Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

13-berbagai-sisi-eiffel

About Truly Asia

“Siap-siap ditipu, ya,” demikian pesan gue kepada Udako sesaat setelah mendarat di Malaysia. Udako menatap gue heran, “emang Malaysia isinya penipu semua?”

 

“Oh you never know, pokoknya, diterima aja dengan lapang dada,” gue menjawab sambil memikul tas yang karena pertimbangan biaya, tentunya tidak gue masukkan ke dalam bagasi sebuah maskapai yang itung-itungannya cukup rumit itu.
read more

30th April 2013 | 3:42 am |

no

Respon

Murid Teladan

“Loe kenal sama si A nggak?”
“Oh! Kenal! Ngehe kan orangnya? Sok penting banget, padahal nggak pernah ngapa-ngapain!”

“IYA! Gue juga berasa gitu, sama banget sama si B!”

“Iye! Si B lebih –lebih lagi, PARAH! Minta dikeramasin pake pare, jijay gue baca statusnya dia!”

“Kalau si C gimana? Gue nggak pernah kerja bareng sih, tapi kok kayaknya sok tahu banget sih?”
read more

17th April 2013 | 12:30 pm |

one

Respon

Balada Dokter Ganteng

Total antrian ada 36 orang. Sekarang giliran pasien nomor 2.

 

“Suster, ini apa nggak ada dokter kandungan yang lain? Gue berusaha memperbaiki nasib begitu mengetahui fakta ini, sambil meremas-remas kertas nomor antrian di tangan gue. Nomor 26. 24 orang lagi.

 

“Ada sih mbak…” jawab si suster gantung, seolah memberi hint bahwa meskipun antriannya sepanjang dosa, gue mungkin tetep akan memilih berpegang teguh pada pilihan pertama gue.Dan seolah memahami petunjuk implisit si suster, gue manggut-manggut lalu kembali mengambil posisi antri duduk.

 

Sungguh, gue sebenarnya nggak terlalu picky dalam hal memilih dokter kandungan. Gue bahkan tidak sedang hamil Jadi sebenarnya keahlian sang dokter tidak terlalu gue perlukan. Gue Cuma butuh satu orang manusia yang berhasil lulus spesialis kandungan agar sah untuk melakukan observasi di bagian yang membedakan gue dan sebagian besar populasi pria.

 

Tapi menimbang bahwa kita berbicara tentang organ intim di sini, organ yang sangat vital demi kebahagian serta kesuksesan masa depan gue, organ yang bagi sebagian pria adalah satu-satunya ukuran sahik tentang seorang perempuan, maka gue pun latah, mencari dokter yang favorit.

 

Sebenarnya gue nggak tau pasti kenapa dokter ini laku berat. Ini malam Senin. Hari kerja. Jam praktiknya kurang prime time. Sudah jam 8 malam. Gue lapar. Ibu-ibu ini kan makan buat dua orang, masa nggak lapar? Kalau begini lamanya, keburu lahir duluan nih bayi-bayi!

 

Tapi, ah..pasti ibu-ibu muda di sini sudah melakukan riset secara teliti untuk menjamin keselamatan si janin. Ibu muda biasanya kan lebih melek teknologi, mereka pasti sudah mendapatkan info yang cukup valid. Mother knows best!

 

Satu piring nasi bogana, satu bungkus tahu goreng dan satu sinetron kemudian, akhirnya giliran gue diperiksa. Dan begitu masuk, mengertilah gue mengapa para ibu muda memilih diperiksa rutin selama 9 bulan oleh pak dokter.

 

Di hadapan gue, berdiri seorang dokter ganteng bertubuh tinggi besar super macho dengan senyum menawan. Sang dokter yang ramah menyapa gue, suaranya bass bariton. Pribadinya yang hangat membuat para pasien merasa nyaman mendiskusikan masalah kesehatannya.

 

Sesaat gue teringat seorang rekan kerja dulu saat memilih dokter kandungan. Menurutnya, skala prioritas para ibu hamil adalah sebagai berikut:

 

