Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

12-sawah-sumberawan

Lesson from the Most Expensive Country

Ini kok tiap kali makan selalu sejuta, sih? Begitu si mamih protes, ketika melihat tagihan makan kali ini.

 

Sebenarnya ketika pertama kali berencana pergi berlibur ke Swiss, kami sudah mempersiapkan mental. Swiss konon merupakan salah satu negara termahal di Eropa. Sedangkan Zermatt dan St Moritz, adalah dua resor ski yang dianggap eksklusif di sana.

 

Ati-ati loe, di sana pokoknya ga ada yang harganya di bawah sejuta, demikian Oknum R memperingatkan saat itu. Dengan peringatan macam itu, tentu kami sekeluarga lebih berhati-hati membelanjakan uang.

 

Makan siang pertama kami sederhana, tidak dengan appetizer lalu dessert macamnya keluarga koruptor lagi jalan-jalan. Hanya rosti dengan susis menghabiskan uang senilai sejutaan. Ok, ini mahal, kami bersepakat, dan bertekad untuk tidak makan malam.

read more

9th November 2013 | 10:41 am |

no

Respon

Koper Melawan Ransel

Koper atau ransel?
Beberapa tahun yang lalu sempat ada sebuah acara TV yang mengusung tema ini. Tentang dua orang yang melakukan perjalanan ke tempat yang sama, tapi dengan gaya yang berbeda.

 

Koper, melambangkan perjalanan yang ‘lux’. Namanya juga bawa koper, pasti nggak bisa dipanggul-panggul berjam-jam ke atas gunung. Nggak bisa juga digeret-geret ke hotel terpencil yang jalanannya rusak. Koper, cocoknya diturunin dari mobil lalu masuk ke lobby hotel. Yang mewah, kalau bisa.

 

Sedangkan ransel, mewakili genre travel sebaliknya. Genre yang lebih susah. Yang tinggal di tempat-tempat termurah, yang dicapai dengan cara yang sulit juga. Kalau ditaroh di depan hotel bisa-bisa dianggap buntelan sampah. Namun biasanya, para wisatawan ransel jadi bisa mengunjungi lebih banyak tempat dan mendapat lebih banyak pengalaman.

 

Jadi, koper atau ransel?

Kalau gue pribadi, tentu pilih yang koper dong. Siapa sih yang nggak suka kenyamanan hidup? Lagipula di mana gue harus menaruh berbagai barang rempong gue itu, alat make-up, obat cuci muka dan serangkaian suplemen diet? Di ransel nggak keren. Di tas selempang bisa membuat skoliosis.

 

Namun sayangnya, dengan keterbatasan dana dan niat jalan-jalan yang sedikit terlalu besar, gue lebih sering berakhir memilih cara ransel. Tinggal di mana saja OK asalkan terdapat cadangan air bersih. Kalau pergi harus dengan pesawat yang sedikit mengancam nyawa, ya sudah lah, daripada nggak berangkat.

 

Terlalu seringnya gue ‘terpaksa’ mengambil opsi ransel, hingga akhirnya gue sudah lupa rasanya jalan-jalan ala koper. Dan ketika saat ke Gili Trawangan kemarin gue kembali berkesempatan menikmati akomodasi ‘koper’, tiba-tiba gue merasa tidak nyaman dan ingin kembali nge-ransel.

 

Gue mengawali perjalanan gue dengan cara yang gue kenal, cara ransel. Tiba di Lombok tengah malam, gue menginap di sebuah hotel di kawasan kota Mataram, dekat Matahari Department Store, jauh dari pantai yang seharusnya adalah cita rasa jalan-jalan ke Lombok. Semalamnya kurang dari Rp. 500,000,-

 

Nggak masalah, yang penting gue bisa merebahkan diri di malam hari. Kamar bersih dan ada HBO, bahkan ada kolam renang. Perkara esok paginya gue bangun seolah di tengah taman kota karena banyak yang piknik, ah sudahlah, itu kan hanya lima menit yang canggung.

 

Gue kemudian menyeberang ke Gili Trawangan dengan kapal penumpang umum. Kapal yang ketika ditanya ‘berangkat jam berapa?’ jawabannya adalah ‘nanti kalau sudah 25 orang’. Kenyataannya kapal berkapasitas 40 orang itu diisi penuh hingga 60 orang. Plus koper gue yang tetap gigih mempertahankan status meski sedang naik transportasi ransel.

