Hai Orang Jawa, Belajarlah Pada Papua!

“Kira-kira mau dibawain apa dari Jakarta?” “Apa yah? Apa sih yang ada di Jakarta yang nggak ada di Papua?” koordinator lapangan kami, menatap dengan bingung seperti tidak punya ide.   Saat itu kami sedang bersiap untuk tugas peliputan ke Sorong, Papua. Ini pertama kalinya gue menjejakkan kaki ke pulau kepala burung itu. Gue tidak terbayang, bahwa satu-satunya yang orang jawa ...
read more

5-piramidnya-louvre

Bukan dari China

“Dari mana Mbak?” tanya pria di samping dalam pesawat malam itu.

“Dari Jakarta Pak,” jawab gue mantab.

“Ah masa?”

“Iya bener, emang bapak pertanyaannya apa?’

“Dari mana..” ia mengulang pertanyaan.

“Dari Jakarta,” gue kembali menjawab bak burung beo bersautan.

Pria itu terdiam sejenak, seolah merasa bukan itu jawaban yang diharapkan. “orang tuanya dari mana?

“Ohhh.. ayah saya dari Semarang, kalau ibu saya dari Jakarta”

“Lahirnya di Jakarta maksudnya?”

“Iya betul, ibu saya lahir di Jakarta, kayak saya”

 

Gue masih melihat lawan bicara belum puas dengan jawaban yang diberikan. “Emang Bapak dari mana?”

“Saya orang Minang!” jawabnya lantang.

“ohh.. lahir di Padang maksudnya?”

“Saya lahir di Jakarta, tapi saya orang Minang,” jawabnya menjelaskan.

“Ohh gitu.. kalau saya, orang Jakarta, lahirnya juga di Jakarta,” jawab gue tenang.

 

Si Bapak mengangguk ragu akhirnya menyerah, menerima jawaban yang kurang memuaskan itu. Sedikit-sedikit ia menggaruk-garuk janggut tipisnya seolah mencari akal bagaimana ia seharusnya bertanya. Berulang kali membetulkan blazer.

 

Sedangkan gue, mulai mencari posisi wuenak untuk tidur, tidak mau ambil pusing dengan kerisihan sang lawan bicara, sambil terkekeh lirih, mampus lu, masih 6 jam lagi sampai Dubai!

 

Tentu saja gue tahu jawaban macam apa yang akan dapat membuatnya tidur pulas sampai tempat transit kami. Bahwa gue Cina, keturunan Tionghoa, warga Indonesia keturunan, bahasa orbanya: nonpri.

 

Tapi gue lagi nggak berhasrat memuaskan kesempitan pemikiran kesukuan seseorang dengan merendahkan nasionalisme sendiri. Saat itu gue sedang dalam perjalanan menjadi salah satu wakil Indonesia di Europalia Arts Festival di Belgia dan Belanda. Gue membawa Excuse-Moi, satu buku yang berkoar-koar mengekspresikan identitas seorang Indonesia keturunan Cina.

 

Jadi, sorry, gue gak mau bilang gue dari Cina. Gue nggak lahir di Cina, terbang juga nggak dari Cina, dan bukan warga negara RRC. Gue orang Indonesia, nulis pake bahasa Indonesia, selalu merasa Indonesia, kalau situ nggak terima sono ngadu sama kemendikbud!

 

Sebenarnya jika si bapak mau bertanya dengan lugas dari etnis atau suku mana gue berasal, gue akan menjawab selugas-lugasnya: Gue suku Cina. Gue bahkan tidak memperhalusnya menjadi: etnis Tionghoa. Gue punya filosofi Cina mah Cina aja. Toh gue tidak merasa itu hal buruk.

 

Tapi sayangnya sesebapak juga risih bertanya secara langsung. Entah karena indikasi negatif yang melekat pada jawaban yang diharapkan, entah karena ia sendiri sadar bahwa pertanyaan ini sebenarnya bersifat sangat pribadi.

 

Kami berpisah di Dubai. Gue melanjutkan ke Brussel, Belgia lalu ke Belanda, di mana gue berdiskusi dengan komunitas Indonesia keturunan Cina yang kini menjadi warga negara Belanda.

