Lesson from the Most Expensive Country

Ini kok tiap kali makan selalu sejuta, sih? Begitu si mamih protes, ketika melihat tagihan makan kali ini.

 

Sebenarnya ketika pertama kali berencana pergi berlibur ke Swiss, kami sudah mempersiapkan mental. Swiss konon merupakan salah satu negara termahal di Eropa. Sedangkan Zermatt dan St Moritz, adalah dua resor ski yang dianggap eksklusif di sana.

 

Ati-ati loe, di sana pokoknya ga ada yang harganya di bawah sejuta, demikian Oknum R memperingatkan saat itu. Dengan peringatan macam itu, tentu kami sekeluarga lebih berhati-hati membelanjakan uang.

 

Makan siang pertama kami sederhana, tidak dengan appetizer lalu dessert macamnya keluarga koruptor lagi jalan-jalan. Hanya rosti dengan susis menghabiskan uang senilai sejutaan. Ok, ini mahal, kami bersepakat, dan bertekad untuk tidak makan malam.

Koper Melawan Ransel

Koper atau ransel?
Beberapa tahun yang lalu sempat ada sebuah acara TV yang mengusung tema ini. Tentang dua orang yang melakukan perjalanan ke tempat yang sama, tapi dengan gaya yang berbeda.

 

Koper, melambangkan perjalanan yang ‘lux’. Namanya juga bawa koper, pasti nggak bisa dipanggul-panggul berjam-jam ke atas gunung. Nggak bisa juga digeret-geret ke hotel terpencil yang jalanannya rusak. Koper, cocoknya diturunin dari mobil lalu masuk ke lobby hotel. Yang mewah, kalau bisa.

 

Sedangkan ransel, mewakili genre travel sebaliknya. Genre yang lebih susah. Yang tinggal di tempat-tempat termurah, yang dicapai dengan cara yang sulit juga. Kalau ditaroh di depan hotel bisa-bisa dianggap buntelan sampah. Namun biasanya, para wisatawan ransel jadi bisa mengunjungi lebih banyak tempat dan mendapat lebih banyak pengalaman.

 

Jadi, koper atau ransel?

Kalau gue pribadi, tentu pilih yang koper dong. Siapa sih yang nggak suka kenyamanan hidup? Lagipula di mana gue harus menaruh berbagai barang rempong gue itu, alat make-up, obat cuci muka dan serangkaian suplemen diet? Di ransel nggak keren. Di tas selempang bisa membuat skoliosis.

 

Namun sayangnya, dengan keterbatasan dana dan niat jalan-jalan yang sedikit terlalu besar, gue lebih sering berakhir memilih cara ransel. Tinggal di mana saja OK asalkan terdapat cadangan air bersih. Kalau pergi harus dengan pesawat yang sedikit mengancam nyawa, ya sudah lah, daripada nggak berangkat.

 

Terlalu seringnya gue ‘terpaksa’ mengambil opsi ransel, hingga akhirnya gue sudah lupa rasanya jalan-jalan ala koper. Dan ketika saat ke Gili Trawangan kemarin gue kembali berkesempatan menikmati akomodasi ‘koper’, tiba-tiba gue merasa tidak nyaman dan ingin kembali nge-ransel.

 

Gue mengawali perjalanan gue dengan cara yang gue kenal, cara ransel. Tiba di Lombok tengah malam, gue menginap di sebuah hotel di kawasan kota Mataram, dekat Matahari Department Store, jauh dari pantai yang seharusnya adalah cita rasa jalan-jalan ke Lombok. Semalamnya kurang dari Rp. 500,000,-

 

Nggak masalah, yang penting gue bisa merebahkan diri di malam hari. Kamar bersih dan ada HBO, bahkan ada kolam renang. Perkara esok paginya gue bangun seolah di tengah taman kota karena banyak yang piknik, ah sudahlah, itu kan hanya lima menit yang canggung.

 

Gue kemudian menyeberang ke Gili Trawangan dengan kapal penumpang umum. Kapal yang ketika ditanya ‘berangkat jam berapa?’ jawabannya adalah ‘nanti kalau sudah 25 orang’. Kenyataannya kapal berkapasitas 40 orang itu diisi penuh hingga 60 orang. Plus koper gue yang tetap gigih mempertahankan status meski sedang naik transportasi ransel.

 

Di Gili, berkat entah liburan apa yang membuat kepadatan hotel mencapai angka fantastis 80%, gue tidak tinggal di hotel paling wah di sana. Sebuah villa dekat daerah barat yang lebih sepi. Nggak masalah sama sekali. Meski mereka memasang keran air panas terbalik, air panasnya sempurna. Sarapan juga penuh charge plus plus, tapi secara kuantitas dan rasa, cukup baik.

 

Lagipula, ini Gili. Tempat di mana setiap orang tanpa peduli kasta dan golongan dapat goler-goler di pantai berpasir putih sambil mendengar musik reggae dan teler dengan substansi lokal. We are family, every little things is gonna be alright.