 

Di Gili, berkat entah liburan apa yang membuat kepadatan hotel mencapai angka fantastis 80%, gue tidak tinggal di hotel paling wah di sana. Sebuah villa dekat daerah barat yang lebih sepi. Nggak masalah sama sekali. Meski mereka memasang keran air panas terbalik, air panasnya sempurna. Sarapan juga penuh charge plus plus, tapi secara kuantitas dan rasa, cukup baik.

 

Lagipula, ini Gili. Tempat di mana setiap orang tanpa peduli kasta dan golongan dapat goler-goler di pantai berpasir putih sambil mendengar musik reggae dan teler dengan substansi lokal. We are family, every little things is gonna be alright.

 

Gue menikmati perjalanan naik‘public boat keliling Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Jauh lebih murah, dan super puas dengan durasi yang panjang, meski tetap kelebihan muatan dan habis-habisan dikeroyok ubur-ubur.

 

Lalu gue kembali ke Lombok, untuk menginap di daerah Senggigi. Tinggal di hotel bintang lima yang punya private beach. Ini harusnya jadi highlight. Akhirnya jati diri koper gue dapat dipuaskan. Namun berada di tempat di mana koper gue akhirnya tidak saltum, gue malah merasa risih.

 

Tentu saja, senyum manis menyapa gue ketika tiba di pelabuhan. Ada penjemputan dengan mobil berlogo hotel. Senyum yang sama lebarnya, sama bentuknya juga menyambut gue di hotel, lengkap dengan minuman selamat datang.

 

Namun gue tidak bisa menghilangkan rasa merinding, membayangkan, betapa palsunya senyum itu. Betapa jika gue bukan tamu hotel ini, gue bakal ditendang keluar tanpa ada senyum setipis apapun. Bayangan yang mungkin juga muncul karena itulah yang persis terjadi sehari sebelumnya.

 

Ketika minta dijemput di pelabuhan, gue ditanya berkali-kali apakah gue benar-benar akan tinggal di hotel tersebut. Meskipun sudah ada daftar tamu yang harusnya terkomputerisasi, mereka tetap menggunakan momen ini untuk membuat gue merasa rendah diri dan bertanya-tanya apakah gue sungguh layak tinggal di hotel mereka.

 

Seolah bagian dari klarifikasi, gue berkali-kali juga di mana gue tinggal di Gili Trawangan. Apakah di resor terhits di sana? Tidak, gue jawab. Dan terdengar nada ‘ooo…’ panjang yang seolah bertanya jika gue tidak mampu membayar resor hits itu, apakah mampu gue membayar sebuah hotel chain internasional?

 

Dan setelah berhasil menemukan nama gue di daftar tamu, sebagai penutup mereka kembali menegaskan bahwa fasilitas ini di luar fasilitas hotel, dan harap gue sungguh-sungguh membayarnya lunas. Oh, nggak ada cicilan nol persen ya mas? Sebuah pertanyaan dan jawaban yang redundant menurut gue, karena kalau gue nggak tinggal di situ ngapain juga gue minta dianter ke daerah jin buang anak?

 

Kembali ke hotel mewah, gue menemukan gue sama sekali tidak menikmati pengalaman gue. Ya, tentu saja gue naik Fortuner ke mana-mana. Tentu saja ada seribu pelayan yang mengantar makanan, menegur kiri kanan, mengambilkan handuk. Tapi semuanya begitu commercialized.

 

Tidak ada keramahan dan semangat ingin membantu yang terasa kental di setiap guest house dan villa yang gue tinggali. Semua yang ada di sini kerja, mungkin dengan gaji yang minim dan jam kerja yang panjang. Wajar saja tidak ada yang ingin melakukan extra miles. Semua usaha dihitung dengan uang.

 

Gue akan dibawa ke pusat kerajinan mutiara yang mahal melintir. Tipe yang akan memberi komisi pada supir. Harga diantar naik mobil makan ayam taliwang bisa lebih mahal daripada harga tur public boat gue satu hari. Dan, melangkah keluar hotel menuju pantai, gue langsung dikerubuti preman dan pedagang asongan, meyakini gue adalah bank baru bagi mereka.

