Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

23-gereja-yang-besar-namun-sepi

Vervelen Jij!*

Yang kayak gini nih yang ngejajah Indonesia lama banget?

Begitulah reaksi pertama yang muncul ketika gue sekeluarga mendarat untuk pertama kalinya di bandara Schipol Amsterdam: Ngenye.

 

Ini bukan kali pertama gue di Eropa. Dan dua perjalanan mengelilingi benua yang dulunya masyur ini sudah mengajarkan gue untuk  menurunkan ekspektasi. Gue tidak akan melihat kemajuan, kebersihan dan keindahan seperti di Singapura, Jepang, atau Korea Selatan.

 

Tapi jujur saja, gue punya ekspektasi lebih terhadap Belanda. Maksudnya, ini negara yang berhasil menindas dan memaksa bangsa gue yang dikenal malas ini untuk kerja paksa 350 tahun gitu loh. Pasti mereka pinter banget kan? Maju banget kan?

 

Maklum, gue ini representasi kebanyakan manusia Indonesia lainnya, yang masih suka mengkondisikan diri gue menjadi obyek jajahan budaya. Apa-apa yang datang dari luar itu keren, bagus, dan cenggih. Pokoknya superior deh.

 

Apalagi yang dari Belanda. Meski sudah melepaskan diri dari kumpeni 68 tahun, sesuatu yang buatan Belanda itu masih nge-tren. Yang Holland-spreken masih suka menyebut dirinya ik dan menyebut orang lain jij.

 

Yang turunan Belanda akan dengan bangga mendeklarasikan sebagai turunan Belanda, biarpun tinggal nenek dari pihak ibu yang punya darah campuran. Yang kaya masih ada yang pingin anaknya makan keju Belanda, minum susu Belanda, bahkan pakai koteks Belanda.

 

Kalau mau sombong, di rumah gue masih menyimpan kain pel dari Belanda, koyo Belanda, dan sandal jepit Belanda. Sendal jepit, bukan klompen, dan itu menunjukkan betapa gue sangat meyakini barang Belanda lebih superior dari barang Indonesia bahkan hingga karet sandal jepit sekalipun.

 

Wajar saja, gue jadi punya harapan lebih pada Belanda. Ini pasti ga sejorok Paris. Ini pasti lebih modern daripada Itali. Mungkin harusnya bandaranya sekelas Changi Airport.

 

Lalu gue ke Belanda dan hal pertama yang gue lihat adalah sisi belalai gajah pesawat yang karatan.

 

 

Prang

Prang

Prang

 

Langsung hancurlah segala  pengharapan. Terlebih gue tiba satu hari setelah gay parade di hari Minggu. Petugas kebersihan pada libur. Alhasil gue disajikan dengan pemandangan kanal penuh sampah mengambang-ngambang, WC pesing dan kaca jendela bandara yang penuh bercak tangan.

 

Yang ada, gue dan mamih malah bermain membanding-bandingkan bandara megah ini dengan bandara domestik Indonesia. Kalau sama terminal 3 Soekarno Hatta mah lewat, jangan bandingin sama ibu kota dong. Kalau Ngurah Rai? Iya boleh tuh, tapi yang sebelum direnov ya… Oh, Hang Nadim kali ya? Iya tapi kayaknya bersihan Hang Nadim juga deh. Ini! Adi Sucipto! Nah agak mirip!

 

Gue sampai ketawa ngakak-ngakak ketika petugas imigrasi berusaha meminta jaminan gue bakal keluar dari negara ini setelah visa gue expire. Ih, jangan khawatir meneer, siapa juga yang mau tinggal di sini, enakan negara saya kok! Sampai si meneer bingung dan heran sendiri melihat gue ketawa-tawa.

 

Saat itu gue teringat beberapa hari sebelumnya bertemu dengan seorang anak pengusaha lulusan barat yang nampaknya susah move on dari kenangan masa kuliahnya. Ia mengeluhkan betapa orang Indonesia itu punya mental yang bobrok. Perlu di-upgrade. Makanya negaranya ga maju. Harus belajar dari Amerika, dari negara Barat, yang PD besar, sehingga sakses.

 

Tiba-tiba gue merasa marah.

Sangat marah.