 

Gue menikmati perjalanan naik‘public boat keliling Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Jauh lebih murah, dan super puas dengan durasi yang panjang, meski tetap kelebihan muatan dan habis-habisan dikeroyok ubur-ubur.

 

Lalu gue kembali ke Lombok, untuk menginap di daerah Senggigi. Tinggal di hotel bintang lima yang punya private beach. Ini harusnya jadi highlight. Akhirnya jati diri koper gue dapat dipuaskan. Namun berada di tempat di mana koper gue akhirnya tidak saltum, gue malah merasa risih.

 

Tentu saja, senyum manis menyapa gue ketika tiba di pelabuhan. Ada penjemputan dengan mobil berlogo hotel. Senyum yang sama lebarnya, sama bentuknya juga menyambut gue di hotel, lengkap dengan minuman selamat datang.

 

Namun gue tidak bisa menghilangkan rasa merinding, membayangkan, betapa palsunya senyum itu. Betapa jika gue bukan tamu hotel ini, gue bakal ditendang keluar tanpa ada senyum setipis apapun. Bayangan yang mungkin juga muncul karena itulah yang persis terjadi sehari sebelumnya.

 

Ketika minta dijemput di pelabuhan, gue ditanya berkali-kali apakah gue benar-benar akan tinggal di hotel tersebut. Meskipun sudah ada daftar tamu yang harusnya terkomputerisasi, mereka tetap menggunakan momen ini untuk membuat gue merasa rendah diri dan bertanya-tanya apakah gue sungguh layak tinggal di hotel mereka.

 

Seolah bagian dari klarifikasi, gue berkali-kali juga di mana gue tinggal di Gili Trawangan. Apakah di resor terhits di sana? Tidak, gue jawab. Dan terdengar nada ‘ooo…’ panjang yang seolah bertanya jika gue tidak mampu membayar resor hits itu, apakah mampu gue membayar sebuah hotel chain internasional?

 

Dan setelah berhasil menemukan nama gue di daftar tamu, sebagai penutup mereka kembali menegaskan bahwa fasilitas ini di luar fasilitas hotel, dan harap gue sungguh-sungguh membayarnya lunas. Oh, nggak ada cicilan nol persen ya mas? Sebuah pertanyaan dan jawaban yang redundant menurut gue, karena kalau gue nggak tinggal di situ ngapain juga gue minta dianter ke daerah jin buang anak?

 

Kembali ke hotel mewah, gue menemukan gue sama sekali tidak menikmati pengalaman gue. Ya, tentu saja gue naik Fortuner ke mana-mana. Tentu saja ada seribu pelayan yang mengantar makanan, menegur kiri kanan, mengambilkan handuk. Tapi semuanya begitu commercialized.

 

Tidak ada keramahan dan semangat ingin membantu yang terasa kental di setiap guest house dan villa yang gue tinggali. Semua yang ada di sini kerja, mungkin dengan gaji yang minim dan jam kerja yang panjang. Wajar saja tidak ada yang ingin melakukan extra miles. Semua usaha dihitung dengan uang.

 

Gue akan dibawa ke pusat kerajinan mutiara yang mahal melintir. Tipe yang akan memberi komisi pada supir. Harga diantar naik mobil makan ayam taliwang bisa lebih mahal daripada harga tur public boat gue satu hari. Dan, melangkah keluar hotel menuju pantai, gue langsung dikerubuti preman dan pedagang asongan, meyakini gue adalah bank baru bagi mereka.

 

Gue bertanya-tanya apakah gue sekadar menjadi manusia sinis yang karena ketidakmampuannya mencela segala kemapanan dunia. Namun, mengawali kesukaan jalan-jalan dari sebuah perjalanan jurnalistik, gue menyadari penuh betapa pentingnya interaksi manusia dalam sebuah perjalanan.

 

It’s all that makes it meaningful. Gue hanya kangen diperlakukan seperti manusia biasa, bukan nyonyah, bukan juga gembel. Kangen berkawan dengan resepsionis. Bertukar canda tanpa harus dicurigai gila atau harus membayar extra charge. Gue kangen kehangatan pemilik usaha yang karena membuka hotelnya dengan penuh cinta, dapat selalu membagikannya pada tamunya.

 

Berada dalam mobil mewah sendirian gue malah bosan. Gue tidak bisa mengamati beragam penumpang kapal kotok dan berusaha mengidentifikasikan apakah mereka datang dari Surabaya, Jakarta, atau Lombok. Atau mengetahui bagaimana turis dari London, Lyon, dan kota besar lainnya menilai Indonesia lewat Gili Trawangan, seperti dalam sebuah public boat.

 

Lagipula, secara mengejutkan, bukan berarti standar akomodasinya jadi lebih tinggi, lho! Hotel besar yang punya ratusan kamar itu selalu berjuang melawan penuaan dan perawatan berbiaya besar. Akhirnya cenderung kuno dan kamarnya jadi kecil-kecil.

 

Masuk kamar di hotel mewah Senggigi itu gue langsung protes. Kamar mandi gue di villa tak dikenal di Gili Trawangan gue itu jauh lebih besar dan mewah dibandingkan kamar tidurnya.

 

Buffet breakfast besar yang melimpah ruah dengan iringan denting piano juga tidak membuat gue terkesima. Akhirnya, gue toh cuma akan mengambil beberapa piring makanan, membiarkan sisanya dibuang percuma.

 

Dan apa yang ada di piring gue itu dingin, tidak khas daerah, tidak selezat makan di pinggir pantai Gili Trawangan. Jusnya palsu, bukan jus asli seperti welcome drink di Gili Trawangan.

 

Nampaknya koper melawan ransel itu harus direvisi. Bukan standar bintangnya yang mengidentifikasikan, melainkan pengalaman yang diberikan. Di setiap boutique villa yang gue singgahi, gue merasa jadi penting. Setiap orang di sana sangat ramah dan selalu siap membantu, mulai dari menjelaskan peta hingga mencarikan sepeda tandem. Di situ, gue merasa senyaman menggulingkan koper saat berjalan.

 

Sebaliknya, di hotel mewah berbintang gue merasa jadi rakyat semenjana. Seperti ada notion bahwa gue ini hanya dianggap penting hari ini saja, besok, jadi pembantu lagi. Gue mendapat fasilitas namun merasa kaku. Yang rasanya seperti ini, di Jakarta juga banyak ketika bekerja. Ngapain gue jauh-jauh ke Lombok kalau rasanya seperti di kantor? Rasanya seperti memanggul ransel 15 kg ke atas gunung.

 

Tentu saja, itu semua tanpa menghilangkan esensi rasa yang harus kualitas internasional. Kamar yang bersih dan nyaman, makanan standar master chef, dan skala keamanan juga harus terjamin. Kadang, memang semua itu ada pada sebuah standar hotel berbintang. Tapi terkadang, bintang di langit lebih menjamin!

Vervelen Jij!*

Yang kayak gini nih yang ngejajah Indonesia lama banget?

Begitulah reaksi pertama yang muncul ketika gue sekeluarga mendarat untuk pertama kalinya di bandara Schipol Amsterdam: Ngenye.

 

Ini bukan kali pertama gue di Eropa. Dan dua perjalanan mengelilingi benua yang dulunya masyur ini sudah mengajarkan gue untuk  menurunkan ekspektasi. Gue tidak akan melihat kemajuan, kebersihan dan keindahan seperti di Singapura, Jepang, atau Korea Selatan.

 

Tapi jujur saja, gue punya ekspektasi lebih terhadap Belanda. Maksudnya, ini negara yang berhasil menindas dan memaksa bangsa gue yang dikenal malas ini untuk kerja paksa 350 tahun gitu loh. Pasti mereka pinter banget kan? Maju banget kan?

 

Maklum, gue ini representasi kebanyakan manusia Indonesia lainnya, yang masih suka mengkondisikan diri gue menjadi obyek jajahan budaya. Apa-apa yang datang dari luar itu keren, bagus, dan cenggih. Pokoknya superior deh.

 

Apalagi yang dari Belanda. Meski sudah melepaskan diri dari kumpeni 68 tahun, sesuatu yang buatan Belanda itu masih nge-tren. Yang Holland-spreken masih suka menyebut dirinya ik dan menyebut orang lain jij.

 

Yang turunan Belanda akan dengan bangga mendeklarasikan sebagai turunan Belanda, biarpun tinggal nenek dari pihak ibu yang punya darah campuran. Yang kaya masih ada yang pingin anaknya makan keju Belanda, minum susu Belanda, bahkan pakai koteks Belanda.

 

Kalau mau sombong, di rumah gue masih menyimpan kain pel dari Belanda, koyo Belanda, dan sandal jepit Belanda. Sendal jepit, bukan klompen, dan itu menunjukkan betapa gue sangat meyakini barang Belanda lebih superior dari barang Indonesia bahkan hingga karet sandal jepit sekalipun.

 

Wajar saja, gue jadi punya harapan lebih pada Belanda. Ini pasti ga sejorok Paris. Ini pasti lebih modern daripada Itali. Mungkin harusnya bandaranya sekelas Changi Airport.

 

Lalu gue ke Belanda dan hal pertama yang gue lihat adalah sisi belalai gajah pesawat yang karatan.

 

 

Prang

Prang

Prang

 

Langsung hancurlah segala  pengharapan. Terlebih gue tiba satu hari setelah gay parade di hari Minggu. Petugas kebersihan pada libur. Alhasil gue disajikan dengan pemandangan kanal penuh sampah mengambang-ngambang, WC pesing dan kaca jendela bandara yang penuh bercak tangan.

