The Most Beautiful Country on Earth through Kupang

“Wuihhh Sunset!!!!” Gue menjerit sambil melompat dari gazebo tempat gue duduk-duduk cantik di tepi pantai Kupang. Buru-buru mengambil kamera, mengabadikan pemandangan yang konon adalah salah satu yang terindah di Indonesia.

 

sunset, kupang
Sore-sore menanti matahari terbenam di Kupang

Bapak dan Ibu guru yang mengantar siang itu hanya mencibir kecil melihat kelakuan gue yang pecicilan. Biarin, dalam hati gue berbisik, gue kan emang dari Jakarta, kota yang sunsetnya kelabu ketutupan asap dan debu, boleh dong gue norak.

 

“Minggu lalu saya diajak ke Bali juga ngeliat beginian,” Bapak Guru memulai ceritanya.

“Ahhh.. kayaknya nggak sebagus ini deh Pak,” gue membela kenorakan gue.

“Iya, memang,” jawabnya datar.

 

Lalu mengalirlah cerita perjalanan Bapak Guru di Bali. Di sore yang terik ia dibawa ke Tanah Lot, lihat sunset katanya.  Setelah menunggu di bawah panas berjam-jam, akhirnya datang juga sunset itu. Dan reaksinya adalah, “yah, yang kayak begini mah di Kupang juga ada setiap hari, lebih bagus pula!”

Gue tersenyum mendengar cerita Pak Guru. Keindahan wilayah timur Indonesia memang sangat sulit untuk disaingi. Seperti sunset yang sedang gue pandangi ini, warnanya adalah campuran lembayung, ungu, dan merah.

 

Bisa dibayangkan betapa kecewanya Pak Guru diajak bertamasya ke Bali saja. Gunung Batur dan Kintamani tidak berhasil memukau Pak Guru. Setelah berjam-jam dari Ubud ke Kintamani, tibalah ia di hadapan sebuah gunung dan danau.

“Ini.. gunungnya cuma satu?”
“Iya cuma satu.”
“Danaunya warna apa aja?”
“Satu aja, biru gini.”
Langsunglah ia protes, “di Flores, gunung yang kayak gini bukan cuma satu, tapi banyak! Berderet-deret! Dan danaunya warna-warni, tiga warna satu tempat, namanya Kelimutu!”

 

Cerita Pak Guru mengingatkan gue pada perjalanan ke Korea Selatan beberapa saat lalu. Entah karena sudah keki dibudakin Korea, entah karena jadwal tur yang terlalu padat, gue sudah tidak bisa lagi mengapresiasi keindahan Korea.

 

Saat dibawa ke Seongsang Ilchulbong di Jeju Korea, gue langsung ngenye. Yang kayak gini dijadiin Nature’s Seven Wonder? Terlepas dari sejarah yang tersimpan, di mata gue hanya ada lapangan rumput dengan pinggir bergerigi. Bromo terlihat jauh lebih menakjubkan.

 

Melihat-lihat beberapa air terjun di Jeju, gue juga tidak terpukau. Bagus sih, tapi masih banyak yang lebih tinggi di Indonesia, dengan bentuk yang lebih aneh-aneh. Gue langsung meyakini, jika adil, setidaknya tiga dari tujuh keajaiban dunia itu harusnya ada di Indonesia.

 

Saat itu gue berpikir bertanya-tanya, apakah ada negara lain yang lebih indah dari Indonesia?

 

Jiwa narsistik gue segera mengembang. Dari perjalanan gue ke beberapa negara, gue menemukan tempat-tempat yang indah, budaya yang unik, tapi tidak satupun berhasil mengalahkan kekaguman gue pada Indonesia.

 

Jepang memang kece, cantik, pemandangan alamnya luar biasa, kekayaan budayanya terasa. Namun apa yang ada di Jepang, bukan berarti tidak bisa gue temui di Indonesia.

 

Ketika gue menunjukkan foto-foto gue saat melancong ke Sumatra Barat, si Mamih langsung protes, “ngapain jauh-jauh ngajakin mamih ke Jepang? Ini di Padang ada Gunung Fuji!” Yang dimaksud Gunung Fuji adalah Gunung Merapi yang siang itu terpotret begitu sempurna.

 

Terus, air terjun yang susah-susah dicari sambil jalan kaki sampai kaki mamih kapalan? Banyak tuh di pinggir jalan. Air Terjun Lembah Anai terletak persis di tepi jalan raya Padang-Bukit Tinggi.

 

Dan sauna air panas alami yang ada di tepi kota Tokyo, ah, yang kayak gini mah banyak di Kuningan. Cuma nggak pada bugil. Tapi nggak ada untungnya juga, yang bugil juga badannya ga bagus-bagus amat.

 

Apa yang ada di negeri lain, sebagian besar bisa ditemukan di salah satu daerah di Indonesia. Kalaupun nggak ada, pasti daerah lain punya, sehingga menjadikan Indonesia sebuah penawaran yang kumplit.

 

Kalaupun ada yang kurang, hanyalah pemasarannya. Entah karena udah biasa aja liat tiap hari, entah karena emang nggak tahu, orang Indonesia seperti nggak bangga memamerkan kekayaan negerinya.

 

Ketika gue berkata gue akan ke Kupang, banyak yang berkata, ah, Kupang nggak ada apa-apanya! Memang, dibandingkan daerah lain di Nusa Tenggara Timur, Kupang hanya sebuah kota yang nanggung. Nggak gede-gede amat, tapi juga nggak terpencil-terpencil amat.

 

Namun bahkan Kupang yang katanya ‘biasa’ ini sudah berhasil membuat gue jejeritan girang. Hotel gue, dengan harga hanya sekitar 500 ribu semalam, punya infinity pool yang berbatasan dengan pantai berlaut biru.

 

Kalau dikirim fotonya, nyaris tak ada yang percaya gue sedang bekerja sama dengan sebuah non-profit organization untuk mengajar pemegang beasiswa Bahasa Inggris untuk menulis. Semua ngira gue liburan, bahkan lagi honeymoon.

 

Seandainya gue, orang yang telah ke Kupang, bisa dengan bangga memamerkan foto Kupang gue di internet, lalu memasarkannya pada bapak ibu buyer di luar negeri, lalu gue jadi menteri pariwisata yang mengemas Kupang jadi daerah tujuan wisata, mungkin kisahnya akan lain.

 

All we need is a good packaging. Yang bisa membungkus negara yang cantik ini menjadi sebuah penawaran wisata yang tidak terkalahkan. Menambahkan sedikit keamanan, keterjangkauan transportasi, satu-dua kafe berpayung merah di pinggir pantai atau di tengah lembah, menjadikannya destinasi wisata enternasional..

 

I’ll start it from myself, dengan mengemas foto-foto gue menjadi gambaran penuh impian untuk si Mamih. Begitu melihat, Mamih langsung sirik, pengen ikut jalan-jalan ke pelosok nusantara, nggak mau lagi ke luar negeri. Syukurlah… jalan-jalan tahunan kita jadi lebih irit.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *