Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

6-pancuran-vatikan

Falling in love with my life (lewat Solo)

Bapak-bapak.

Itulah jawaban gue jika ikut permainan menyebutkan hal pertama yang terlintas dalam benak saat satu kata disebut, dan jika kata tersebut adalah Solo.

 

Gue tidak tahu mengapa alam bawah sadar gue akan mencetuskan kata itu. Mungkin sebagai anak muda kota yang berwawasan dan berpengalaman katak dalam tempurung, gue cuma bisa mengidentikkan Solo dengan batik. Dan batik dengan kondangan. Dan kondangan dengan…bapak-bapak tamu kondangan.

 

Gue bahkan bisa membayangkan dengan jelas bapak-bapak itu, dengan batik satin warna keemasan mengkilap, rambut disemir hitam meletek klimis karena minyak rambut, plus kumis agak melebar warna senada. Bicaranya agak muter dan medhok, khas suku yang mengalirkan seperempat darah mereka pada gue namun lenyap ditelan gen dominan kecinaan gue.

 

Tentu saja gue keliru. Pasti Solo punya lebih dari sekadar bapak-bapak. Maka ketika kesempatan main ke Solo datang dalam bentuk promo buku Have a Sip of Margarita oleh tim Build Independence, gue dengan semangat memulai riset gue.

 

Secara ganjil, rupanya Wikipedia gagal memuaskan kebutuhan informasi gue. Yang disebut batik lagi batik lagi. Terpaksa gue mengorek informasi secara langsung, dari seorang rekan kerja asal Solo.

“Bow! Gue mau ke Solo nih! Kira-kira kemana aja ya?”

Memberi tatapan berpikir keras. “Hmm…Kalau Solo sih, nggak ada apa-apa, Gy…”

Tidak putus asa, gue kembali mencecar dengan pertanyaan lain. Kalau Solo isinya cuma batik, so be it! Yang penting bisa belanja!

“Ohh..jadi beli batik aja ya? Kalau beli batik yang murah dan bagus dimana?”

“Batik keris,” jawabnya lantang.

“Lha emang  Batik Keris Solo sama Jakarta harganya beda?”

“Engga si, Gy, sama aja…”

Saat itu gue seperti mendengar bunyi twang-twang-twang di telinga gue. Kalau Batik Keris juga dengan harga yang sama, buat apa gue cape-cape mengambil risiko merenggang nyawa dengan pesawat domestik ke Solo?!

 

Mungkin teman gue memang bukan orang Solo yang baik…pikir gue. Dengan kepositivan yang sama gue mengajukan pertanyaan serupa pada rekan seperjalanan, seorang putri Solo, di dalam pesawat.

“Di Solo ada apa aja ya?”

“Wah, kalau objek wisata sih kurang yah…”

“Hoo..kalau batik beli dimana?”

“Batik Keris…”

Begitu mendengar batik keris yang kedua, gue nyerah. Menantikan pesawat mendarat dengan ‘bapak-bapak’ sebagai satu-satunya bayangan gue tentang Solo. Namun bahkan di saat gue baru mendarat, gue sudah tidak ingat si bapak lagi.

 

Kesan pertama yang didapat begitu menjejakkan kaki di Adi Sumarmo adalah bau wangi yang luar biasa kencang seperti parfum ibu-ibu yang hidungnya sudah agak kebal. Masih dengan mindset anak kota, gue melongo sambil membatin, ini Solo kan?

 

Bandara yang baru direnovasi ini terang benderang, lantainya kinclong sampai menyilaukan, ukirannya cantik, dan trolleynya canggih, mengingatkan gue  dengan Changi Airport junjungan Singapura. Begitu kontras dengan bandara Soekarno Hatta terminal dalam negeri yang gue tinggalkan sejam yang lalu. Masuk airport saja makan waktu setengah jam dalam antrian satu-baris-jadi-tiga.