 

Yang ada, gue dan mamih malah bermain membanding-bandingkan bandara megah ini dengan bandara domestik Indonesia. Kalau sama terminal 3 Soekarno Hatta mah lewat, jangan bandingin sama ibu kota dong. Kalau Ngurah Rai? Iya boleh tuh, tapi yang sebelum direnov ya… Oh, Hang Nadim kali ya? Iya tapi kayaknya bersihan Hang Nadim juga deh. Ini! Adi Sucipto! Nah agak mirip!

 

Gue sampai ketawa ngakak-ngakak ketika petugas imigrasi berusaha meminta jaminan gue bakal keluar dari negara ini setelah visa gue expire. Ih, jangan khawatir meneer, siapa juga yang mau tinggal di sini, enakan negara saya kok! Sampai si meneer bingung dan heran sendiri melihat gue ketawa-tawa.

 

Saat itu gue teringat beberapa hari sebelumnya bertemu dengan seorang anak pengusaha lulusan barat yang nampaknya susah move on dari kenangan masa kuliahnya. Ia mengeluhkan betapa orang Indonesia itu punya mental yang bobrok. Perlu di-upgrade. Makanya negaranya ga maju. Harus belajar dari Amerika, dari negara Barat, yang PD besar, sehingga sakses.

 

Tiba-tiba gue merasa marah.

Sangat marah.

 

Siapa kemarin yang berani ngatain negara gue tertinggal? Siapa yang berani nyuruh gue belajar ke negara lain? Di saat gue pergi ke negara lain dan masih bisa menemukan banyak hal yang negara gue bisa kerjakan lebih baik?

 

Yang berani koar-koar negara lain lebih superior pasti belum pernah ke luar negeri! Norak! Kalau sudah pernah pasti akan sadar bahwa Indonesia itu gak tertinggal sama sekali.

 

Gue Cina. Mana ada Cina nasionalis, ya kan? Bagi gue ini bukan bela negara, tapi lebih ke arah melihat sesuatu dengan cara yang lebih rasional. Dan serasional dan seobyektif gue menghina negara sendiri, gue juga harus berani mengakui bahwa negara gue, nggak jelek-jelek amat, kok!

 

Coba dipikir, Indonesia, sudah kekayaan alamnya dikeruk 350 tahun sampai kering, setelah merdeka anggarannya dikorupsi 98%, tapi hanya dalam waktu 68 tahun, bisa mengejar ketinggalan sehingga turunannya bisa ngenye ke negara penjajahnya.

 

Sedangkan negara lain, yang sudah membangun jor-jor-an dengan uang Indonesia 350 tahun, konon punya budaya lebih superior, tapi ternyata kemajuannya biasa-biasa aja tuh. Masih pada naik sepeda onthel, bukan ‘seli’ apalagi ‘fixie’ seperti di Jendral Sudirman. Ke mana aja 70 tahun ‘ditinggal’ Indonesia?

 

Dan fakta ini mengindikasikan bahwa kita nggak ngoyo aja bisa membangun cukup pesat. Apalagi kalau bangsanya sungguh-sungguh ingin mengembangkan diri? Pastinya Indonesia bakal jadi negara termasyur di dunia, yang tiada terkalahkan dan tiada bandingannya. Nggak bangga apa jadi orang negara kaya?

 

Gue sadar, di banyak area Indonesia memang masih tertinggal. Ibukotanya ga punya MRT rapih bersih modern seperti di Rotterdam. Airportnya nggak punya sistem akses kota yang cenggih seperti Schipol. Nggak punya kanal anti banjir seperti Amsterdam.

 

Dari sisi kesejahteraan juga gue yakin Indonesia masih kalah secara rata-rata. Banyak orang kaya, tapi juga banyak orang miskin tak tertolong. Salah, kalau gue jadi bangga buta lalu tidak mau belajar dari negara lain.

 

But hey, don’t be too tough to ourselves! Bangga sedikit menjadi orang Indonesia! Belanda aja bangga kok pernah berinteraksi dengan Indonesia! Di jalan-jalan gue dengan mudah menemukan nama ‘Jalan Jawa, Jalan Borneo, atau bahkan hotel Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker.

 

Seorang tante anak gubenur karesidenan Belanda di Bandung yang ketika ditanya kamu orang mana, akan dengan bangga menjawab, saya orang Indonesia, semata karena ibunya turunan Sunda.

 

Rasanya sudah waktunya kita melepaskan diri dari penjajahan mental. Gue tidak akan mewajari jika ada orang bule, dari negara manapun, dibayar lebih tinggi dan menerima fasilitas lebih baik meski dengan jabatan yang sama.

 

Gue sudah pernah lihat universitasnya, gue sudah pernah lihat cara kerjanya membangun negeri. Dan gue yakin biarpun gue orang Indonesia, gue mendapat edukasi dan punya kualitas yang sama. Justru karena gue orang Indonesia!

 

Saat itu juga, setiap kali ada londo yang bertanya karena bingung melihat penampilan gue yang Asia ini di tengah-tengah kaum kaukasia, gue menjawab dengan lantang, gue dari Indonesia.

