Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

6-gosong-cina

Civil War AADC 2: Rangga Vs Trian

“Lain kali kalau AADC ada triloginya, kalian pada nonton DVD di Rumah aja deh! Pada ribut sama pilihannya masing-masing yang gak bakal kesampaian itu!” demikian komentar seorang teman setelah kami nonton film Ada Apa Dengan Cinta  (AADC 2).

 

Menginjak usia yang ke-30, sekelompok perempuan alumni SMU yang sama ini memang sudah mulai kehilangan cara menonton film yang pasrah, tanpa kritik berlebih, termasuk pada alur film. Di akhir film, grup ini terbagi menjadi Tim Rangga dan Tim Trian.

 

Gue jelas termasuk tim Trian, si pacar baru dan tunangan Cinta. Gila aja loe. Apa sih salah Trian? Ganteng, berwibawa, mapan sejak lahir, baik hati, bijaksana…

 

“Tapi gantengan Rangga, ah!” begitu seorang Tim Rangga membela.

“Ya elah, namanya juga pemeran pendukung, ya dibikin nggak ganteng lah, dipeciin juga jadi ganteng! Turun dari mobil BMW juga jadi ganteng! Daripada Rangga musti sewa mobil, loe tau nggak sih aslinya mobil itu gampang mogok dan panas karena AC-nya sering mati!” gue membela.

 

Begitu fanatiknya dengan Tim Trian hingga di akhir film gue sibuk membagikan link ‘Surat Balasan Trian’ dan mengompori setiap orang yang gue ajak bicara tidak peduli gender, agama maupun latar belakang.

 

Hingga salah satu target kampanye Tim Trian tiba-tiba membalikkan kondisi. “Bagaimana jika dalam kehidupan nyata, Cinta itu lelaki, Rangga dan Trian itu perempuan, dan KAMU adalah Rangga?”

read more

22nd May 2016 | 2:21 pm |

one

Respon

What (Gentle)Men Want

Rejeki orang memang tidak bisa ditebak. Seorang teman satu genk dan kerja kelompok di universitas jurusan jurnalistik dulu kini sudah menjadi pengusaha pemilik jaringan gentlemen club di Singapura.

 

“Wuih, bro, udah jadi orang loe ya sekarang!” gue memuji. Namun Joko, demikian saja namanya disebut, menepis. Menurutnya, dalam bisnis ini bukan dia yang meraup keuntungan terbesar. Adalah para flower girl (bukan dalam konteks upacara pernikahan) yang jadi paling kaya.

 

Flower Girl ini bertugas menari dan menyanyi bagi para tamu. Sebagai tanda apresiasi, para gentlemen yang datang akan mengalungi karangan bunga seharga 1000 SGD yang dibeli dari klub. Mirip metode sawer di dangdut pantura.

 

Dalam semalam, seorang flower girl bisa mendapatkan hingga 8 karangan bunga. Bayangkan, jika ia bekerja 3 hari seminggu saja, dalam sebulan ia akan meraup 96 ribu SGD. Itu untuk kelas flower girl yang biasa aja. Yang memang bintang panggung bisa menyabet lebih dari SGD 200.000 semalam.

read more

3rd May 2016 | 1:31 pm |

one

Respon