Korban Move-On

“Gue sih nggak bahagia sama pernikahan gue, tapi gue akan tetap pertahanin, buat menghukum mantan pacar gue!” ia berujar gagah, dengan suara bulat mantab.

 

“Tunggu, tunggu bentar.. yang ga bahagia dalam perkawinan, eloe?” gue bertanya mencoba mengklarifikasi.

“Iya,” jawabnnya mantab

“Yang dihukum, mantan loe?”

“Iya,”  jawabnya makin yakin.

“I see..” gue manggut-manggut, berusaha menelaah logika gaya baru ini. Emang sih di socmed orang gila makin banyak. Cuma gue kira gilanya cuma urusan agama dan pulitik aja. Mana tau, urusan mantan juga ogeng!

Matinya Kulot dan Punahnya Kebaya Tasik

Pasar Beringharjo, Sabtu pagi.

“Mbak, jual kulot nggak?” gue bertanya. Kehabisan baju tidur bersih memang merupakan problematika para eksportir manggis yang hidup jauh dari rumah.

“Yang ini?” si Mbak menunjukkan sebuah setelan batik lengan panjang celana panjang.

“Yee itu mah piyama! Kulot Mbak! Yang celana pendek tangan buntung atau pendek buat tidur!”

“Ohhh… babydoll?” respon si Mbak dengan aksen Jawa yang kental.

 

“Sekarang tuh lagi ngetren baju syari’i! Yang kutungan nggak bakal ada yang jual!” Si Mamih yang menemani saat itu berkomentar. Gue tidak menggubris dan kembali meneruskan pencarian. Namun setelah kios kesepuluh yang menolak permintaan gue bak perempuan yang mau tidur senonoh, gue terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Budaya Indonesia sudah mulai bergeser, dengan asimilasi budaya asing, hingga ke level baju tidur. Dan jika gue tidak ngotot mempertahankannya, entah apa lagi barang sehari-hari gue yang dianggap bawaan aseng.

Dongeng Dari Timur

Once upon a time, there was a man who wished to be the richest on the land. He made a pact with the Earth God that in return of the uncountable wealth, he would sacrifice his last great grandchild, from his first grandson, from his first child.

 

The God of Earth accepted his sacrifaction and soon after he became the richest man in the land of Ambarawa. He owned the largest puppet theater in the region and his wealth was plenty.

 

Believing to own such a power, the man lured a Javanese pricess with magic so strong that once broken, it would destroy everything he owned. The devil was a master of deceival, and he fell into the charm of women’s seduction, the one thing that could break the magic.

 

The Javanese princess was an observant Javanese rituals follower capable to see the future: on the first Pahing Thursday of the month, all the wealth her husband owned would turn into ashes.

 

Indeed that day, there was a big fire in Ambarawa that torn down all buildings in the town. At that time, there was no banking concept, so all of his fortune was burned. In a bid to save her descendant, his wife seek refuge to the Queen of the South Sea.

 

The Queen agreed to give protection. A girl would be born and the queen would take her as her heir. The Queen’s spirit would make a lot of people love her so much that they will protect her from everything, including the Earth God. They will turn crazy on her, and those who are weak in mind would eventually lose their sanity.

 

 

Hai Orang Jawa, Belajarlah Pada Papua!

“Kira-kira mau dibawain apa dari Jakarta?”

“Apa yah? Apa sih yang ada di Jakarta yang nggak ada di Papua?” koordinator lapangan kami, menatap dengan bingung seperti tidak punya ide.

 

Saat itu kami sedang bersiap untuk tugas peliputan ke Sorong, Papua. Ini pertama kalinya gue menjejakkan kaki ke pulau kepala burung itu. Gue tidak terbayang, bahwa satu-satunya yang orang jawa sombong ini bisa bawa ke Papua cuma rasa miskin dan kegagalan. Atau mungkin ilmu.

Itupun pas-pasan.

Bukan dari China

“Dari mana Mbak?” tanya pria di samping dalam pesawat malam itu.

“Dari Jakarta Pak,” jawab gue mantab.

“Ah masa?”

“Iya bener, emang bapak pertanyaannya apa?’

“Dari mana..” ia mengulang pertanyaan.

“Dari Jakarta,” gue kembali menjawab bak burung beo bersautan.

Resolusi-oner

Sudah menikah, sudah punya perusahaan sendiri, sudah pernah keliling Eropa. Hmm.. Ok, semua resolusi sudah tercapai. Demikian si kakak bergumam, sambil meniup lilin ultahnya yang ke-30. Ia lalu melirik pada si bungsu yang senyum sumringah tepuk tangan sambil nyanyi TIIIUPP LILINNYAA…, ‘kamu punya resolusi apa?’

 

Nyanyian konyol si bungsu seketika mengecil. Saat itu ia baru saja memutuskan menunda kelulusan beberapa bulan supaya bisa menikmati waktu menganggur. Resolusi, adalah sebuah hal yang jauh dari pikiran.

