China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

1-candi-yang-cantik

Bunda

“Kok kamu belum mati sih?” demikian pertanyaan yang diajukan di pertemuan pertama kami, sambil menerawang melihat tubuh gue seolah tembus pandang. Bunda, demikian para ‘pasien’nya memanggilnya, dikenal tetangganya sebagai ‘paranormal’, adalah seorang pendoa dari Muntilan.

read more

2nd November 2015 | 7:07 am |

6

Respon