Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

13ga-bisa-lebih-turis-dari-ini_0

Ramalan Mama Margie

“Sorry, telat,” gue menyapa ceria, sembari merapikan tempat duduk di tengah kafe bergaya Perancis yang menjadi tempat pertemuan hari itu. Seorang teman, dengan seorang sepupu yang katanya sedang mengalami ‘masalah percintaan’.

 

“Nggak apa, Gy, mesen minum dulu,” ujarnya sambil menyodorkan menu. Gue melirik meneliti daftar minuman di hadapan. Sebelum menjatuhkan pilihan pada lemon chamomile hot tea dan langsung memanggil masnya untuk memesan.

 

“Kita udah pesen makanan, dicobain aja, Gy,” ia kembali menyodorkan makanan. Serantang pizza bertabur daun rucolla dan prosciutto, serta sepiring pasta pink sauce yang memamerkan potongan-potongan udang yang cantik.

 

“Oh iya, gampang,” gue menjawab, “Jadi, gimana-gimana, apa kabar?”

“Loe mau mulai cerita nggak?” sang teman menawarkan sang sepupu.
“Iya, boleh,” sepupu menjawab, lalu mulai membeberkan kisah asmaranya. Sebuah nomor klasik tentang pria posesif yang tidak nyaman dengan kekasihnya yang jauh lebih sukses, yang berakhir dalam sebuah perselingkuhan sekadar membalas kesal.

“Jadi menurut loe, dia bakal ngontak gue lagi nggak?” Tanyanya penuh harap.

 

Sesaat suasanya kafe yang memang agak remang gaya tahun 20-an itu berubah menjadi sebuah tenda sirkus. Gue di tengah, sambil memegang cangkir teh panas, dengan dua pasang mata menatap harap menanti jawaban.
read more

12th March 2016 | 3:37 pm |

one

Respon