Skala Prioritas Jenis Dokter Plus Minus
1 Dokter kandungan perempuan Biar nggak malu kalau diliat-liat
  • jumlahnya sedikit. Antriannya lebih panjang.
  • Lagian perempuan mana pernah ngoprek badan sendiri?
2 Dokter kandungan pria yang sudah tua
  • Biar nggak gitu malu, soalnya kan udah seumur bapak sendiri
  • Udah pengalaman, nggak mungkin salah priksa Mungkin juga sudah mati rasa ngeliat perempuan.
  • Tapi ingat, lebih malu lagi kalau dipriksa sama orang tua, rasanya kayak pedofil, idih…
  • Kalau terlalu tua, tangannya kena Parkinson gimana? Nanti gemeter, anaknya tremor.
3 Dokter kandungan pria, yang masih muda DAN ganteng-gay
  • Biar anaknya hepi, diintip sama cowo ganteng (kalau cewe)
  • Biar ibunya hepi, , dan kebahagiaan ibu menentukan kebahagiaan janin
  • Biar bapaknya nggak cemburu
  • Susah mendeteksinya, gimana caranya nanya, dokter gay bukan?
  • Seperti poin dokter kandungan perempuan, mana ngerti jej sama badan eike!
4 Dokter kandungan pria, masih muda, ganteng pula!
  • Poinnya idem seperti poin 3, anak hepi, ibu hepi, anaknya sehat
  • Mudah diketahui hanya dari melihat foto saja
 Bapaknya bisa cemburu, tapi balik lagi, kan kebahagiaan sang buah hati yang utama kan ya??

 

Melihat plus minusnya, sangat wajar bahwa meski skala prioritasnya di bawah, dokter muda, dan ganteng, akan jadi pilihan paling utama dari para ibu hamil1

 

Saat itu, gue tentunya hanya diperiksa sebentar sehingga tidak dapat mengetes keahlian sang dokter. Mungkin aja sih, ada orang yang sempurna-sempurna gitu. Udah ganteng, ramah, jago pula sebagai dokter. Tapi itu lain soal, Sudah ganteng, ramah, dokter spesialis pula. Itu penting.

 

Gue tersenyum kecil menyadari fakta ini. Siapa bilang manusia itu obyektif? Manusia itu makhluk subyektif dan akan selalu mendasari preferensinya atas dasar hal paling shallow di muka bumi: hal fisik.

 

Bohong. Bohong besar kalau semua manusia di muka bumi ini punya kesempatan sama untuk sukses. Kesesuaian TAMPANG dengan profesi adalah yang paling menentukan. Ibu hamil aja milih.

 

Dan bukan selalu bahwa yang GANTENG pasti berhasil, tapi yang SESUAI yang pasti akan dipilih. Coba aja ke lampu merah. Siapa yang bakal dikasih? Nenek-nenek dan orang cacat atau pengamen kaleng dan banci kaleng?

 

Kalau gue, semua nggak gue kasih. Soalnya gue pelit, dan ingin mendukung program pemda (alesan), tapi dalam keadaan tertentu, gue membuat pilihan yang dilakukan mayoritas orang di Indonesia.

 

Suatu kali gue didekati oleh banci loleng di lampu merah Rawamangun arah Kelapa Gading.“Cici…cici, bagi gopek dong.. buat beli shampo…” Gue jelas langsung menolak. Gue kerja cape-cape Cuma buat beliin banci shampoo??

 

Lalu datanglah seorang nenek, “Mbak, kasihan mbak.. belum makan mbak..” Dan hati nurani gue pun terketuk. Gue memberi selembar uang lalu mendapat sepotong doa-doa.

 

Berdasarkan observasi terhadap lampu merah rawa mangun menuju Kelapa Gading, proporsi mobil yang ngasi nenek atau orang cacat berbanding pengamen dan bencong adalah 5:1.

 

Bukan karena mereka paling enak dilihat, tapi karena mereka memiliki kondisi fisik yang paling sesuai untuk profesi yang dijalani. Mana-mana, kita memberi pada pengemis karena iba. Maka kita cenderung akan memberi pada mereka yang membuat kita paling kasihan.

 

Lagipula, gue juga males didoakan sama bencong yang doa buat dirinya sendiri belum tentu didengar Tuhan. Selain karena ancaman spion mau dilepas dan mobil mau dibaret, gue rasa tidak aka nada orang yang ridho-ridho amat ngasi duit ke banci lampu merah.

 

Bukannya gue bilang praktik ini salah atau salah satu pihak memanfaatkan kondisi. .Kalau masih sehat, dan muda, ngapain jadi pengemis? Sono cari kerjaan beneran! Tapi yang jelas, bahkan sebagai pengemudi, manusia telah membuat pilihan berdasarkan kondisi fisik terhadap satu kegiatan yang terjadi di lampu merah.

 

Perkara apakah si bencong itu lari ke jalan karena memang tidak ada yang mau memberikannya pekerjaan, atau si orang yang bertampang sehat ternyata punya penyakit jantung yang membuatnya tak bisa kerja berat, tidak masuk dalam pertimbangan di masa lampu merah 60 detik.