 

Gue bertanya-tanya apakah gue sekadar menjadi manusia sinis yang karena ketidakmampuannya mencela segala kemapanan dunia. Namun, mengawali kesukaan jalan-jalan dari sebuah perjalanan jurnalistik, gue menyadari penuh betapa pentingnya interaksi manusia dalam sebuah perjalanan.

 

It’s all that makes it meaningful. Gue hanya kangen diperlakukan seperti manusia biasa, bukan nyonyah, bukan juga gembel. Kangen berkawan dengan resepsionis. Bertukar canda tanpa harus dicurigai gila atau harus membayar extra charge. Gue kangen kehangatan pemilik usaha yang karena membuka hotelnya dengan penuh cinta, dapat selalu membagikannya pada tamunya.

 

Berada dalam mobil mewah sendirian gue malah bosan. Gue tidak bisa mengamati beragam penumpang kapal kotok dan berusaha mengidentifikasikan apakah mereka datang dari Surabaya, Jakarta, atau Lombok. Atau mengetahui bagaimana turis dari London, Lyon, dan kota besar lainnya menilai Indonesia lewat Gili Trawangan, seperti dalam sebuah public boat.

 

Lagipula, secara mengejutkan, bukan berarti standar akomodasinya jadi lebih tinggi, lho! Hotel besar yang punya ratusan kamar itu selalu berjuang melawan penuaan dan perawatan berbiaya besar. Akhirnya cenderung kuno dan kamarnya jadi kecil-kecil.

 

Masuk kamar di hotel mewah Senggigi itu gue langsung protes. Kamar mandi gue di villa tak dikenal di Gili Trawangan gue itu jauh lebih besar dan mewah dibandingkan kamar tidurnya.

 

Buffet breakfast besar yang melimpah ruah dengan iringan denting piano juga tidak membuat gue terkesima. Akhirnya, gue toh cuma akan mengambil beberapa piring makanan, membiarkan sisanya dibuang percuma.

 

Dan apa yang ada di piring gue itu dingin, tidak khas daerah, tidak selezat makan di pinggir pantai Gili Trawangan. Jusnya palsu, bukan jus asli seperti welcome drink di Gili Trawangan.

 

Nampaknya koper melawan ransel itu harus direvisi. Bukan standar bintangnya yang mengidentifikasikan, melainkan pengalaman yang diberikan. Di setiap boutique villa yang gue singgahi, gue merasa jadi penting. Setiap orang di sana sangat ramah dan selalu siap membantu, mulai dari menjelaskan peta hingga mencarikan sepeda tandem. Di situ, gue merasa senyaman menggulingkan koper saat berjalan.

 

Sebaliknya, di hotel mewah berbintang gue merasa jadi rakyat semenjana. Seperti ada notion bahwa gue ini hanya dianggap penting hari ini saja, besok, jadi pembantu lagi. Gue mendapat fasilitas namun merasa kaku. Yang rasanya seperti ini, di Jakarta juga banyak ketika bekerja. Ngapain gue jauh-jauh ke Lombok kalau rasanya seperti di kantor? Rasanya seperti memanggul ransel 15 kg ke atas gunung.

 

Tentu saja, itu semua tanpa menghilangkan esensi rasa yang harus kualitas internasional. Kamar yang bersih dan nyaman, makanan standar master chef, dan skala keamanan juga harus terjamin. Kadang, memang semua itu ada pada sebuah standar hotel berbintang. Tapi terkadang, bintang di langit lebih menjamin!

15th October 2013 | 12:28 pm |

no

Respon

Vervelen Jij!*

Yang kayak gini nih yang ngejajah Indonesia lama banget?

Begitulah reaksi pertama yang muncul ketika gue sekeluarga mendarat untuk pertama kalinya di bandara Schipol Amsterdam: Ngenye.

 

Ini bukan kali pertama gue di Eropa. Dan dua perjalanan mengelilingi benua yang dulunya masyur ini sudah mengajarkan gue untuk  menurunkan ekspektasi. Gue tidak akan melihat kemajuan, kebersihan dan keindahan seperti di Singapura, Jepang, atau Korea Selatan.

 

Tapi jujur saja, gue punya ekspektasi lebih terhadap Belanda. Maksudnya, ini negara yang berhasil menindas dan memaksa bangsa gue yang dikenal malas ini untuk kerja paksa 350 tahun gitu loh. Pasti mereka pinter banget kan? Maju banget kan?

