Nikmatnya Jadi Gila

I have a confession to make.

 

Ada masanya gue mendapat akses ke akun seseorang yang… cukup ekstrim. Ekstrimnya kiri atau kanan, sebaiknya tidak dibahas di sini. Namun yang jelas, berkat pernyataan-pernyataannya di jejaring sosial, ia telah kehilangan puluhan orang teman yang merasa pemilik akun sudah kurang waras.

 

Yang punya akun tidak keberatan gue utak-atik, mengira gue memang tulus membantu mengungkapkan visi. Sedangkan bagi gue, ini kesempatan menikmati memiliki alter-ego, tanpa perlu mengorbankan image.

 

I had a blast. Gue meng-copy dan share link-link dari media-media kurang kredibel yang pemrednya sebagian sudah terjerat UU ITE, macam komporakyat, mrikionline, dan lain sebagainya. Lalu gue tambahkan komentar-komentar panas. Gue mengerahkan segala kemampuan gaya Bahasa hiperbolik untuk tampil picik, judgemental, dan.. gila.

 

Hasilnya, gue menulis biasa aja banyak yang sewot, apalagi kalau gue nulis yang ekstrim. Komentar-komentar berdatangan. Sebagian besar menghujat, menimpali dengan fakta-fakta yang berlawanan. Semakin dilawan gue semakin menggila. Betapapun rasionalnya fakta yang diberikan, gue akan meradang melawan dan membantah dengan fakta yang lebih aneh lagi. Gue membalasnya sambil ketawa-ketawa di posisi jungkir balik.

Sapa Suruh Dateng Jakarta, Cina!

“Ini apa hubungannya sih demo penistaan agama sama ngejarah Indomaret di Pluit?”
“Ya emang kagak ada, yang satu alasannya rohani, yang satu sih duniawi! Itu mah bagian dari kontrak aje!”
“Hah? Kontrak apaan?”

 

Ketika aksi damai menuntut proses hukum Ahok berlanjut ricuh, seluruh jejaring media sosial, whatsapp, dan media dipenuhi teriakan protes bernada kebencian. Gue memilih pasif, jadi pengamat penerima semua pesan, baik pro maupun kontra.

 

Alasan pertama adalah karena semua opini gue sudah tertuang sempurna oleh tulisan lain. Alasan kedua, gue sedang mau menghayati ‘peran’ gue sebagai seorang keturunan Cina yang tinggal di Indonesia.

In Memoriam: 3in1

Minggu ini adalah minggu pertama diberlakukannya peraturan ganjil genap di semua area bekas 3in1 di Jakarta. Memang sih, uji cobanya sudah dari bulan-bulan lalu, tapi kalau belum ada surat tilangnya kayaknya kurang nendang.

 

Gue tidak tahu apakah aturan ini baik atau tidak. Yang jelas, selama antrian busway di peak hour masih 45 menit, gue tetap akan mencari cara agar mobil ganjil gue bisa lolos di tanggal genap. Tapi gue yakin, aturan ini lebih baik daripada aturan 3in1 jaman dulu.

 

Selain karena mencegah anak kecil berkeliaran sebagai joki di jam sekolah, aturan ini juga mencegah dosa. Minimal, kebohongan di sistem ini yang kepikiran baru bikin plat palsu. Sedangkan 3in1 memberikan begitu banyak celah untuk berbohong, mengarang cerita palsu sehingga otomatis menjadi ladang dosa gue.

 

Bayangkan, gue punya TIGA kartu identitas perusahaan made-in-benhil yang gue contek desainnya dari internet. Gosipnya, perusahaan yang kantor pusatnya terletak di pengkolan jalan protokol ini punya perjanjian khusus bebas 3in1. Itu artinya TIAP HARI DUA KALI SEHARI gue telah berbohong tentang pekerjaan asli gue.

 

Demi mengenang momen 3in1 yang begitu berkesan, gue merangkum beberapa KEBOHONGAN atau pemelintiran fakta yang pernah gue dan teman-teman lakukan guna menghindari 3in1

The RIGHT Time

“Gy, gue udah pacaran sebulan kok belom diapa-apain ya?”

 

Pertanyaan itu memecah keriuhan denting cangkir teh herbal di tengah kafe yang bangkunya semakin berdempetan sejak kasus pembunuhan legendaris di tempat itu.

