Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

4-samalona

Padang-Venture

I was cursed.

 

Dalam sebuah dialog antar umat beragama, gue bertemu dengan seorang pemuda Minang beragama Islam. Dalam kesempatan itu, gue mengemukakan keyakinan bahwa orang dengan agama dan suku yang berbeda dapat hidup berdampingan.

 

Keyakinan gue kemudian diuji ketika pemuda tersebut menawarkan untuk menjalankan hubungan pacaran. Ia berhasil membalikkan semua kata-kata gue. Karena gue tidak menemukan alasan untuk menolak, maka ya sudah gue terima saja.

 

Sepanjang yang gue ingat, pemuda ini tampan, tinggi, anak orang kaya, pintar dan anak basket. Lagipula gue tidak mungkin menelan kata-kata gue sendiri bahwa pluralisme akan memperindah hidup blah-blah.

read more

8th December 2014 | 8:50 am |

2

Respon

A Sweet and Tinder Love

Setelah dua tahun menjomblo, seorang rekan kantor berhasil mendapatkan pacar dalam waktu dua hari saja. Rahasianya? Sebuah aplikasi dating bernama Tinder.

 

Gegap gempita langsung melanda kantor. Mbak Mi yang telah menjadi social media manager rekan kantor yang bersangkutan sibuk memberi kesaksian pujian tentang efektivitas Tinder dan online dating dalam mengakhiri kesendirian.

read more

17th November 2014 | 2:28 pm |

one

Respon

The Most Beautiful Country on Earth through Kupang

“Wuihhh Sunset!!!!” Gue menjerit sambil melompat dari gazebo tempat gue duduk-duduk cantik di tepi pantai Kupang. Buru-buru mengambil kamera, mengabadikan pemandangan yang konon adalah salah satu yang terindah di Indonesia.

 

sunset, kupang

Sore-sore menanti matahari terbenam di Kupang

Bapak dan Ibu guru yang mengantar siang itu hanya mencibir kecil melihat kelakuan gue yang pecicilan. Biarin, dalam hati gue berbisik, gue kan emang dari Jakarta, kota yang sunsetnya kelabu ketutupan asap dan debu, boleh dong gue norak.

 

“Minggu lalu saya diajak ke Bali juga ngeliat beginian,” Bapak Guru memulai ceritanya.

“Ahhh.. kayaknya nggak sebagus ini deh Pak,” gue membela kenorakan gue.

“Iya, memang,” jawabnya datar.

 

Lalu mengalirlah cerita perjalanan Bapak Guru di Bali. Di sore yang terik ia dibawa ke Tanah Lot, lihat sunset katanya.  Setelah menunggu di bawah panas berjam-jam, akhirnya datang juga sunset itu. Dan reaksinya adalah, “yah, yang kayak begini mah di Kupang juga ada setiap hari, lebih bagus pula!”

read more

20th October 2014 | 4:43 pm |

3

Respon

Cowok Pepetan

“Jadi, harusnya dipepet atau enggak nih?”

“PEPET LAHH!! Udah umur berapa inii? Mau sampe kapan lagi loe nunggu terus diserobot orang! Jemput ke kantor! Santronin rumahnya tiap hari! SANTET semua saingan!”

“Ya elah siiisss…. Susah-susah amat, klo mau cepet kawin mah, loe pindah agama aja, pake atribut agamanya, terus pindah ke daerah X, pasti ada yang kasian trus mau ngawinin eloe!”

“Ya nggak se-desperate itu juga kali Gy, masa asal dapet doang?”

“YA ITU DIA MAKSUD GUEEE! LOE MAU ASAL KAWIN AJA??”

read more

13th October 2014 | 2:59 pm |

8

Respon

The Long Awaited Story about… Aceh

Margie berjilbab.

 

Margie: mulut sampah, senonoh, celana pendek, tank-top. Berjilbab: Santun, tertutup, bahan panjang. Dua kata yang mengandung signifikansi berlawanan. Yang ketika digabungkan menjadi sama absurdnya dengan 100 persen kehadiran anggota DPR.

 

Maka Margie ke Aceh, menjadi sebuah konsep yang sama absurdnya. Kata orang, kalau ke Aceh itu harus pakai jilbab, soalnya ada hukum syariah Islam, kalau nggak pake bisa dicambuk, atau dirajam pakai batu.

 

Sedangkan Margie, tidak pernah punya baju tertutup seumur hidupnya. Dari bocah selalu milih celana pendek sama kutang. Dipakein rok panjang sedikit langsung nangis. Gimana caranya Margie bisa ke Aceh?

read more

6th October 2014 | 2:52 pm |

one

Respon
next