China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

1-pantai-ujung-genteng

Dating the Taken One

15 menit menuju misa malam Paskah. Seorang teman di samping tiba-tiba memecah kesunyian.

“Menurut loe, gue perlu ngucapin selamat Paskah nggak abis ini?”

“Buat apaan?” gue menjawab setengah berbisik.

“Yaa.. mancing-mancing aja..”

“Jangan mancing kalau loe nggak yakin dapetnya apaan, tau-tau ditangkep hiu, loe yang kemakan!”

“Ah loe mah.. lha loe sendiri bakal ngasi ucapan nggak”?”
“YA IYALAH GUE BAKAL NGUCAPIN! DIA BUKAN LAKI ORANG” jawab gue agak lantang, tetangga-tetangga kami mulai nengok.

Pembicaraan semacam ini, tentang perempuan yang mengencani suami orang, selayaknya terjadi di sebuah bar, di antara perempuan-perempuan dengan rok mini yang nggak pake bra. Tapi tidak, pembicaraan ini terjadi di sebuah gereja, di antara dua orang perempuan yang punya pekerjaan normal dan baik-baik.

 

Dan fakta ini membuat gue teringat satu perbincangan yang menyadarkan gue, betapa jadi umumnya kasus percintaan terlarang semacam ini.Di suatu makan malam, tercetuslah statistik mencengangkan. 3 dari 4 perempuan di meja makan malam itu, pernah menjadi selingkuhan pria beristri.

read more

12th May 2015 | 8:56 am |

one

Respon