The New Majority

“Lu pulang kagak bawa pacar?” tanya mamih, sesaat setelah gue menyelesaikan ziarah Eropa gue 3 minggu. “Kagak,” gue menjawab datar “Ah elu mah di sono kagak mau nyari, ntar di sini dapetnya yang beda agama lagi,” mamih berkomentar kuciwa. “ Yee Mak, Eropa sekarang udah nggak kayak dulu lagi! Udah ada pergeseran tren mayoritas!” gue berargumen. read more

10

Geser Agama

Seorang kenalan pernah mendapat cap sebagai smooth talker. Cara bicaranya manis, seumur hidupnya tidak pernah ditolak lawan jenis. Salah satu rayuan andalannya di masa itu adalah, bahwa ia akan mengikuti keyakinan pacar/ gebetan yang diincar.

 

Pada pacarnya yang beragama Kristen dan Katolik, ia mengklaim selalu bersekolah di institusi yang bernafaskan agama tersebut. Oleh karena itu, sudah secara natural ia jadi punya pengetahuan lebih dalam, mungkin daripada agamanya sendiri. Karenanya, tidak akan menjadi beban untuk berpindah agama.

 

Pada pacarnya yang beragama Budha dan Kong Hu Cu, ia akan berkata bahwa ia selalu tertarik pada agama tersebut. Sangat lembut dan mengajarkan cinta kasih. Satu-satunya agama mungkin yang tidak pernah berperang di masa lalu dengan agama lain. Sungguh mendamaikan.

 

Sedangkan pada pacarnya yang beragama Islam, ia tentu akan mengklaim dilahirkan dalam agama tersebut, sudah pasti, dengan mendalami sedikit lebih jauh, ia dapat menjadi seorang Imam yang baik bagi keluarganya kelak.

 

Sudah pasti, semua perempuan yang didekatinya klepek-klepek dengan janji semacam ini. “Dia sampe mau pindah agama demi gue!” demikian mereka akan berkata dengan mata berbinar-binar. Yang biasanya akan gue jawab datar, “kayaknya pernah denger.” Tentunya, tanpa bisa memadamkan cinta temen-temen gue itu.

read more

18th March 2015 | 3:44 am |

3

Respon