 

Dan saat ada yang menanyakan bagaimana Indonesia, amankah, indahkah, miskinkah? Gue menjawab “Better than here! You should come and see yourself!”

 

Semoga kebanggaan gue, tidak menjadi kesombongan…

 

* Kelewatan banget, dalam bahasa Belanda.

Generasi Stoberi

Overheard di toilet sebuah kafe yang maha hietz di Plaza Senayan

“Hei, kamu sekarang udah di Jakarta?” Seorang gadis bertanya pada seorang temannya dengan aksen Cyncya Laura.

“Iya, tapi aku lebih banyak di daerah Jakarta Barat, aku kerja…” ujarnya, seolah Jakarta Barat bukan bagian dari Jakarta.

It’s More Fun in the Philippines

“Kenapa ya Indonesia nggak bisa kayak Filipin?” Gue bertanya di suatu siang yang cerah di bawah pohon kelapa yang tumbuh subur di pasir putih nan halus, di hadapan laut biru muda yang jernih di satu sudut di White Beach Pulau Boracay.
“Ih, amit-amit jangan sampe,” cetus Idako, rekan perjalanan. <!–more–>

Gue tertawa, lalu kembali menyeruput es lemon yang bewarna biru laut.

Ada dua versi pandangan orang Indonesia kepada Filipina saat berwisata. Yang pertama: Sangat membenci. Kalau mau refreshing mencari kesegaran, bukan Filipin tempatnya. Masa ya, ada negara yang lebih bobrok daripada Indonesia!

Expensive Kids

“Adek-adek yang manis, yuk sini kumpul di depan yuk.. Hayoo.. siapa yang mau hadiah?”

Suara MC terdengar cempreng mewarnai hiruk pikuk suasana sebuah sports club akhir pekan itu. Restoran yang terletak di pinggir kolam renang siang ini sedang dibook sepenuhnya untuk ulang tahun Cillia, atau nama barat sejenis, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun.

About Truly Asia

“Siap-siap ditipu, ya,” demikian pesan gue kepada Udako sesaat setelah mendarat di Malaysia. Udako menatap gue heran, “emang Malaysia isinya penipu semua?”

 

“Oh you never know, pokoknya, diterima aja dengan lapang dada,” gue menjawab sambil memikul tas yang karena pertimbangan biaya, tentunya tidak gue masukkan ke dalam bagasi sebuah maskapai yang itung-itungannya cukup rumit itu.

Murid Teladan

“Loe kenal sama si A nggak?”
“Oh! Kenal! Ngehe kan orangnya? Sok penting banget, padahal nggak pernah ngapa-ngapain!”

“IYA! Gue juga berasa gitu, sama banget sama si B!”

“Iye! Si B lebih –lebih lagi, PARAH! Minta dikeramasin pake pare, jijay gue baca statusnya dia!”

“Kalau si C gimana? Gue nggak pernah kerja bareng sih, tapi kok kayaknya sok tahu banget sih?”

Balada Dokter Ganteng

Total antrian ada 36 orang. Sekarang giliran pasien nomor 2.

 

“Suster, ini apa nggak ada dokter kandungan yang lain? Gue berusaha memperbaiki nasib begitu mengetahui fakta ini, sambil meremas-remas kertas nomor antrian di tangan gue. Nomor 26. 24 orang lagi.

 

“Ada sih mbak…” jawab si suster gantung, seolah memberi hint bahwa meskipun antriannya sepanjang dosa, gue mungkin tetep akan memilih berpegang teguh pada pilihan pertama gue.Dan seolah memahami petunjuk implisit si suster, gue manggut-manggut lalu kembali mengambil posisi antri duduk.

 

Sungguh, gue sebenarnya nggak terlalu picky dalam hal memilih dokter kandungan. Gue bahkan tidak sedang hamil Jadi sebenarnya keahlian sang dokter tidak terlalu gue perlukan. Gue Cuma butuh satu orang manusia yang berhasil lulus spesialis kandungan agar sah untuk melakukan observasi di bagian yang membedakan gue dan sebagian besar populasi pria.

 

Tapi menimbang bahwa kita berbicara tentang organ intim di sini, organ yang sangat vital demi kebahagian serta kesuksesan masa depan gue, organ yang bagi sebagian pria adalah satu-satunya ukuran sahik tentang seorang perempuan, maka gue pun latah, mencari dokter yang favorit.

 

Sebenarnya gue nggak tau pasti kenapa dokter ini laku berat. Ini malam Senin. Hari kerja. Jam praktiknya kurang prime time. Sudah jam 8 malam. Gue lapar. Ibu-ibu ini kan makan buat dua orang, masa nggak lapar? Kalau begini lamanya, keburu lahir duluan nih bayi-bayi!

 

Tapi, ah..pasti ibu-ibu muda di sini sudah melakukan riset secara teliti untuk menjamin keselamatan si janin. Ibu muda biasanya kan lebih melek teknologi, mereka pasti sudah mendapatkan info yang cukup valid. Mother knows best!