 

“Loe tau nggak, di negara ini, banyak pasangan yang baru salaman di hari pernikahan!” gue memajukan badan setengah berbisik, sambil lirik kiri-lirik kanan di tetangga yang berjarak dua puluh senti.

 

“Lah ya bodo amat! Itu pasangan pada kawin umur 18 taon, gue mah udah umur segini, ga usah pake salam-salaman!” jawabnya, sekali lagi, dengan nada yang sama tingginya.

 

Gue tersenyum sambil memutar-mutar cangkir di tangan. Oh, ini pertanyaan klasik, dari perempuan-perempuan Indonesia yang lebih dari sepuluh tahun tinggal di luar negeri, dan kini sedang menghadapi proses ‘naturalisasi’ kembali hidup bersosialisasi dengan tatar budaya ketimuran.

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam setiap level keintiman sebuah hubungan?

Ugly Path in that Beautiful Plan: Renungan dari Santorini

Confirmed! This is the ugliest airport on earth.

 

Kami sedang duduk di lantai berdebu di tepi bandara Santorini bak pengungsi yang ditolak, menghadapi angin malam pantai yang mulai mendingin, ditumpuk 6 koper besar yang baru bisa di-check-in-kan 2 jam sebelum keberangkatan. Itu 4 jam lagi.

 

Ya tentu saja, ada bandara yang lebih kecil dari ini. Bandara Susilo di Sintang, Kalimantan Barat dengan ruang tunggu di warung indomie depan landasan juga lebih kecil. TAPIII kan tidak melayani penerbangan internasional dari Paris, Roma, Barcelona dan Madrid!

 

Otomatis, bandara JTR ini sudah mau meledak. Bau pesing menyeruak dari WC. Tempat duduk hanya 10 buah dirantai gembok. Jangan coba-coba nanya password WIFI. Dan kami, sudah pasti memilih berada di mana kek asal jangan di sini. Kami harusnya ada di Nice!

Civil War AADC 2: Rangga Vs Trian

“Lain kali kalau AADC ada triloginya, kalian pada nonton DVD di Rumah aja deh! Pada ribut sama pilihannya masing-masing yang gak bakal kesampaian itu!” demikian komentar seorang teman setelah kami nonton film Ada Apa Dengan Cinta  (AADC 2).

 

Menginjak usia yang ke-30, sekelompok perempuan alumni SMU yang sama ini memang sudah mulai kehilangan cara menonton film yang pasrah, tanpa kritik berlebih, termasuk pada alur film. Di akhir film, grup ini terbagi menjadi Tim Rangga dan Tim Trian.

 

Gue jelas termasuk tim Trian, si pacar baru dan tunangan Cinta. Gila aja loe. Apa sih salah Trian? Ganteng, berwibawa, mapan sejak lahir, baik hati, bijaksana…

 

“Tapi gantengan Rangga, ah!” begitu seorang Tim Rangga membela.

“Ya elah, namanya juga pemeran pendukung, ya dibikin nggak ganteng lah, dipeciin juga jadi ganteng! Turun dari mobil BMW juga jadi ganteng! Daripada Rangga musti sewa mobil, loe tau nggak sih aslinya mobil itu gampang mogok dan panas karena AC-nya sering mati!” gue membela.

 

Begitu fanatiknya dengan Tim Trian hingga di akhir film gue sibuk membagikan link ‘Surat Balasan Trian’ dan mengompori setiap orang yang gue ajak bicara tidak peduli gender, agama maupun latar belakang.

 

Hingga salah satu target kampanye Tim Trian tiba-tiba membalikkan kondisi. “Bagaimana jika dalam kehidupan nyata, Cinta itu lelaki, Rangga dan Trian itu perempuan, dan KAMU adalah Rangga?”

What (Gentle)Men Want

Rejeki orang memang tidak bisa ditebak. Seorang teman satu genk dan kerja kelompok di universitas jurusan jurnalistik dulu kini sudah menjadi pengusaha pemilik jaringan gentlemen club di Singapura.

 

“Wuih, bro, udah jadi orang loe ya sekarang!” gue memuji. Namun Joko, demikian saja namanya disebut, menepis. Menurutnya, dalam bisnis ini bukan dia yang meraup keuntungan terbesar. Adalah para flower girl (bukan dalam konteks upacara pernikahan) yang jadi paling kaya.