 

Maklum, gue ini representasi kebanyakan manusia Indonesia lainnya, yang masih suka mengkondisikan diri gue menjadi obyek jajahan budaya. Apa-apa yang datang dari luar itu keren, bagus, dan cenggih. Pokoknya superior deh.

 

Apalagi yang dari Belanda. Meski sudah melepaskan diri dari kumpeni 68 tahun, sesuatu yang buatan Belanda itu masih nge-tren. Yang Holland-spreken masih suka menyebut dirinya ik dan menyebut orang lain jij.

 

Yang turunan Belanda akan dengan bangga mendeklarasikan sebagai turunan Belanda, biarpun tinggal nenek dari pihak ibu yang punya darah campuran. Yang kaya masih ada yang pingin anaknya makan keju Belanda, minum susu Belanda, bahkan pakai koteks Belanda.

 

Kalau mau sombong, di rumah gue masih menyimpan kain pel dari Belanda, koyo Belanda, dan sandal jepit Belanda. Sendal jepit, bukan klompen, dan itu menunjukkan betapa gue sangat meyakini barang Belanda lebih superior dari barang Indonesia bahkan hingga karet sandal jepit sekalipun.

 

Wajar saja, gue jadi punya harapan lebih pada Belanda. Ini pasti ga sejorok Paris. Ini pasti lebih modern daripada Itali. Mungkin harusnya bandaranya sekelas Changi Airport.

 

Lalu gue ke Belanda dan hal pertama yang gue lihat adalah sisi belalai gajah pesawat yang karatan.

 

 

Prang

Prang

Prang

 

Langsung hancurlah segala  pengharapan. Terlebih gue tiba satu hari setelah gay parade di hari Minggu. Petugas kebersihan pada libur. Alhasil gue disajikan dengan pemandangan kanal penuh sampah mengambang-ngambang, WC pesing dan kaca jendela bandara yang penuh bercak tangan.

 

Yang ada, gue dan mamih malah bermain membanding-bandingkan bandara megah ini dengan bandara domestik Indonesia. Kalau sama terminal 3 Soekarno Hatta mah lewat, jangan bandingin sama ibu kota dong. Kalau Ngurah Rai? Iya boleh tuh, tapi yang sebelum direnov ya… Oh, Hang Nadim kali ya? Iya tapi kayaknya bersihan Hang Nadim juga deh. Ini! Adi Sucipto! Nah agak mirip!

 

Gue sampai ketawa ngakak-ngakak ketika petugas imigrasi berusaha meminta jaminan gue bakal keluar dari negara ini setelah visa gue expire. Ih, jangan khawatir meneer, siapa juga yang mau tinggal di sini, enakan negara saya kok! Sampai si meneer bingung dan heran sendiri melihat gue ketawa-tawa.

 

Saat itu gue teringat beberapa hari sebelumnya bertemu dengan seorang anak pengusaha lulusan barat yang nampaknya susah move on dari kenangan masa kuliahnya. Ia mengeluhkan betapa orang Indonesia itu punya mental yang bobrok. Perlu di-upgrade. Makanya negaranya ga maju. Harus belajar dari Amerika, dari negara Barat, yang PD besar, sehingga sakses.

 

Tiba-tiba gue merasa marah.

Sangat marah.

 

Siapa kemarin yang berani ngatain negara gue tertinggal? Siapa yang berani nyuruh gue belajar ke negara lain? Di saat gue pergi ke negara lain dan masih bisa menemukan banyak hal yang negara gue bisa kerjakan lebih baik?

 

Yang berani koar-koar negara lain lebih superior pasti belum pernah ke luar negeri! Norak! Kalau sudah pernah pasti akan sadar bahwa Indonesia itu gak tertinggal sama sekali.

 

Gue Cina. Mana ada Cina nasionalis, ya kan? Bagi gue ini bukan bela negara, tapi lebih ke arah melihat sesuatu dengan cara yang lebih rasional. Dan serasional dan seobyektif gue menghina negara sendiri, gue juga harus berani mengakui bahwa negara gue, nggak jelek-jelek amat, kok!

 

Coba dipikir, Indonesia, sudah kekayaan alamnya dikeruk 350 tahun sampai kering, setelah merdeka anggarannya dikorupsi 98%, tapi hanya dalam waktu 68 tahun, bisa mengejar ketinggalan sehingga turunannya bisa ngenye ke negara penjajahnya.

