An hour from home, thousand years from heart

Geger. Seorang mahasiswa NTU bunuh diri setelah menikam profesornya sendiri. Tidak seperti di Indonesia dimana minimal terjadi 3 pembunuhan sehari, kisah ini akan menjadi berita utama di koran Singapura. Apalagi pelakunya orang Indonesia.

Sontak gue mendapat telpon sana-sini dari rekan satu sekolah yang kini telah jadi jurnalis di negeri Singa. Apakah gue kenal David? Seperti apa orangnya? Menurut loe motifnya apa? Gue ga kenal David. Punya fotonya juga tidak. Tapi gue akan bilang, I was David.

 

Gue mungkin tidak tahu penyebab kelakuan nekadnya. Mungkin saja alasannya sedangkal pacarnya direbut profesor. Tapi sebagai David, gue gak heran, mengapa seorang mahasiswa bermasa depan cemerlang bisa berpikiran pendek seperti pengangguran kekepet hutang. Gue merasa wajar ketika seorang peraih beasiswa bernasib seperti anak SD yang gak lulus UAN.

 

Bayangkan satu pesawat di pagi hari penuh dengan anak-anak tercerdas dari seluruh Indonesia. Kepala kami mendongak ke atas, penuh percaya diri dan harapan. Orang-orang yang mengantar kami punya senyum bangga di bibirnya.

 

We are the chosen ones. Juara satu dari antara juara-juara satu lainnya di tiap sekolah. Jika bukan pemenang Olympiade matematika, mungkin Olympiade Fisika, atau Kimia, atau biologi, atau juara lomba debat internasional. Mayoritas punya foto bersama Pak Menteri.

 

Itulah sebabnya kami dipersatukan dalam pesawat itu. Bakat menjanjikan telah menarik perhatian Pemerintah Singapura. Tidak seperti pembantu dan kuli yang kelasnya adalah Foreign Worker, kami diundang sebagai Foreign Talent.

 

Di Singapura, kami dijamu oleh kamar asrama yang *meski Oknum R rasa kurang memadai* sangat-lengkap. Kami mendapatkan kamar yang bersih, air listrik-microwave sepuasnya, plus internet 100mbps. Fasilitas sekolah sangat baik. Beberapa dari kami menjadi asisten dosen, digaji untuk belajar dan riset dengan materi tercukupi.

 

Sayangnya, terkadang terlupakan bahwa bakat itu melekat pada seorang manusia. Kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan, bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan? Tulisan untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah penghasilan kami meningkatkan pendapatan nasional?

 

Terlebih gue bukan warga negara, itu artinya gue dan orang tua gue tidak pernah menyumbangkan pajak guna membangun negara. Jadi ketika gue menikmati majunya negara Singapura, gue dituntut untuk ‘membayar’ lebih dari warga-negara biasa, dengan semakin berprestasi dan mengharumkan nama universitas seharum-harumnya.

 

Dan karena kami bukan manusia, kegagalan bukanlah hal yang bisa diterima. Hanya manusia yang bisa gagal, bakat tidak pernah gagal. Gue cukup beruntung tidak pernah dikejar-kejar 40 email menuntut diselesaikannya tugas yang tak masuk akal untuk bisa selesai. Profesor gue cukup manusiawi untuk tidak menyebut gue orang tak berguna, yang tergoblok yang pernah ia temui, yang menyia-nyiakan beasiswa.

 

Tapi gue sungguh mempertanyakan hakikat gue sebagai manusia ketika gue terpaksa menggelandang karena gue tidak ikut cukup banyak kegiatan di kampus. Saat gue mengadukan nasib gue, kesan pertama yang gue terima adalah: sebodo-wae sebatang kara di Singapur, ga punya temen pula, salah sendiri ga ikut banyak kegiatan! Kalau ikut kegiatan kan dapat poin bisa tinggal di kampus!

 

Ketika gue bilang gue kan mahasiswa asing, sekolah disini aja udah susa, masa harus ikut kegiatan banyak-banyak, kesan berikutnya adalah: sebodo wae! Sudah tahu posisi jadi mahasiswa asing, bakal susah kalau gak dapat akomodasi, harusnya semakin rajin ikut kegiatan!

Ketika akhirnya gue berkeras bahwa gue sudah diterima di NTU berarti kesejahteraan gue harus dijamin dong, kesan terakhir adalah: sebodoh-wae! Sudah bagus diterima disini, dapat pendidikan bagus murah, bisa masuk NTU berarti bisa bertahan hidup disini, dong!

 

Begitulah the chosen ones jadi gelandangan, dibuang-buang dan diragukan kemampuannya. Berada dalam tekanan konstan untuk berprestasi karena itulah satu-satunya nilai kami, menjadikan gue juga kurang mampu melihat harga gue sebagai makluk hidup. Terhitung 3x gue berpikir bahwa mati itu mungkin ga jelek-jelek amat, habis apa gunanya hidup kalau tidak berprestasi?

 

Tapi ini kan Singapura, satu jam seperempat dari Jakarta! Sama anak Bandung lebih cepet sampai rumah! Telpon juga murah, apa gak bisa mencari kesejukan dari keluarga?

 

Yang gue rasakan, jarak satu jam seperempat itu menjadi ribuan tahun ke hati orang-orang terdekat kami. Di mata mereka gue bukan lagi seseorang yang bisa (dan boleh) menangis. Ada segudang harapan dan impian yang tersusun di bahu kami. Kami kini dilarang gagal.  Maka ketika telepon, hanya kisah sukses dan keberhasilan yang tega dibagi.

 

Jangankan dengan keluarga yang tak melihat langsung, tetanggapun belum tentu bisa dijangkau. Setiap orang punya tuntutan yang sama untuk berprestasi, sehingga sulit untuk tidak bersaing, sulit untuk tidak sibuk menyelamatkan diri sendiri. Tidak setiap hari sahabat bisa punya waktu untuk mencegah pikiran nekad. Lihatlah bangku-bangku taman yang selalu kosong di asrama sekolah. Sosialisasi itu kadang bisa buang-buang waktu!

 

Gue tidak menyesali 4 tahun kebelakang, karena memang benar, tanpa apa yang ada 4 tahun itu, tidak ada gue yang sekarang. Tapi gue juga tidak menyangkal bahwa hal sama yang telah gue lewati telah membuat kakak temen gue melompat ke rel kereta api dalam percobaan bunuh diri yang gagal. Mengirim anak dokter ternama masuk Rumah sakit jiwa. Membawa seorang kawan memecahkan kaca ruang kuliah dengan kepalanya sendiri.

 

Bertahun-tahun gue berusaha mengatakan pada orang-orang di sekitar gue betapa masuk akalnya seorang mahasiswa NTU yang cerdas, hidup nyaman di Singapura, dengan takdir meyakinkan, berakhir naas di rel kereta api atau di rumah sakit jiwa.

 

Tapi gue mungkin bukan narator yang baik, karena ga ada orang yang percaya. Tanpa pernah tahu apa yang ada sebenarnya David maksudkan, tanpa sengaja ia telah mewakili apa yang selama ini gue, dan teman-teman gue ingin ungkapkan. Bahwa di permukaan, hidup kami tak kurang satu apapun. Tapi apa perlunya mempertahankan hidup jika seseorang hanya dilihat sebagai mesin dan benda mati?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *