Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

5-pura-pura-mati

Menjadi Perempuan

Ya oloh.. Kalau yang kayak gini yang disebut perempuan, terus kita tuh apaan dong? Demikian gue dan teman membatin dalam hati, sambil memandangi perempuan di hadapan kami.

 

Hari itu kami dikenalkan pada istri seorang teman yang baru dinikahinya seminggu yang lalu. Seorang wanita berjilbab bertubuh mungil berperawakan halus bertabiat santun. Pokoknya perempuan banget.

 

Dengan suara begitu lembut hingga tidak terdengar, ia menyebut namanya. Sambil mengulurkan tangannya yang gemulai ke depan, ia menundukkan sedikit kepalanya.

 

Sangking halusnya, gue sampai nggak berani menjabat tangannya keras-keras. Takut remuk. Gue megang kembang aja kadang kembangnya suka jadi layu. Jangan-jangan perempuan laksana bunga ini juga bakal layu kalau salaman sama gue!

 

Ibaratnya burung, dia itu burung merak yang menghabiskan hari memamerkan bulu dan mempercantik diri. Kami burung gagak, yang hitam dan sibuk mencabik-cabik bangkai. Sama-sama aves, tapi beda spesies.

 

“Kita nih kalau nggak telanjang, nggak bakal keliatan persamaannya sama dia,” sang teman berbisik. Betapa tidak, semua sifat yang ada padanya, tidak ada pada kami.
Gue menyambut dengan tawa tergelak-gelak, membuat beberapa teman lelaki yang sedang bersama kami melirik curiga terlihat tidak nyaman. Sangat tidak perempuan.

 

Insiden itu membuat gue bertanya-tanya, what makes a woman, a woman? Apa definisinya? Apa yang membuatnya berbeda dengan spesies yang lain yaitu laki-laki?

read more

23rd January 2016 | 4:57 pm |

7

Respon

Turning Back the Biological Clock

“Jadi loe mau ngambil paket yang mana? 5, 10, apa 15 tahun?” seorang teman bertanya sambil membolak-balik pamflet bewarna biru muda itu
“Maksimum 10 lah! Gila aja, 15 taon lagi loe udah 45, emang loe mau punya anak umur 45! Pas anak loe lulus SD loe udah pensiun!” Gue balas mencetus.

 

Mengawali tahun yang baru ini ada dua hal yang perlu kami antisipasi. Pertama, I’m turning 30, usia keramat bagi kaum perempuan. Kedua, pernikahan sepupu perempuan terakhir. Gue perlu menyiapkan solusi atas isu yang mungkin diangkat: Pembekuan sel telur.

read more

1st January 2016 | 3:46 pm |

2

Respon