China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeber...
read more

2-kampung-batik-kauman

China Renaissance

Gue melenggang di trotoar selebar lima meter, sambil menikmati sate ampela ayam bumbu pedes sepanjang 30 cm seharga 10 ribu Rupiah. Di kiri dan kanan, berjejer gedung-gedung pencakar langit berisi hotel mewah, pusat perbelanjaan dan perkantoran. Sepeda mengantri sabar di jalur khusus sepeda. Sedangkan Bentley, Jaguar bergaul dengan Wuling berhenti tertib di zebra cross ketika gue menyeberang.

 

Gue mengarah ke Stasiun MRT super modern yang bersih kinclong bak baru disikat Sunlight. Turut mengantri tertib seperti warga lainnya, yang semuanya tampil trendi dengan baju bermerk keluaran terbaru, warna-warna pastel, putih dan hitam. Sebelumnya, tentu gue sudah membuang sisa tusuk sate ampela tadi di tempat sampah khusus yang memisahkan sampah organik dan non-organik. Tidak ada yang salah buang, tidak ada yang buang sembarangan.

 

Tidak, gue tidak sedang berada di Singapura negara tetangga pujaan kita semua itu. Apalagi di kota-kota di Eropa yang kejayaan masa lampaunya semakin luntur. Gue di Guangzhou, salah satu kota di China. Demikian juga pengalaman gue ketika berada di Beijing, Shanghai, atau bahkan kota-kota sekunder mereka seperti Xian dan Shenyang.

read more

4th July 2018 | 12:52 pm |

no

Respon