China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

44-lukisan-dinding-perspektif

Gue Juga Pribumi

“Pak! Bagi stikernya dong, satu!” Gue memanggil dari balik kaca mobil yang gue turunkan separoh. Pria berkopiah berjaket majlis yang sedang membagikan stiker ‘pribumi’ warna ijo di bilangan Kelapa Gading, melirik, lalu menggelengkan kepalanya.

 

“Loh kenapa? Saya kan pribumi!” gue ngotot, sambil mengendarai mobil dengan kecepatan rendah membuntuti si Bapak. Ia kembali melirik, melihat wajah sipit hidung pesek kulit koneng, dengan rambut highlight loreng bak harimau Sumatera yang sudah hampir punah.  Ia menggumam-gumam, nggak..nggak..bu…

 

“Dasar pelit! Biarin, saya cetak sendiri stikernya!”  Gue memaki lalu meninggalkan si Bapak yang melongo heran. Mungkin kaget, mendapat cacian yang biasanya lebih sering dilemparkan pada orang-orang berwajah seperti gue daripada dirinya.

read more

2nd April 2017 | 10:06 am |

one

Respon