 

Nah lho… Kalau rupa dan jawaban gue saja sudah membuat sesebapak pusing tujuh keliling, gimana kalau rupa-rupa yang seperti ini? Dan lebih jauh lagi, apa yang akan jadi jawaban untuk pertanyaan “Where do you come from?”

 

Gue disambut dengan senyum ketika gue melemparkan pertanyaan itu.

Menjawab ‘orang Belanda’, akan menimbulkan pertanyaan lanjutan, karena orang Belanda identik dengan ras kaukasia. Menjawab Indonesia, juga jadi pertanyaan, karena wajah dan kewarganegaraan berbeda. Menjawab Cina, lebih repot lagi, sebagian besar sudah tidak terlalu fasih bahasa Mandarin.

 

“I live in Holland,” demikian seorang ibu menjawab. Ah, seperti gue, menyatakan di mana kita tinggal daripada menjabarkan identitas memang lebih jelas, simpel, dan tidak bisa didebat.

 

“If anyone ask further, I’ll tell them, I was born in Indonesia,” lanjutnya, sehingga orang dapat memahami mengapa wajah mereka tidak ‘Eropah’. “And I will add, I am of Chinese descent, born in Indonesia,” tambahnya lagi, jaga-jaga kalau ada yang super kritis.

 

“We are Indonesian Chinese-descent from Holland,” jawab seorang Bapak, lengkap dan lugas. Tidak mudah dimengerti memang, tapi sejak kapan kita bisa memahami identitas yang dirasakan orang lain?

 

We are a product of our own history. Demikian kesimpulan kami sore itu, sambil ditemani makan spekulaas dan teh manis. Meskipun secara fisik mirip, tapi bagaimana seseorang merefleksikan diri sendiri bisa berbeda drastis.

 

Bagaimana rasanya ditolak oleh tanah air sendiri? Para keturunan Indonesia di Belanda masih berstatus pelajar ketika pecah peristiwa 1965 dan karena etnisitas mereka, tidak dapat kembali ke Indonesia. Mereka pernah ingin pulang, namun Belanda adalah negara yang disebut sebagai rumah mereka kini.

 

Gue tidak yakin punya perbandingan perasaan. Bukan gue yang ketika terlepas tanpa kewarganegaraan, akhirnya diterima oleh masyarakat Belanda, diberi kesempatan berkarya tanpa dilihat latar belakangnya.

 

Mungkin hanya jika pecah kerusuhan yang membuat gue harus lari tunggang langgang ke negara orang, gue akan dapat menerima negara lain sebagai bangsa. Apakah gue akan berjiwa besar untuk tetap mengakui bahwa gue keturunan Indonesia seperti mereka?

 

Bagaimana dengan keturunan mereka yang tidak pernah menjejak di Indonesia dan tidak lancar berbahasa Indonesia? Mungkinkah mereka melihat dirinya sebagai orang Belanda keturunan Cina saja? Tapi mengapa pasar tong-tong, pasar nostalgia Indonesia di Belanda justru makin ramai setiap tahunnya, dengan ekspresi identitas millennials keturunan Indonesia-China di Belanda?

 

Demikian para peserta diskusi Contemporary Chinese Literature di Ghent University di Belgia juga tidak dapat memahami bentukan identitas yang gue miliki. Mengapa setelah terjadi kerusuhan, dicina-cinakan dan disentimeni setiap saat gue masih menganggap Indonesia sebagai tanah air gue?

 

Menyesalkah gue lahir tanpa kesempatan mempelajari bahasa Mandarin? Apakah jika gue bisa bahasa Mandarin gue akan memilih mengekspresikan tulisan dalam bahasa yang lebih dikenal orang tersebut? Pernahkah timbul keinginan untuk kembali ke Cina? Menelusuri akar leluhur dan sejarah silsilah masa lalu?

 

Semua pertanyaan yang merunut pada satu kesimpulan yang gue utarakan: Setiap pengalaman, interaksi, gaya hidup yang gue lalui telah membentuk apa yang gue anggap penting, yang menarik, yang bagus, yang benar.Dan ukurannya berbeda seseorang dengan yang lainnya.

