafe mungil pinggir jalan yang selalu punya croissant enak.

read more

26th September 2011 | 12:26 pm |

14

Respon

Umur itu Relatif

I swear this kind of things only happen to me.

Saat gue mengetahui bahwa rancangan meng-‘umroh’-kan orang tua ke Eropa adalah sama dengan rencana seorang kenalan, whom I shared living quarter before, berbulan madu, gue tidak punya perasaan jelek sama sekali.

Bahkan meski ada peristiwa ganjil saat beliau menyatakan bahwa yang ia rasakan pada gue sungguhlah cinta, lewat messenger-setelah bertahun-tahun tak terdengar kabar- dua minggu sebelum pernikahannya, gue tetap positif.

read more

11th September 2011 | 12:04 pm |

26

Respon