 

Siapa kemarin yang berani ngatain negara gue tertinggal? Siapa yang berani nyuruh gue belajar ke negara lain? Di saat gue pergi ke negara lain dan masih bisa menemukan banyak hal yang negara gue bisa kerjakan lebih baik?

 

Yang berani koar-koar negara lain lebih superior pasti belum pernah ke luar negeri! Norak! Kalau sudah pernah pasti akan sadar bahwa Indonesia itu gak tertinggal sama sekali.

 

Gue Cina. Mana ada Cina nasionalis, ya kan? Bagi gue ini bukan bela negara, tapi lebih ke arah melihat sesuatu dengan cara yang lebih rasional. Dan serasional dan seobyektif gue menghina negara sendiri, gue juga harus berani mengakui bahwa negara gue, nggak jelek-jelek amat, kok!

 

Coba dipikir, Indonesia, sudah kekayaan alamnya dikeruk 350 tahun sampai kering, setelah merdeka anggarannya dikorupsi 98%, tapi hanya dalam waktu 68 tahun, bisa mengejar ketinggalan sehingga turunannya bisa ngenye ke negara penjajahnya.

 

Sedangkan negara lain, yang sudah membangun jor-jor-an dengan uang Indonesia 350 tahun, konon punya budaya lebih superior, tapi ternyata kemajuannya biasa-biasa aja tuh. Masih pada naik sepeda onthel, bukan ‘seli’ apalagi ‘fixie’ seperti di Jendral Sudirman. Ke mana aja 70 tahun ‘ditinggal’ Indonesia?

 

Dan fakta ini mengindikasikan bahwa kita nggak ngoyo aja bisa membangun cukup pesat. Apalagi kalau bangsanya sungguh-sungguh ingin mengembangkan diri? Pastinya Indonesia bakal jadi negara termasyur di dunia, yang tiada terkalahkan dan tiada bandingannya. Nggak bangga apa jadi orang negara kaya?

 

Gue sadar, di banyak area Indonesia memang masih tertinggal. Ibukotanya ga punya MRT rapih bersih modern seperti di Rotterdam. Airportnya nggak punya sistem akses kota yang cenggih seperti Schipol. Nggak punya kanal anti banjir seperti Amsterdam.

 

Dari sisi kesejahteraan juga gue yakin Indonesia masih kalah secara rata-rata. Banyak orang kaya, tapi juga banyak orang miskin tak tertolong. Salah, kalau gue jadi bangga buta lalu tidak mau belajar dari negara lain.

 

But hey, don’t be too tough to ourselves! Bangga sedikit menjadi orang Indonesia! Belanda aja bangga kok pernah berinteraksi dengan Indonesia! Di jalan-jalan gue dengan mudah menemukan nama ‘Jalan Jawa, Jalan Borneo, atau bahkan hotel Multatuli, nama samaran Eduard Douwes Dekker.

 

Seorang tante anak gubenur karesidenan Belanda di Bandung yang ketika ditanya kamu orang mana, akan dengan bangga menjawab, saya orang Indonesia, semata karena ibunya turunan Sunda.

 

Rasanya sudah waktunya kita melepaskan diri dari penjajahan mental. Gue tidak akan mewajari jika ada orang bule, dari negara manapun, dibayar lebih tinggi dan menerima fasilitas lebih baik meski dengan jabatan yang sama.

 

Gue sudah pernah lihat universitasnya, gue sudah pernah lihat cara kerjanya membangun negeri. Dan gue yakin biarpun gue orang Indonesia, gue mendapat edukasi dan punya kualitas yang sama. Justru karena gue orang Indonesia!

 

Saat itu juga, setiap kali ada londo yang bertanya karena bingung melihat penampilan gue yang Asia ini di tengah-tengah kaum kaukasia, gue menjawab dengan lantang, gue dari Indonesia.

 

Dan saat ada yang menanyakan bagaimana Indonesia, amankah, indahkah, miskinkah? Gue menjawab “Better than here! You should come and see yourself!”

 

Semoga kebanggaan gue, tidak menjadi kesombongan…

 

* Kelewatan banget, dalam bahasa Belanda.

5th September 2013 | 9:25 am |

no

Respon