 

Satu piring nasi bogana, satu bungkus tahu goreng dan satu sinetron kemudian, akhirnya giliran gue diperiksa. Dan begitu masuk, mengertilah gue mengapa para ibu muda memilih diperiksa rutin selama 9 bulan oleh pak dokter.

 

Di hadapan gue, berdiri seorang dokter ganteng bertubuh tinggi besar super macho dengan senyum menawan. Sang dokter yang ramah menyapa gue, suaranya bass bariton. Pribadinya yang hangat membuat para pasien merasa nyaman mendiskusikan masalah kesehatannya.

 

Sesaat gue teringat seorang rekan kerja dulu saat memilih dokter kandungan. Menurutnya, skala prioritas para ibu hamil adalah sebagai berikut:

 

Skala Prioritas Jenis Dokter Plus Minus
1 Dokter kandungan perempuan Biar nggak malu kalau diliat-liat
  • jumlahnya sedikit. Antriannya lebih panjang.
  • Lagian perempuan mana pernah ngoprek badan sendiri?
2 Dokter kandungan pria yang sudah tua
  • Biar nggak gitu malu, soalnya kan udah seumur bapak sendiri
  • Udah pengalaman, nggak mungkin salah priksa Mungkin juga sudah mati rasa ngeliat perempuan.
  • Tapi ingat, lebih malu lagi kalau dipriksa sama orang tua, rasanya kayak pedofil, idih…
  • Kalau terlalu tua, tangannya kena Parkinson gimana? Nanti gemeter, anaknya tremor.
3 Dokter kandungan pria, yang masih muda DAN ganteng-gay
  • Biar anaknya hepi, diintip sama cowo ganteng (kalau cewe)
  • Biar ibunya hepi, , dan kebahagiaan ibu menentukan kebahagiaan janin
  • Biar bapaknya nggak cemburu
  • Susah mendeteksinya, gimana caranya nanya, dokter gay bukan?
  • Seperti poin dokter kandungan perempuan, mana ngerti jej sama badan eike!
4 Dokter kandungan pria, masih muda, ganteng pula!
  • Poinnya idem seperti poin 3, anak hepi, ibu hepi, anaknya sehat
  • Mudah diketahui hanya dari melihat foto saja
 Bapaknya bisa cemburu, tapi balik lagi, kan kebahagiaan sang buah hati yang utama kan ya??

 

Melihat plus minusnya, sangat wajar bahwa meski skala prioritasnya di bawah, dokter muda, dan ganteng, akan jadi pilihan paling utama dari para ibu hamil1

 

Saat itu, gue tentunya hanya diperiksa sebentar sehingga tidak dapat mengetes keahlian sang dokter. Mungkin aja sih, ada orang yang sempurna-sempurna gitu. Udah ganteng, ramah, jago pula sebagai dokter. Tapi itu lain soal, Sudah ganteng, ramah, dokter spesialis pula. Itu penting.

 

Gue tersenyum kecil menyadari fakta ini. Siapa bilang manusia itu obyektif? Manusia itu makhluk subyektif dan akan selalu mendasari preferensinya atas dasar hal paling shallow di muka bumi: hal fisik.

 

Bohong. Bohong besar kalau semua manusia di muka bumi ini punya kesempatan sama untuk sukses. Kesesuaian TAMPANG dengan profesi adalah yang paling menentukan. Ibu hamil aja milih.

 

Dan bukan selalu bahwa yang GANTENG pasti berhasil, tapi yang SESUAI yang pasti akan dipilih. Coba aja ke lampu merah. Siapa yang bakal dikasih? Nenek-nenek dan orang cacat atau pengamen kaleng dan banci kaleng?

 

Kalau gue, semua nggak gue kasih. Soalnya gue pelit, dan ingin mendukung program pemda (alesan), tapi dalam keadaan tertentu, gue membuat pilihan yang dilakukan mayoritas orang di Indonesia.

 

Suatu kali gue didekati oleh banci loleng di lampu merah Rawamangun arah Kelapa Gading.“Cici…cici, bagi gopek dong.. buat beli shampo…” Gue jelas langsung menolak. Gue kerja cape-cape Cuma buat beliin banci shampoo??

 

Lalu datanglah seorang nenek, “Mbak, kasihan mbak.. belum makan mbak..” Dan hati nurani gue pun terketuk. Gue memberi selembar uang lalu mendapat sepotong doa-doa.

 

Berdasarkan observasi terhadap lampu merah rawa mangun menuju Kelapa Gading, proporsi mobil yang ngasi nenek atau orang cacat berbanding pengamen dan bencong adalah 5:1.

 

Bukan karena mereka paling enak dilihat, tapi karena mereka memiliki kondisi fisik yang paling sesuai untuk profesi yang dijalani. Mana-mana, kita memberi pada pengemis karena iba. Maka kita cenderung akan memberi pada mereka yang membuat kita paling kasihan.

