China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

8-pernah-liat-tv-setua-ini-masih-hidup_0

I do or I do not

“Loe kenal sama pasangan yang nikah gara-gara cinta, nggak Gy?”

Pertanyaan menohok itu diajukan di tengah padatnya tempat duduk yang tersusun saling menempel dalam sebuah kafe yang buka 24 jam. Gumpalan asap rokok yang mengepul dari hampir semua pengunjung, menciptakan awan putih yang menyesakkan, seolah menambah berat pertanyaan yang baru diajukan.

 

Gue berpikir sesaat lalu mengangkat wajah gue dari botol bir yang sedang gue putar-putar itu. Seperti biasa, teman yang patah hati, gue yang mabok. Semacam penyaluran emosi dari satu individu dan dihempaskan lewat gue.

“Not much from my circle of friend,” gue menggumam menjawab, lalu kembali meluruskan tatapan pada meja penuh bercak yang tidak sempat dibersihkan setelah pengunjung sebelum kami.

read more

25th September 2015 | 3:45 am |

4

Respon