 

Di sisa lampu merah sesaat setelah gue bederma pada nenek, gue menangkap bayangan si banci loleng yang tadi sedang berada di sisi lain jalan. Ada anak pengemis yang digendong ibu penyewanya nangis jejeritan. Mbak bencong spontan langsung joged-joged menghibur. Lalu diberikannyalah sekeping gopekan yang membuat anak pengemis itu berhenti menangis. Sesuatu yang dilakukan tanpa sadar ada mata lain melihat.

 

Sesaat gue bertanya apakah gue telah melakukan pilihan pemberian sedangkal ibu-ibu pilih dokter kandungan. Si mbak bencong, biarpun pendapatannya lebih sedikit, malah lebih tanggap berbagi dan menghibur orang lain yang kesusahan. Mungkin saja mbak bencong sebenarnya adalah ayah si anak. Mungkin saja, ia lebih membutuhkan selembar uang gue untuk membeli susu anak-anaknya…

 

But that’s how, we, human, operate every single moment in our life. Membuat pilihan yang mungkin mengorbankan pihak lain, berdasarkan ciri fisik. Impresi pertama. Dan jarang yang dapat kesempatan meng-undo pilihannya karena diberi waktu memilih yang lebih lama.

 

Bahkan kalau diberi waktu lama, mungkin juga tetep mau mengandalkan ciri fisik. Gue misalnya, sudah bertekad: next papsmear dan jika suatu hari nanti, gue hamil, gue akan langsung ambil nomor antrian baru di dokter Boy!

8th April 2013 | 7:59 am |

no

Respon

Si Mobil Maut

Kenalan seorang teman punya wajah persis seperti Apriyani. Di hari Xenia maut beraksi, ibunya langsung interlokal dari luar kota.

“ Ngaku! Di mana loe,” ibunya menghardik

“Di rumah, Mak!” jawabnya polos

“Bohong! Loe lagi di Jakarta kan? Lagi di jalanan kan?”

“Enggak mak, sumpah! Emang kenapa sih?”
“Nih tetangga-tetangga pada dateng ke rumah! Dikira loe ditangkep polisi, nabrak 8 orang!”

 

Sang Apriyani KW merasa keki. Masa ibu sendiri, tetangga dan orang-orang terdekat bisa meyakini kalau dia pelaku aksi maut? Atau.. mungkin reaksi keluarga dan handai taulan ini adalah justru reaksi yang paling wajar? Karena nasib naas si Xenia sebenarnya dapat menimpa mobil banyak orang yang besar dan muda di Jakarta, tergantung dari tahun chiong-nya aja?

 

Siapa sih anak muda, yang tidak pernah melakukan kegiatan gila tanpa mikir yang akibatnya bisa menghancurkan masa depan yang tak terulang lagi itu? Apalagi di Jakarta yang everything is legal ini, siapa yang tidak pernah berusaha merusak hidup dengan substansi berbahaya, atau melakukan tindakan yang di luar norma kesusilaan tanpa mikir panjang

 

Mungkin dalam skala keseriusan yang berbeda, tapi gue merasa tentu saja ada beberapa hal yang pernah dilakukan, akan disebut amit-amit-jabang-bayi, oleh ibu muda yang tengah mengandung

 

Sheila Marcia pernah hamil di luar nikah, sama lelaki beda agama juga. Di usia yang mungkin terlalu muda untuk berpikir baik dan buruk, bisa dinikahin apa enggak. Oke, itu contoh ekstrim.

 

Di kasus lokal, ada masanya gue menyetir mobil lawan arah di Kuningan dan terheran-heran ketika ada mobil melaju dari arah sebalik gue. Mungkin sekarang satu jalur jadi dua arah, pikir gue, lalu mengambil jalur TERKIRI (dari perspektif gue) agar aman. Hanya faktor ‘luck’ yang membuat gue tidak berpapasan dengan mobil lain yang melaju pol-polan dari arah yang benar, yaitu di sisi paling KANAN jalan.

 

Under different circumstance, gue mungkin akan berada di balik jeruji selama 18 tahun, dihantui rasa bersalah seumur hidup dan kehilangan momen berharga gue hingga 40 tahun. Gue, tidak akan pernah lulus kuliah dari NTU, bekerja apalagi nulis blog.

