China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

7-istana-bavaria_0

It’s More Fun in the Philippines

“Kenapa ya Indonesia nggak bisa kayak Filipin?” Gue bertanya di suatu siang yang cerah di bawah pohon kelapa yang tumbuh subur di pasir putih nan halus, di hadapan laut biru muda yang jernih di satu sudut di White Beach Pulau Boracay.
“Ih, amit-amit jangan sampe,” cetus Idako, rekan perjalanan. <!–more–>

Gue tertawa, lalu kembali menyeruput es lemon yang bewarna biru laut.

Ada dua versi pandangan orang Indonesia kepada Filipina saat berwisata. Yang pertama: Sangat membenci. Kalau mau refreshing mencari kesegaran, bukan Filipin tempatnya. Masa ya, ada negara yang lebih bobrok daripada Indonesia!

read more

25th July 2013 | 10:27 am |

2

Respon