15 49.0138 8.38624 1 0 4000 1 http://www.margarita.web.id 300 0

Dating the Taken One

0 Comments

15 menit menuju misa malam Paskah. Seorang teman di samping tiba-tiba memecah kesunyian.

“Menurut loe, gue perlu ngucapin selamat Paskah nggak abis ini?”

“Buat apaan?” gue menjawab setengah berbisik.

“Yaa.. mancing-mancing aja..”

“Jangan mancing kalau loe nggak yakin dapetnya apaan, tau-tau ditangkep hiu, loe yang kemakan!”

“Ah loe mah.. lha loe sendiri bakal ngasi ucapan nggak”?”
“YA IYALAH GUE BAKAL NGUCAPIN! DIA BUKAN LAKI ORANG” jawab gue agak lantang, tetangga-tetangga kami mulai nengok.

Pembicaraan semacam ini, tentang perempuan yang mengencani suami orang, selayaknya terjadi di sebuah bar, di antara perempuan-perempuan dengan rok mini yang nggak pake bra. Tapi tidak, pembicaraan ini terjadi di sebuah gereja, di antara dua orang perempuan yang punya pekerjaan normal dan baik-baik.

 

Dan fakta ini membuat gue teringat satu perbincangan yang menyadarkan gue, betapa jadi umumnya kasus percintaan terlarang semacam ini.Di suatu makan malam, tercetuslah statistik mencengangkan. 3 dari 4 perempuan di meja makan malam itu, pernah menjadi selingkuhan pria beristri.

“Kayaknya cewe yang di belakang itu selingkuh deh, pasti cowoknya udah punya istri,” Samantha membuka pembicaraan malam itu.

“Masa sih? Loe tau dari mana?” Charlotte melongo bertanya.

“Gue kan pernah jadi selingkuhan laki orang, gue tahu lah,”

“Hah? Loe pernah selingkuh sama laki orang?”

“Pernah,” jawab Samantha, Miranda dan Carrie sesaat berbarengan.

 

Charlotte, melongo, mendengar pengakuan sahabat-sahabat barunya itu.

“Nah lho!” Carrie mencelos tertawa, mengingat Charlotte, satu-satunya yang sudah menikah dan punya anak satu.

 

“Tapi buat apa?” Charlotte bertanya. Yeah. Kenapa coba. Begok amat jadi perempuan. Uda tau laki orang masih disikat. Pasti gold digger. Belom lagi kagak takut dosa apa? Dibakar di api neraka sambil ditusuk-tarik-tusuk-tarik pakai timah panas?

 

Padahal sahabat-sahabat Charlotte ini, bukan tipe yang kurang pintar. Tipe yang, well, karena tidak diberi berkah di departemen yang lain, harus kerja keras, putar otak, memanjat tangga karir hingga berada di posisi yang cukup baik seperti sekarang.

 

Ternyata memang uang bukan sesuatu yang dicari para wanita ini. Ironisnya, obyek selingkuhan para wanita ini juga terkadang pria yang secara level ekonomi sederajat saja.  Yang dicari? Sekadar kharisma, janji manis dan kematangan pribadi.

 

Miranda, mengawali skandalnya dalam sebuah minum-minum pekerjaan. Ngobrol seru dengan pria yang lebih dewasa dan lebih banyak melalui pahit-pahitnya hidup, diakhiri dengan kata ‘you’re actually my type’, meluluhkan hati Miranda.

 

Bekerja dengan industri yang sama juga membantu obrolan ‘terlarang’ itu untuk terus berlanjut, hingga akhirnya Miranda percaya, bahwa to get a man of this quality, rasanya sulit jika belum pernah menikah sekaliii aja.

 

Sedangkan Samantha, sedang menempuh S2 MBA ketika bertemu dengan si Mas-nya, saat itu belum jadi suami orang. Ganteng, tinggi besar, keren, good in everything that comes out of him. Kenyataan si masnya sudah punya pacar tidak menciutkan nyalinya untuk tetap bersama. Selama janur kuning belum berkibar, katanya.