 

Seandainya dari lahir gue sudah boleh belajar bahasa Mandarin, tentu gue akan muncul dengan kepribadian yang berbeda. Tapi kenyataannya gue tidak. Indonesia IS my mother tongue. Dan dengan demikian, pertanyaan menyesalkah gue tidak dapat menulis dengan bahasa Mandarin tidak pernah terlintas di benak gue.

 

Bahkan jikapun sekarang gue mampu berbahasa Mandarin, gue tetap akan menulis dalam bahasa Indonesia. Karena inilah ekspresi yang gue kuasai sejak kecil. Lagipula isu-isu yang gue tulis lebih mengena untuk orang Indonesia daripada orang Cina.

 

Seandainya gue dari lahir punya nama Cina dan tercatat dalam buku leluhur, tentu gue juga akan punya kebanggaan berbeda terhadap garis keturunan gue.

 

Tapi seperti kebanyakan warga keturunan Tionghoa di Indonesia, sudah banyak yang tidak punya buku garis leluhur. Kawin campur antar etnis di Indonesia jauh lebih umum daripada di negara lain. Kalaupun bukunya ada, sudah banyak yang dicoret duluan karena tidak menikah dengan ‘ras murni’.

 

Rather than turning back and say I’m Chinese, I’m reinventing myself as Indonesian Chinese. Menurut gue kedua kombinasi itu adalah bagian yang tidak terpisahkan yang mendeskripsikan tentang siapa gue. No part is more important than the other.

 

And it’s very sad, when someone can’t express his or her identity. Or the expression isn’t accepted. Seperti ketika pelajar Indonesia berdarah Tionghoa tidak dapat mengamalkan ilmu dari luar negeri di tanah airnya.

 

Seperti ketika gue harus pura-pura jadi suku lain saat kerusuhan, meski sadar betul suku lain tidak akan perlu cape-cape pura-pura. Atau sesederhana ketika rekan sepesawat yang meragukan ketika gue yakin banget dari Indonesia.

 

Makanya gue ngotot banget menyebut asal gue dari Jakarta. Karena gue tidak mau sekali lagi disuruh ganti-ganti identitas. Nobody should tell me how I should feel about myself. Biarin aja disangka halu. Banyak kok orang halu di internet.

20th January 2018 | 3:43 pm |

2

Respon
  1. Hahahaha …. jadi inget kalau saya punya buku Excuse-Moi yang masih dipinjam teman kantor dan sampai hari ini belum dibalikin … bingung juga nagihnya … karena saya juga ga yakin bahwa dia masih inget kalau masih pinjam buku saya … bingung kan ???
    Anyway, saya sangat paham rasa “campur aduk” seperti itu gara-gara identitas etnis yang kita sandang …
    Saya Jawa, istri saya keturunan Cina yang lahir di Tanah Jawa … anak saya campuran Jawa-Cina …
    Kalau kami lagi belanja, kadang istri saya dipanggil “Cik” … eh begitu lihat saya suaminya,… ganti dipanggil “Mbak”
    Giliran saya yang belanja, dipanggil “Mas/Pak” … begitu lihat istri saya, ganti dipanggil “Koh” …. dalam hati mah saya ngakak Bombay lah …
    Tahun lalu saya & keluarga ada kesempatan ke Singapura … pas jalan-jalan ke China Town, sorang penjual makanan bicara dengan istri saya dengan bahasa Mandarin … dia pikir istri saya ngerti, secara wajah orientalnya yang nular ke anak saya yg lagi digendong … alhasil istri saya cuma bengong … jangankan bahasa Mandarin … bahasa Inggris aja dia cuma sebatas Yes or No …setelah saya jelaskan dengan bahasa Inggris bahwa istri saya ga ngerti bahasa mandarin & inggris, si ibu penjual pun gantian bengong …
    Mungkin dia pikir …. kok bisa ya ???

    Imma Andrera | January 31, 2018 | 07:59 |

  2. hihihi thanks for sharing the story! Iya banget, sama nih, cina cuma mukanya doang, Mandarinnya cuma tau nasi goreng sama bakmi hahahaha.. Btw, itu kejahatan terhadap hak bangsa itu kalau buku nggak dibalikin! hahahhaaha!

    Margareta Astaman | January 31, 2018 | 09:10 |