 

Mau S2, masih cape kelar kuliah. Mau nikah, gak kepingin-pingin amat. Yang ia inginkan hanya jalan-jalan gratis tanpa perlu kerja seumur hidup, tanpa terdengar, tidak ambisius.

 

“Russia before 30!” Gue kemudian keluar dengan satu resolusi . Kenapa Rusia? Yaa, kesannya jauh aja, pasti mahal dong, artinya gue udah jadi horangkayah pada umur itu.

Gereja Tua

Seberapa susahnya sih mencari Gereja di Roma?

 

Siang itu gue sedang berdiri di depan Basilica Santo Petrus di Roma, ketika kepala gue berputar-putar seperti tujuh keliling. Yang sudah kenal gue sudah khatam, kalau antimo gak bakal mempan. Gue perlu buru-buru masuk ke tempat ibadah untuk mendapatkan ‘obat penangkal’. Aneh emang, tapi sejak kapan idup gue gak aneh.

 

Antrian di depan masih panjang mengular-ngular. Mungkin masih sekitar satu jam lagi. Jalur potong antrian harganya 8 Euro, tidak cocok dengan semangat backpacker gue. Lagipula gue sudah pernah masuk Basilika dan cuma mau cari Gereja saja. Dalamnya kayak apa ga penting.

 

Gue lantas memutuskan untuk keluar antrian dan pindah Gereja saja. Maksudnya, ini Roma gitu loh, pusat kekatolikan dunia, yang sepanjang jalan ada Gereja bangsa 500 meter sekali. Yang basilikanya ada 28 buah beserta uskup-uskupnya. Pasti dong menemukan gereja itu semudah menelan remah-remah rempeyek!

 

Gue menuju Gesu, sebuah Gereja Jesuit yang katanya penuh interior historik. Sekalian piknik. Namun ketika gue mencoba membuka gagang pintu Gereja, pintu terkunci rapat. Gue tidak percaya, mencoba mencari pintu lain. Tetap tidak terbuka. Gereja megah ini tidak buka di hari Senin.

 

Gue memilih gereja yang lain, dekat Fontana di Trevi. Sekali lagi, Gereja ini pun tutup. Bahkan gerbangnya sudah karatan seperti lama tidak dibuka.

 

Lagi renov. Sudah tutup. Hanya buka hari Minggu. Tidak tahu kapan buka lagi yang jelas sudah tutup. Menjadi jawaban yang gue terima berulang kali ketika gue mengetuk pintu-pintu Gereja itu. Gue hampir putus asa. Rasanya lebih mudah menemukan Gereja di negara berpopulasi Muslim terbesar dunia daripada di Roma.

Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.

 

Petualangan, gue menjawab dalam hati. Masa SD gue diwarnai oleh serial detektif jadul berlatar Semarang berjudul Noni. Lewat kisah karangan Bung Smas itu gue mengenal Gombel, Karang Anyar, Simpang Lima, di saat Noni, sang tokoh utama,  merambah sudut-sudut Semarang untuk memecahkan misteri kejahatan.

 

Tapi tentu saja sedikit orang yang setuju bahwa Semarang berarti petualangan. Habis yang tahu Noni aja kayaknya cuma gue dan anggota keluarga yang sempat tinggal di Semarang. Sekarang saja gue tidak pernah berhasil melengkapi serial itu, lantaran di setiap loakan pun tidak ada yang jual.

 

Hingga gue mengikuti Tur Jejak Inggris di Jawa bersama tim Penerbit Buku Kompas, dan gue bisa bilang, tuh kan! Semarang tuh seru! Lewat tur 3 malam itu kami dibawa menyadari sebuah fragmen sejarah yang seringkali luput diceritakan, sebuah kisah yang mungkin kalah pamor dengan kisah-kisah lain di negeri ini.

Invisible Significance

Dalam agama saya, ada satu ayat injil yang menyatakan, ‘Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu! Karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua’

 

Seumur hidup, saya yakin ayat itu cuma kiasan. Yang bener aja, yang bikin dosa kan emang tangan lah, kaki lah, mata lah, idung lah, bisa buntung semua dong.

 

Namun ketika mendengar pengajian tuna netra di Masjid salah seorang teman, saya baru menyadari kebenaran ayat ini. Dengan penuh kekusyukan para tuna netra meraba Al-Quran versi huruf braille, sambil melafalkannya dengan lantang.

Negara Maju itu Bernama Indonesia

“Menurut gue, Indonesia harusnya dinobatkan jadi negara maju!” Gue mengajukan konsep ekstrim itu, sambil menatap kumpulan orang lalu lalang di trotoar lebar dari jendela gedung Spiegel yang sudah direstorasi di tengah kawasan kota tua Semarang.

 

Saat itu gue masih seger-segernya dari mengelilingi Perancis, Italia dan Iceland, dengan transit di Saudi Arabia.