The New Majority

“Lu pulang kagak bawa pacar?” tanya mamih, sesaat setelah gue menyelesaikan ziarah Eropa gue 3 minggu. “Kagak,” gue menjawab datar “Ah elu mah di sono kagak mau nyari, ntar di sini dapetnya yang beda agama lagi,” mamih berkomentar kuciwa. “ Yee Mak, Eropa sekarang udah nggak kayak dulu lagi! Udah ada pergeseran tren mayoritas!” gue berargumen. read more

9-tak-ada-laut-sungaipun-jadi_2

Ramalan Mama Margie

“Sorry, telat,” gue menyapa ceria, sembari merapikan tempat duduk di tengah kafe bergaya Perancis yang menjadi tempat pertemuan hari itu. Seorang teman, dengan seorang sepupu yang katanya sedang mengalami ‘masalah percintaan’.

 

“Nggak apa, Gy, mesen minum dulu,” ujarnya sambil menyodorkan menu. Gue melirik meneliti daftar minuman di hadapan. Sebelum menjatuhkan pilihan pada lemon chamomile hot tea dan langsung memanggil masnya untuk memesan.

 

“Kita udah pesen makanan, dicobain aja, Gy,” ia kembali menyodorkan makanan. Serantang pizza bertabur daun rucolla dan prosciutto, serta sepiring pasta pink sauce yang memamerkan potongan-potongan udang yang cantik.

 

“Oh iya, gampang,” gue menjawab, “Jadi, gimana-gimana, apa kabar?”

“Loe mau mulai cerita nggak?” sang teman menawarkan sang sepupu.
“Iya, boleh,” sepupu menjawab, lalu mulai membeberkan kisah asmaranya. Sebuah nomor klasik tentang pria posesif yang tidak nyaman dengan kekasihnya yang jauh lebih sukses, yang berakhir dalam sebuah perselingkuhan sekadar membalas kesal.

“Jadi menurut loe, dia bakal ngontak gue lagi nggak?” Tanyanya penuh harap.

 

Sesaat suasanya kafe yang memang agak remang gaya tahun 20-an itu berubah menjadi sebuah tenda sirkus. Gue di tengah, sambil memegang cangkir teh panas, dengan dua pasang mata menatap harap menanti jawaban.
read more

12th March 2016 | 3:37 pm |

one

Respon