 

Samantha sempat hancur berkeping-keping ketika Mas-nya menikah. Sampai turun berat badan 10 kg dan jadi cantik, eh. Namun dengan segala bujuk rayu maut bahwa segala perasaan Mas-nya tidak berubah meski telah menikah, Samantha gagal move-on dan malah turun pangkat jadi selingkuhan orang.

 

“Ya tapi kalian tahan gitu, digilir?” Charlotte bertanya makin frustrasi.

 

Secara mengejutkan lagi, justru kelemahan hubungan semacam ini jadi ‘kelebihan’ buat Samantha dan Miranda. Keterbatasan bertemu hanya di hari kerja justru membuat Samantha dan Miranda jadi bisa mengatur waktu lebih baik.

 

“Banyak cowok yang setres ngeliat kesibukan gue. Akhirnya mereka pada insecure sendiri, kok gue lebih banyak kerjaannya dari die. Nah kalau yang ini, mana peduli! Dia aja ribet ngatur waktu sama bininye!” Miranda mengklaim.

 

Mereka juga nggak perlu riweh dengan aturan-aturan berpacaran seperti pasangan pada umumnya. Nggak harus malem mingguan, nggak harus ketemu setiap berapa jam sekali, nggak harus saling telpon atau SMS secara rutin.

 

Samantha, pada masanya selalu merasa bersyukur tidak perlu malem mingguan. “Macet di mana-mana, rame di mana-mana, apa-apa rebutan. Gue emang nggak pernah suka keluar weekend. Emang apa bedanya sih pacaran hari biasa sama hari Sabtu?” ujarnya dulu.

 

Permasalahan ego bahwa mereka bukan yang pertama? Ahhh… Samantha dan Miranda nggak ambil pusing. “Itu permasalahan loe tau apa enggak aja. Masih untung loe tau. Lagian cowo yang biasa aja juga selingkuh kok, mending cowo yang lumayanan dong?” alibi Miranda.

 

Samantha mengangguk setuju. “Gue juga nggak kepengen cepet-cepet kawin, jadi pas lah, punya pacar yang nggak bisa dinikahin!” Cetusnya enteng.

 

Lalu bagaimana caranya mengakhiri hubungan yang terkesan lancar-lancar aja ini? Semudah mereka terjerat, semudah itulah bagi Miranda dan Samantha untuk mengakhiri hubungan bertahun-tahun.

 

Pada dasarnya, hubungan mereka dilandasi oleh asumsi-asumsi tertentu. Maka ketika asumsi tersebut terpatahkan, hubungan merekapun kehilangan nilainya.

 

“Ketika gue lihat di depan gue, dia gandengan sama istrinya, and everything seems fine, that’s how I know it should be over,” Miranda mengenang malam gala dinner saat ia memutuskan bahwa enough is enough.

 

“Gue tahu dia punya istri, tapi gue nggak pernah melihat mereka berdua dalam situasi yang normal aja,” kenangnya, “ Melihat sendiri betapa mereka baik-baik aja, nggak seperti pasangan yang saling benci seperti yang diceritakan membuat gue bertanya, so where I stand?” lanjutnya.

 

Keesokannya Miranda berganti pekerjaan, tidak pernah lagi merespon sang kekasih bertahun-tahun.

 

Sedangkan untuk Samantha, adalah sebuah telepon tengah malam dari seorang perempuan yang mengaku istri dari Mas-nya, yang bukan istri sah Mas-nya yang diketahui Samantha.

 

Tidak percaya dengan klaim perempuan di telepon itu, Samantha meminta berbicara langsung dengan Mas-nya. Samantha mendengar langsung suara kekasihnya berkata, “ya, itu istri saya, jangan ganggu saya lagi.”

“Oh ya sudah,” jawabnya datar.

 

Selama ini, Samantha selalu percaya pada asumsi bahwa jika istri Mas-nya tidak rela melakukan segala sesuatunya dan menerima kelakuan Mas-nya dan menolak diceraikan, Samanthalah yang akan dipilih Mas-nya.

 

Namun ketika ternyata dia harus berkompetisi dengan lebih dari satu perempuan, terlepas dari apapun alasannya, ‘that’s just too much,” jelasnya. Setelah telepon itu, ia melanjutkan baca buku dan segala perasaan bertahun-tahun seolah luruh.