 

Sedangkan negara lain, yang sudah membangun jor-jor-an dengan uang Indonesia 350 tahun, konon punya budaya lebih superior, tapi ternyata kemajuannya biasa-biasa aja tuh. Masih pada naik sepeda onthel, bukan ‘seli’ apalagi ‘fixie’ seperti di Jendral Sudirman. Ke mana aja 70 tahun ‘ditinggal’ Indonesia?

 

Dan fakta ini mengindikasikan bahwa kita nggak ngoyo aja bisa membangun cukup pesat. Apalagi kalau bangsanya sungguh-sungguh ingin mengembangkan diri? Pastinya Indonesia bakal jadi negara termasyur di dunia, yang tiada terkalahkan dan tiada bandingannya. Nggak bangga apa jadi orang negara kaya?

 

Gue sadar, di banyak area Indonesia memang masih tertinggal. Ibukotanya ga punya MRT rapih bersih modern seperti di Rotterdam. Airportnya nggak punya sistem akses kota yang cenggih seperti Schipol. Nggak punya kanal anti banjir seperti Amsterdam.

 

Dari sisi kesejahteraan juga gue yakin Indonesia masih kalah secara rata-rata. Banyak orang kaya, tapi juga banyak orang miskin tak tertolong. Salah, kalau gue jadi bangga buta lalu tidak mau belajar dari negara lain.

 

But hey, don’t be too tough to ourselves! Bangga sedikit menjadi orang Indonesia! Belanda aja bangga kok pernah berinteraksi dengan Indonesia! Di jalan-jalan gue dengan mudah menemukan nama ‘Jalan Jawa, Jalan Borneo, atau bahkan hotel Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker.

 

Seorang tante anak gubenur karesidenan Belanda di Bandung yang ketika ditanya kamu orang mana, akan dengan bangga menjawab, saya orang Indonesia, semata karena ibunya turunan Sunda.

 

Rasanya sudah waktunya kita melepaskan diri dari penjajahan mental. Gue tidak akan mewajari jika ada orang bule, dari negara manapun, dibayar lebih tinggi dan menerima fasilitas lebih baik meski dengan jabatan yang sama.

 

Gue sudah pernah lihat universitasnya, gue sudah pernah lihat cara kerjanya membangun negeri. Dan gue yakin biarpun gue orang Indonesia, gue mendapat edukasi dan punya kualitas yang sama. Justru karena gue orang Indonesia!

 

Saat itu juga, setiap kali ada londo yang bertanya karena bingung melihat penampilan gue yang Asia ini di tengah-tengah kaum kaukasia, gue menjawab dengan lantang, gue dari Indonesia.

 

Dan saat ada yang menanyakan bagaimana Indonesia, amankah, indahkah, miskinkah? Gue menjawab “Better than here! You should come and see yourself!”

 

Semoga kebanggaan gue, tidak menjadi kesombongan…

 

* Kelewatan banget, dalam bahasa Belanda.

5th September 2013 | 9:25 am |

no

Respon

Generasi Stoberi

Overheard di toilet sebuah kafe yang maha hietz di Plaza Senayan

“Hei, kamu sekarang udah di Jakarta?” Seorang gadis bertanya pada seorang temannya dengan aksen Cyncya Laura.

“Iya, tapi aku lebih banyak di daerah Jakarta Barat, aku kerja…” ujarnya, seolah Jakarta Barat bukan bagian dari Jakarta.
read more

3rd August 2013 | 1:42 pm |

4

Respon

It’s More Fun in the Philippines

“Kenapa ya Indonesia nggak bisa kayak Filipin?” Gue bertanya di suatu siang yang cerah di bawah pohon kelapa yang tumbuh subur di pasir putih nan halus, di hadapan laut biru muda yang jernih di satu sudut di White Beach Pulau Boracay.
“Ih, amit-amit jangan sampe,” cetus Idako, rekan perjalanan. <!–more–>

Gue tertawa, lalu kembali menyeruput es lemon yang bewarna biru laut.

Ada dua versi pandangan orang Indonesia kepada Filipina saat berwisata. Yang pertama: Sangat membenci. Kalau mau refreshing mencari kesegaran, bukan Filipin tempatnya. Masa ya, ada negara yang lebih bobrok daripada Indonesia!

read more

25th July 2013 | 10:27 am |

2

Respon
next