 

Tapi berkat sedikit nasib baik, gue, dan sebagian orang yang juga pernah melakukan aksi tanpa banyak permenungan diberi kesempatan kedua. Diberi waktu cukup hingga agak gede sedikit dan mulai sok-sok bijaksana lalu mikir dua kali setiap kali mau naik jetkoster.

 

Kita semua berkembang menjadi manusia yang baik-baik saja, terlihat normal, tidak terlalu nakal dan menjadi fondasi masyarakat kelas menengah Indonesia. Dengan hanya melihat pas foto,, tentu tidak akan ada yang mempercayai gue bisa jadi supir mobil maut.

 

Gue tidak bermaksud membela siapa-siapa. No. No. Mana-mana, kalau mencelakai orang lain itu salah dan patut dipenjara, kecuali anak menteri, eh. But all I’m saying is, it could happen to normal people, people who are not inherently BAD, aren’t I afraid being judged the way these normal people were?

 

Sejak awal, kisah tabrakan maut itu selalu membuat gue merasa gak enak dengan pengadilan social yang terjadi. Caci maki sampai bercandaan mengalir deras tuntutan penjara dibuat maksimal  Semua tiba-tiba lulus S1 Hukum dan bisa jadi hakim buat orang lain yang ditontonnya.

 

Media dan penontonnya membuat satu kisah menjadi hitam dan putih. Benar dan salah. Apriyani itu salah (ini gue tetep setuju). Dan yang bener? Penonton dong.. penonton kan nggak ngebut-ngebutan. Korbannya? Tanpa sadar gue bahkan teralihkan dari korbannya. Gue nggak inget namanya, tinggal di mana. Gue tidak serius berempati kepada para korban, tidak sebanyak gue sibuk menghakimi yang salah

 

Semua dibuat tanpa sekalipun gue diajak berpikir gimana kalau gue ada dalam keadaan yang dibuat hitam itu? Oh ya tentu ga bisa dong, kan gue nggak ngebut-ngebutan, gimana jadi hitam… Gue seolah dibikin lupa bahwa untuk ngebut-lalu-nabrak-lalu-fatal, tidak perlu selalu harus narkoba dan mabok-mabokan dulu.

 

Cara mengadili yang sama terjadi, kita ada kisah mobil maut yang lain. Seperti kasus Xenia maut, gue juga sepaham dengan sebagian besar jika bukan semua orang kecuali keluarga sendiri. Yang nabrak salah, dan hukumannya ga adil

 

Gue memang bukan orang melek hukum tapi itung-itungan gue sederhana saja. Kasus A, menewaskan 8 orang, tuntutan 18 tahun penjara. Berarti setiap nyawa nilainya sekitar 2,25 tahun. Dianggap di kasus A pelakunya juga narkoba, jadinya mungkin sekitar 2 tahun. Jika Kasus B menewaskan 2 orang, maka tuntutannya minimal adalah 4 tahun penjara. Kok jadi nggak dipenjara?

 

Tapi sebanyak gue protes, gue juga dengan berat hati, mengerti gimana perasaan orang tua tentang anak kesayangannya dipenjara. Orang tua mana yang tidak berharap dirinya adalah seorang menteri sehingga bisa membantu anaknya yang ngantuk agar tidak dipenjara?

 

Tentu saja sebagai seorang negarawan, seseorang diharapkan dapat bertindak lebih penuh pengorbanan, mengutamakan nusa dan bangsa di atas kepentingan keluarga. Tapi jika kita ngomong soal manusia ke manusia, bapak mana yang tega?

 

Back again, gue tidak mau membela para supir maut.  Buat gue kasus semacam ini penting guna memberi efek jera bagi anak cucu gue yang suatu hari menginjak masa remaja, agar setidaknya mikir sebelum bertindak, kecuali bapaknya menteri.

 

Gue hanya berharap konsumen media, termasuk gue, tidak selalu melahap tontonan kami seperti telenovela, ada Maria Mercedes yang malang, dan ada Soraya yang jahat. Lalu gue, karena merasa tidak sejahat Soraya, lalu menganggap diri gue Maria Mercedesnya.

 

Karena seperti apa yang sudah terlalu sering terbuktikan, merasa diri benar dan melakukan sesuatu atas panji panji kebenaran, malah sering menjadikan orang kebablasan lalu bawa bambu runcing. Lebih baik jadi antagonis karena bisa berkesempatan merenung dan memperbaiki diri.

 

Ngomong-ngomong soal Apriyani KW, jangan coba minta fotonya ya.. Tampangnya sudah beda, rambutnya sudah dikribo!

2nd April 2013 | 11:25 am |

no

Respon