China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

9-tak-ada-laut-sungaipun-jadi_0

Mendadak Mayor

“Gy, orang Cina itu beneran dimusuhin nggak sih?” Tanya MasJe tiba-tiba.

“Yahh…paling sering dikatain ‘dasar Cina’, kalau bikin surat-surat rada lama, sama diperkosa kalau kerusuhan…. Tapi kan sekarang uda nggak ada kerusuhan, jadi lumayanlah,” gue menjawab enteng.

“Itu kenapa ya Gy? Gue sering dikatain, dibilang, ngapain loe temenan sama Cina? Nggak ada untungnya, paling ntar dicurangin.”

“Lha loe temenan sama gue!”

“Itu die, gue sih pernah dicurangin sama Cina, jadi awalnya gue wajar-wajar aja kalau ada yang sentimen, tapi loe yang nggak curang juga dimusuhin sampai segitunya ya? Boleh nggak sih begitu?”

read more

13th May 2017 | 2:35 pm |

no

Respon

Kenapa Bukan Ahok

“Sebenernya, gue ngerti sih kenapa orang-orang pada gak milih Ahok..” gue nyengir sambil nengok kiri-kanan, di tengah pujasera pusat perbelanjaan. Gue yakin akan banyak yang mengangkat alis kalau gue bicara secara publik soal ini. Namun dengan hanya seorang teman, gue berani curcol.

 

Dari grup whatsapp, makan malam keluarga, hingga reuni sekolah masih diisi dengan satu pertanyaan: kenapa? Kenapa, rakyat tidak bisa melihat pekerjaan hebat gubernur sang petahana? Kenapa mereka begitu goblok dipanas-panasin dengan isu-isu agama?

read more

11th May 2017 | 5:51 am |

one

Respon