 

Flower Girl ini bertugas menari dan menyanyi bagi para tamu. Sebagai tanda apresiasi, para gentlemen yang datang akan mengalungi karangan bunga seharga 1000 SGD yang dibeli dari klub. Mirip metode sawer di dangdut pantura.

 

Dalam semalam, seorang flower girl bisa mendapatkan hingga 8 karangan bunga. Bayangkan, jika ia bekerja 3 hari seminggu saja, dalam sebulan ia akan meraup 96 ribu SGD. Itu untuk kelas flower girl yang biasa aja. Yang memang bintang panggung bisa menyabet lebih dari SGD 200.000 semalam.

Pelet (Bukan untuk Ikan)

 

Suatu kali ketika Bunda masih hidup, ia bertandang ke apartemen gue. Setelah berdoa bersama, Bunda bertanya ‘Nak, kamu pernah memikirkan lelaki yang seharusnya nggak kamu pikirkan ?’

Gue berpikir sejenak dan menjawab mantab, ‘gak tuh!’ Usut punya usut, Bunda mendeteksi seseorang yang berusaha mengirim pelet yang bukan buat ikan.

“Oh, emang kenapa sih Bun, mustinya ngomong aja dulu gitu!”
“Ya dia merasa kamu telah menolak dia,” jawab Bunda
“Ohh.. emang kenapa orangnya? Jelek banget?”
“Bukan gitu…”
“Ohh.. miskin?”
“BUKAN! Dia itu udah punya anak dan istri!!”

Dari segala jenis ilmu hitam yang pernah gue dengar, dari santet, sihir, celaka lintas, susuk dan teluh, gue paling takut sama pelet.

Ramalan Mama Margie

“Sorry, telat,” gue menyapa ceria, sembari merapikan tempat duduk di tengah kafe bergaya Perancis yang menjadi tempat pertemuan hari itu. Seorang teman, dengan seorang sepupu yang katanya sedang mengalami ‘masalah percintaan’.

 

“Nggak apa, Gy, mesen minum dulu,” ujarnya sambil menyodorkan menu. Gue melirik meneliti daftar minuman di hadapan. Sebelum menjatuhkan pilihan pada lemon chamomile hot tea dan langsung memanggil masnya untuk memesan.

 

“Kita udah pesen makanan, dicobain aja, Gy,” ia kembali menyodorkan makanan. Serantang pizza bertabur daun rucolla dan prosciutto, serta sepiring pasta pink sauce yang memamerkan potongan-potongan udang yang cantik.

 

“Oh iya, gampang,” gue menjawab, “Jadi, gimana-gimana, apa kabar?”

“Loe mau mulai cerita nggak?” sang teman menawarkan sang sepupu.
“Iya, boleh,” sepupu menjawab, lalu mulai membeberkan kisah asmaranya. Sebuah nomor klasik tentang pria posesif yang tidak nyaman dengan kekasihnya yang jauh lebih sukses, yang berakhir dalam sebuah perselingkuhan sekadar membalas kesal.

“Jadi menurut loe, dia bakal ngontak gue lagi nggak?” Tanyanya penuh harap.

 

Sesaat suasanya kafe yang memang agak remang gaya tahun 20-an itu berubah menjadi sebuah tenda sirkus. Gue di tengah, sambil memegang cangkir teh panas, dengan dua pasang mata menatap harap menanti jawaban.

In Search for That True Love

It’s a perfect proposal. Yang laki-laki, seorang pengusaha muda berwajah tampan yang tidak punya orientasi terhadap lawan jenis. Yang perempuan, wanita karir menjelang usia 30 dengan karir gemilang yang sudah dikejar deadline menikah.

 

Dengan menikahi yang laki-laki, yang perempuan akan terbebas dari pertanyaan yang ganggu setiap kumpul keluarga tanpa harus mengorbankan karirnya. Ia juga akan dapat mempertahankan gengsi di foto alumni bersama suami tampan. Belum lagi 50% harta kekayaan akan bertambah.

 

Setelah menikah, we’ll go separate ways, saran yang laki-laki. Yang perempuan tetap bebas mencari cinta (atau cinta-cinta) sejatinya.

 

Perfect, rite? Tapi Tince, yang perempuan, ternyata menolak lamaran ini.