Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

dsc0699

Sirik Muncul, Dukun Bertindak

Siapaaa tuuu DIA!! Berani-beraninya! Gue cari tau! GUE CARI SAMPE KETEMU! Emang dia pikir dia siapa!! Demikian sebuah pesan dari mantan seorang teman muncul di layar.

“FYI yah, bentar lagi, loe bakal di-stalk sama dia di mana-mana. Dia pasti bakal nge-google nama loe, terus abis itu dia bakal cari tau social media loe.. terus dia bakal muncul dalam idup loe.” sang teman memberi preambule.

“Aduh, bro! Bilangin deh, nggak usah nyari-nyari gue di internet, bener deh!”

“Lah, loe aja yang bilangin, gue males banget ngomong ma die lagi!”

“Lah, gue urusan ape! Pernah ketemu juga kagak! Tapi beneran brooo.. gue tuh uda pernah disantet! Pokoknya bilangin, kalau dia mau nyari gue, DO NOT GOOGLE my name!”

Tentu saja, seperti sebuah kotak Pandora, pernyataan gue itu malah dilakukan sebaliknya. Dan dalam waktu cukup singkat, terjadilah histeria yang tadinya ingin gue hindari itu.

 

Ohhh ituuu orangnyaa!! Pantesan ya! Dia pikir dengan begitu dia bisa seenak-enaknya! Sedangkan aku…aku cumaa…blahblahblahblah

 

Gue menghela nafas panjang. Gue tidak basa-basi pada saat meminta tidak meriset via internet. Gue sungguh-sungguh. Karena gue tahu apa yang akan dibawa oleh kegiatan tersebut.

 

The mother of all evil. Yang membuat Kain membunuh Habel. Yang berada di tingkat teratas tujuh dosa utama. Yang bisa melahirkan kejahatan-kejahatan tingkat tinggi lainnya, seperti santet, bunuh-bunuhan, bantai-bantaian. Rasa Sirik.

read more

24th February 2015 | 10:29 am |

no

Respon

Pura-Pura Bego

“Tipe cowok loe yang kayak apa sih, Gy?” Seorang teman lelaki membuka pembicaran suatu sore.

“Apa aja deh, asal nggak minder,” jawab gue cepat, sambil meneliti beberapa proposal.

“Maksudnya?”

“Maksudnya!” Gue menatap lurus, nantangi.

“Ohh! Ngerti-ngerti, ya abis loe terlalu mandiri sih Gy, cowo-cowo jadi pada takut! Kurang-kurangin lah, bisnis loe, ngejer karir, nggak usah terlalu sukses lah!” ujarnya sok bijak.

“Eh loe nyuruh gue nggak kerja, terus siapa yang mau ngasi gue makan? Beliin gue tas? Nganterin gue jalan-jalan? ELOE?” gue menjawab sewot sambil kembali menekuni proposal di tangan.

 

Dia nggak tau aja,  I’ve been pretending dumb and unsuccessful since junior high school. Sejak cinta gue ditolak seorang pria karena rapor gue yang rata-rata nilainya 9. “Ketinggian,” begitu komentarnya.

read more

1st February 2015 | 11:11 am |

3

Respon