The New Majority

“Lu pulang kagak bawa pacar?” tanya mamih, sesaat setelah gue menyelesaikan ziarah Eropa gue 3 minggu. “Kagak,” gue menjawab datar “Ah elu mah di sono kagak mau nyari, ntar di sini dapetnya yang beda agama lagi,” mamih berkomentar kuciwa. “ Yee Mak, Eropa sekarang udah nggak kayak dulu lagi! Udah ada pergeseran tren mayoritas!” gue berargumen. read more

9-borobudur-ala-postcard

In Memoriam: 3in1

Minggu ini adalah minggu pertama diberlakukannya peraturan ganjil genap di semua area bekas 3in1 di Jakarta. Memang sih, uji cobanya sudah dari bulan-bulan lalu, tapi kalau belum ada surat tilangnya kayaknya kurang nendang.

 

Gue tidak tahu apakah aturan ini baik atau tidak. Yang jelas, selama antrian busway di peak hour masih 45 menit, gue tetap akan mencari cara agar mobil ganjil gue bisa lolos di tanggal genap. Tapi gue yakin, aturan ini lebih baik daripada aturan 3in1 jaman dulu.

 

Selain karena mencegah anak kecil berkeliaran sebagai joki di jam sekolah, aturan ini juga mencegah dosa. Minimal, kebohongan di sistem ini yang kepikiran baru bikin plat palsu. Sedangkan 3in1 memberikan begitu banyak celah untuk berbohong, mengarang cerita palsu sehingga otomatis menjadi ladang dosa gue.

 

Bayangkan, gue punya TIGA kartu identitas perusahaan made-in-benhil yang gue contek desainnya dari internet. Gosipnya, perusahaan yang kantor pusatnya terletak di pengkolan jalan protokol ini punya perjanjian khusus bebas 3in1. Itu artinya TIAP HARI DUA KALI SEHARI gue telah berbohong tentang pekerjaan asli gue.

 

Demi mengenang momen 3in1 yang begitu berkesan, gue merangkum beberapa KEBOHONGAN atau pemelintiran fakta yang pernah gue dan teman-teman lakukan guna menghindari 3in1

read more

30th August 2016 | 11:27 am |

2

Respon

The RIGHT Time

“Gy, gue udah pacaran sebulan kok belom diapa-apain ya?”

 

Pertanyaan itu memecah keriuhan denting cangkir teh herbal di tengah kafe yang bangkunya semakin berdempetan sejak kasus pembunuhan legendaris di tempat itu.

 

“Loe tau nggak, di negara ini, banyak pasangan yang baru salaman di hari pernikahan!” gue memajukan badan setengah berbisik, sambil lirik kiri-lirik kanan di tetangga yang berjarak dua puluh senti.

 

“Lah ya bodo amat! Itu pasangan pada kawin umur 18 taon, gue mah udah umur segini, ga usah pake salam-salaman!” jawabnya, sekali lagi, dengan nada yang sama tingginya.

 

Gue tersenyum sambil memutar-mutar cangkir di tangan. Oh, ini pertanyaan klasik, dari perempuan-perempuan Indonesia yang lebih dari sepuluh tahun tinggal di luar negeri, dan kini sedang menghadapi proses ‘naturalisasi’ kembali hidup bersosialisasi dengan tatar budaya ketimuran.

Berapa lama waktu yang diperlukan dalam setiap level keintiman sebuah hubungan?

read more

18th August 2016 | 5:48 am |

no

Respon