 

“Kalau Carrie?” Tanya Charlotte, agak takut-takut mendengar kisah nekad teman-temannya. Kenapa dari tadi belum cerita, apa ceritanya paling ngeri.

 

“Dua kali, waktu itu gue masih kuliah, masih miskin. Kebetulan dulu gue ambil kerjaan foto dan gue pengen minjem tele-nya yang kualitas mahal itu.. Kalau yang satu lagi.. oh itu narasumber gue aja sih, susah banget soalnya dapet infonya, ya udah dipacarin aja biar gampang..” jawab Carrie enteng.

 

“Akhirnya?” Tanya Charlotte penasaran.

 

“Ohh, gue keterima kerjaan lain, jadi nggak perlu pinjem lensa lagi. Kalau yang satu lagi yaa… Ceritanya udah kelar, udah publish, jadi ya udah nggak ada gunanya lagi..” Carrie menjawab tenang.

 

“Segitu aja? Dia nggak janji-janji gitu?” Tanya Charlotte penasaran.

“Ya iya lah pasti, udah templatenya. Katanya nggak hepi sama istrinya, nikahnya kepaksa, mau urus cerai, yada…yada..yada.. Kenyataannya? Ampe sekarang udah tujuh taon juga kagak cerai!” Carrie menjawab santai.

“Terus loe?”

“Ya what do you expect gitu loh? He’s not that into you if he’s not marrying you! Semuanya itu tentang ekspektasi bok.. kalau gue ya.. yang jelas-jelas aja dapetnya apa.. kalau nyari cinta ya jangan di situ lah… Udah nggak ada stoknya..”

 

Dan kenyataan itulah yang akhirnya menyadarkan 3 dari 4 perempuan itu bahwa janji-janji dan kisah sedih malam Jumat para pria-pria beristri itu nggak laku lagi. Pada klaim bahwa mereka tidak bahagia dengan pernikahannya, ingin cerai, cintanya hanya sama perempuan lain.. blahblah.. hanya ada dua kemungkinan: They’re either a coward or a liar.

 

Jika bener nggak hepi dengan pernikahannya, kok segitu nggak beraninya mengambil keputusan untuk diri sendiri? Sedangkan yang perempi-perempi aja begitu tangguh memilih keputusan yang terkadang tidak popular untuk dirinya sendiri.

 

Atau.. mungkin mereka sekadar bohong saja. Sebenarnya semuanya baik-baik aja, tapi kalau bisa dapat siraman cinta lebih dari satu perempuan kenapa harus cuma satu?

 

Hingga akhirnya, kisah semacam itu hanya jadi guyon di tengah mereka yang melakukannya, seperti pada Samantha di sebuah garage sale.

 

“Loe yakin ini mau dijual?” dengan muka songong Carrie melambai-lambaikan sebuah buku manajemen.

“Apaan sih? Ya iya lah dijual masa dimakan,” Samantha, pemilik buku menjawab acuh tak acuh.

“Banyak kenangannya lho… Priceless!” Carrie menggoda, sambil mengeluarkan dua buah tiket nonton film tahun 2000an, beserta selembar kartu nama.
Sesaat Samantha melongo, lalu merespon,” adoohh… apaan sihh!” ujarnya sambil mengambil kedua tiket lalu melemparnya ke tempat sampah.

 

“Memoriiii.. kau membukaaa.. luka lamaa…” Carrie membully sambil nyanyi-nyanyi. Suasana di garasi rumah langsung riuh. Ada apa nih, ada apa nih? Siapa tuh? Siapa tuh? Demikian teman-teman langsung kepo.

 

“Kagak ada apa-apa! Bukan sapa-sapa! Laki orang!” cetus Samantha sambil misuh-misuh. Seperti dua tiket nonton dan satu kartu nama, yang tersimpan begitu lama hingga memudar dalam sebuah buku, akhirnya semua berakhir di tong sampah.

Previous Post
Dendam Nyi Blorong
Next Post
Mulut Rambo Hati Rinto

0 Comments

Leave a Reply