 

Lagipula, gue juga males didoakan sama bencong yang doa buat dirinya sendiri belum tentu didengar Tuhan. Selain karena ancaman spion mau dilepas dan mobil mau dibaret, gue rasa tidak aka nada orang yang ridho-ridho amat ngasi duit ke banci lampu merah.

 

Bukannya gue bilang praktik ini salah atau salah satu pihak memanfaatkan kondisi. .Kalau masih sehat, dan muda, ngapain jadi pengemis? Sono cari kerjaan beneran! Tapi yang jelas, bahkan sebagai pengemudi, manusia telah membuat pilihan berdasarkan kondisi fisik terhadap satu kegiatan yang terjadi di lampu merah.

 

Perkara apakah si bencong itu lari ke jalan karena memang tidak ada yang mau memberikannya pekerjaan, atau si orang yang bertampang sehat ternyata punya penyakit jantung yang membuatnya tak bisa kerja berat, tidak masuk dalam pertimbangan di masa lampu merah 60 detik.

 

Di sisa lampu merah sesaat setelah gue bederma pada nenek, gue menangkap bayangan si banci loleng yang tadi sedang berada di sisi lain jalan. Ada anak pengemis yang digendong ibu penyewanya nangis jejeritan. Mbak bencong spontan langsung joged-joged menghibur. Lalu diberikannyalah sekeping gopekan yang membuat anak pengemis itu berhenti menangis. Sesuatu yang dilakukan tanpa sadar ada mata lain melihat.

 

Sesaat gue bertanya apakah gue telah melakukan pilihan pemberian sedangkal ibu-ibu pilih dokter kandungan. Si mbak bencong, biarpun pendapatannya lebih sedikit, malah lebih tanggap berbagi dan menghibur orang lain yang kesusahan. Mungkin saja mbak bencong sebenarnya adalah ayah si anak. Mungkin saja, ia lebih membutuhkan selembar uang gue untuk membeli susu anak-anaknya…

 

But that’s how, we, human, operate every single moment in our life. Membuat pilihan yang mungkin mengorbankan pihak lain, berdasarkan ciri fisik. Impresi pertama. Dan jarang yang dapat kesempatan meng-undo pilihannya karena diberi waktu memilih yang lebih lama.

 

Bahkan kalau diberi waktu lama, mungkin juga tetep mau mengandalkan ciri fisik. Gue misalnya, sudah bertekad: next papsmear dan jika suatu hari nanti, gue hamil, gue akan langsung ambil nomor antrian baru di dokter Boy!

Si Mobil Maut

Kenalan seorang teman punya wajah persis seperti Apriyani. Di hari Xenia maut beraksi, ibunya langsung interlokal dari luar kota.

“ Ngaku! Di mana loe,” ibunya menghardik

“Di rumah, Mak!” jawabnya polos

“Bohong! Loe lagi di Jakarta kan? Lagi di jalanan kan?”

“Enggak mak, sumpah! Emang kenapa sih?”
“Nih tetangga-tetangga pada dateng ke rumah! Dikira loe ditangkep polisi, nabrak 8 orang!”

 

Sang Apriyani KW merasa keki. Masa ibu sendiri, tetangga dan orang-orang terdekat bisa meyakini kalau dia pelaku aksi maut? Atau.. mungkin reaksi keluarga dan handai taulan ini adalah justru reaksi yang paling wajar? Karena nasib naas si Xenia sebenarnya dapat menimpa mobil banyak orang yang besar dan muda di Jakarta, tergantung dari tahun chiong-nya aja?

 

Siapa sih anak muda, yang tidak pernah melakukan kegiatan gila tanpa mikir yang akibatnya bisa menghancurkan masa depan yang tak terulang lagi itu? Apalagi di Jakarta yang everything is legal ini, siapa yang tidak pernah berusaha merusak hidup dengan substansi berbahaya, atau melakukan tindakan yang di luar norma kesusilaan tanpa mikir panjang

 

Mungkin dalam skala keseriusan yang berbeda, tapi gue merasa tentu saja ada beberapa hal yang pernah dilakukan, akan disebut amit-amit-jabang-bayi, oleh ibu muda yang tengah mengandung

 

Sheila Marcia pernah hamil di luar nikah, sama lelaki beda agama juga. Di usia yang mungkin terlalu muda untuk berpikir baik dan buruk, bisa dinikahin apa enggak. Oke, itu contoh ekstrim.

 

Di kasus lokal, ada masanya gue menyetir mobil lawan arah di Kuningan dan terheran-heran ketika ada mobil melaju dari arah sebalik gue. Mungkin sekarang satu jalur jadi dua arah, pikir gue, lalu mengambil jalur TERKIRI (dari perspektif gue) agar aman. Hanya faktor ‘luck’ yang membuat gue tidak berpapasan dengan mobil lain yang melaju pol-polan dari arah yang benar, yaitu di sisi paling KANAN jalan.

