Pilih Gompal tapi Natural apa Cantik tapi Hasil Suntik

OMG, What did I just swallow?   Sesaat sebelumnya... kami berada di sebuah rumah kemas manggis di daerah Thailand Selatan. Seperti tradisi di rumah kemas manapun, kami langsung disodori manggis oleh pemiliknya. Dibuka satu-satu. Memang dasarnya suka makan dan doyan manggis, gue menyambut baik tawaran dengan melahap sebanyak-banyaknya.   “MMM.. enak-enak!” Gue me...
read more

14-kereta-api-uap

Pilih Gompal tapi Natural apa Cantik tapi Hasil Suntik

OMG, What did I just swallow?

 

Sesaat sebelumnya… kami berada di sebuah rumah kemas manggis di daerah Thailand Selatan. Seperti tradisi di rumah kemas manapun, kami langsung disodori manggis oleh pemiliknya. Dibuka satu-satu. Memang dasarnya suka makan dan doyan manggis, gue menyambut baik tawaran dengan melahap sebanyak-banyaknya.

 

“MMM.. enak-enak!” Gue menjawab rakus, menerima lagi potongan demi potongan manggis yang telah dibelah. Lagipula, gue tidak tau bagaimana caranya menolak dan bilang ‘cukup’ dalam Bahasa Thailand.

 

Puas makan manggis, kami diajak ke perkebunan manggis yang baru dipanen dan kita santap barusan. Barulah kami melihat, pohon manggis, di bibir pantai, tumbuh di tanah pasir merica. Iya, yang kayak di Lombok Barat. Pohonnya ranum dengan satu tangkai bisa berisi 10 butir lebih. Katanya kemarin habis diterjang badai topan, tapi tidak ada satu butirpun yang jatuh.

 

Padahal manggis secara natural hidup di dataran tinggi, sekitar 600-800 meter di atas permukaan laut. Tanahnya biasanya jenis litosol, semacam tanah vulkanis yang subur. Untuk tumbuh dengan kondisi jauhh dari alam naturalnya pasti diperlukan banyak rekayasa, genetika dan kimiawi.

 

Sesaat gue langsung teringat camilan manggis yang baru gue santap itu. Mana banyak banget.

read more

28th January 2019 | 4:12 pm |

no

Respon