Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

28-camping-village

Padang-Venture

I was cursed.

 

Dalam sebuah dialog antar umat beragama, gue bertemu dengan seorang pemuda Minang beragama Islam. Dalam kesempatan itu, gue mengemukakan keyakinan bahwa orang dengan agama dan suku yang berbeda dapat hidup berdampingan.

 

Keyakinan gue kemudian diuji ketika pemuda tersebut menawarkan untuk menjalankan hubungan pacaran. Ia berhasil membalikkan semua kata-kata gue. Karena gue tidak menemukan alasan untuk menolak, maka ya sudah gue terima saja.

 

Sepanjang yang gue ingat, pemuda ini tampan, tinggi, anak orang kaya, pintar dan anak basket. Lagipula gue tidak mungkin menelan kata-kata gue sendiri bahwa pluralisme akan memperindah hidup blah-blah.

read more

8th December 2014 | 8:50 am |

2

Respon