 

Under different circumstance, gue mungkin akan berada di balik jeruji selama 18 tahun, dihantui rasa bersalah seumur hidup dan kehilangan momen berharga gue hingga 40 tahun. Gue, tidak akan pernah lulus kuliah dari NTU, bekerja apalagi nulis blog.

 

Tapi berkat sedikit nasib baik, gue, dan sebagian orang yang juga pernah melakukan aksi tanpa banyak permenungan diberi kesempatan kedua. Diberi waktu cukup hingga agak gede sedikit dan mulai sok-sok bijaksana lalu mikir dua kali setiap kali mau naik jetkoster.

 

Kita semua berkembang menjadi manusia yang baik-baik saja, terlihat normal, tidak terlalu nakal dan menjadi fondasi masyarakat kelas menengah Indonesia. Dengan hanya melihat pas foto,, tentu tidak akan ada yang mempercayai gue bisa jadi supir mobil maut.

 

Gue tidak bermaksud membela siapa-siapa. No. No. Mana-mana, kalau mencelakai orang lain itu salah dan patut dipenjara, kecuali anak menteri, eh. But all I’m saying is, it could happen to normal people, people who are not inherently BAD, aren’t I afraid being judged the way these normal people were?

 

Sejak awal, kisah tabrakan maut itu selalu membuat gue merasa gak enak dengan pengadilan social yang terjadi. Caci maki sampai bercandaan mengalir deras tuntutan penjara dibuat maksimal  Semua tiba-tiba lulus S1 Hukum dan bisa jadi hakim buat orang lain yang ditontonnya.

 

Media dan penontonnya membuat satu kisah menjadi hitam dan putih. Benar dan salah. Apriyani itu salah (ini gue tetep setuju). Dan yang bener? Penonton dong.. penonton kan nggak ngebut-ngebutan. Korbannya? Tanpa sadar gue bahkan teralihkan dari korbannya. Gue nggak inget namanya, tinggal di mana. Gue tidak serius berempati kepada para korban, tidak sebanyak gue sibuk menghakimi yang salah

 

Semua dibuat tanpa sekalipun gue diajak berpikir gimana kalau gue ada dalam keadaan yang dibuat hitam itu? Oh ya tentu ga bisa dong, kan gue nggak ngebut-ngebutan, gimana jadi hitam… Gue seolah dibikin lupa bahwa untuk ngebut-lalu-nabrak-lalu-fatal, tidak perlu selalu harus narkoba dan mabok-mabokan dulu.

 

Cara mengadili yang sama terjadi, kita ada kisah mobil maut yang lain. Seperti kasus Xenia maut, gue juga sepaham dengan sebagian besar jika bukan semua orang kecuali keluarga sendiri. Yang nabrak salah, dan hukumannya ga adil

 

Gue memang bukan orang melek hukum tapi itung-itungan gue sederhana saja. Kasus A, menewaskan 8 orang, tuntutan 18 tahun penjara. Berarti setiap nyawa nilainya sekitar 2,25 tahun. Dianggap di kasus A pelakunya juga narkoba, jadinya mungkin sekitar 2 tahun. Jika Kasus B menewaskan 2 orang, maka tuntutannya minimal adalah 4 tahun penjara. Kok jadi nggak dipenjara?

 

Tapi sebanyak gue protes, gue juga dengan berat hati, mengerti gimana perasaan orang tua tentang anak kesayangannya dipenjara. Orang tua mana yang tidak berharap dirinya adalah seorang menteri sehingga bisa membantu anaknya yang ngantuk agar tidak dipenjara?

 

Tentu saja sebagai seorang negarawan, seseorang diharapkan dapat bertindak lebih penuh pengorbanan, mengutamakan nusa dan bangsa di atas kepentingan keluarga. Tapi jika kita ngomong soal manusia ke manusia, bapak mana yang tega?

 

Back again, gue tidak mau membela para supir maut.  Buat gue kasus semacam ini penting guna memberi efek jera bagi anak cucu gue yang suatu hari menginjak masa remaja, agar setidaknya mikir sebelum bertindak, kecuali bapaknya menteri.

 

Gue hanya berharap konsumen media, termasuk gue, tidak selalu melahap tontonan kami seperti telenovela, ada Maria Mercedes yang malang, dan ada Soraya yang jahat. Lalu gue, karena merasa tidak sejahat Soraya, lalu menganggap diri gue Maria Mercedesnya.

 

Karena seperti apa yang sudah terlalu sering terbuktikan, merasa diri benar dan melakukan sesuatu atas panji panji kebenaran, malah sering menjadikan orang kebablasan lalu bawa bambu runcing. Lebih baik jadi antagonis karena bisa berkesempatan merenung dan memperbaiki diri.

 

Ngomong-ngomong soal Apriyani KW, jangan coba minta fotonya ya.. Tampangnya sudah beda, rambutnya sudah dikribo!