 

Semakin termelongo saat mengitari kompleks Kasunanan Surakarta dengan kampung para kerabat-pekerja Keraton. Jalanan yang tertutup bata dengan dinding warna dominan biru muda terang serta bentuk gapura yang seragam mengingatkan gue pada Komplekls istana Forbidden City di Cina. Versi ademnya.

 

Saat itu gue protes sama Mas Hiu yang mengantar jalan-jalan. Kok bisa sih dua teman orang Solo tidak menceritakan ini semua pada gue dengan rasa bangga? Kalau gue wong Solo dan ditanya di Solo ada apa, gue akan langsung mencetuskan kampung batik dengan koleksi beragam, bandara berstandard internasional dan jalanan bersih tertata rapi dengan trotoar selebar lima meter yang dilengkapi fasilitas wi-fi dan bersih dari pedagang kaki lima. Mirip Orchard Road!

 

Mas Hiu cuma meringis kecil dan menjawab, Yah, mungkin karena kami tinggal disini, jadi semuanya terlihat biasa saja, karena sudah jadi pemandangan sehari-hari.

 

Mangga tetangga selalu lebih manis dari mangga sendiri. Gue terkagum-kagum melongo melihat Solo, karena gue turis. Karena Solo bukan kota gue, bukan tempat tinggal gue. Seandainya ada turis yang datang ke Jakarta, gue akan mulai bertutur soal macetnya, banjirnya, jambretnya, bomnya. Gue mungkin akan lupa akan cantiknya Pasar Tanah Abang dengan warna warni kain harga bersaing. Mungkin tak sempat terkagum-kagum dengan tugu Monas yang berlapis emas. Malas memamerkan mall yang dekorasinya menyerupai kasino mini di beberapa negara.

 

Sama juga saat melihat pekerjaan sendiri. Entah karena rendah hati entah karena jujur, gue jarang mendengar orang yang mencetuskan: I love my job! Jawaban yang sering gue terima dari rekan perkuliahan tentang pekerjaan pertama mereka adalah: Oke lah. Ya namanya juga kerja mana ada yang enak. Yang penting gajinya lumayan. Atau paling baik: Dibandingkan sama yang kemarin sih lebih enak yang ini. Meski diucapkan tanpa nada antusias.

 

Meski mungkin bukan the best job in the world, tapi sebenarnya pekerjaan mereka lumayanan, bahkan mungkin adalah the job a million people would die for. Hanya saja sulit untuk melihat sesuatu yang dilakukan setiap hari dan oleh diri sendiri sebagai kegiatan yang asik. Jauh lebih mudah untuk berdecak kagum atas apa yang dimiliki orang lain. Atas daerah asing yang jadi tempat tinggal orang lain.  Untuk menganggap sesuatu yang baru dan beda itu sebagai lebih bagus.

 

Sayang, bisa dipastikan, saat gue pindah rumah, mangga tetangga yang lebih manis itu bakal jadi milik gue. Dan berarti ada mangga-mangga lain yang akan gue inginkan. Dan begitu seterusnya sehingga gue tidak bisa menikmati manisnya mangga. Padahal, mungkin mangga di halaman itu adalah mangga hibrida yang juga telah membuat iri tetangga gue yang lain.

 

Tentu tidak semua orang seperti gue yang punya rasa sirik berlebih. Beberapa anggota komunitas blogger bengawan sangat suka dan bangga menulis tentang kota Solo-nya, memberi gue informasi yang bewarna untuk jalan-jalan gue kali ini. Gue sering mendengar kisah crazy scientist yang akan berapi-api membagi penemuan barunya, dan tidak bisa membayangkan mengerjakan hal lain selain menjadi ilmuwan.

 

Tapi terlalu banyak hal biasa karena terbiasa yang sebenarnya istimewa, menarik dan patut dicintai. Alangkah menyenangkannya kalau gue dipinjami mata orang lain untuk melihat hidup gue sendiri, sehingga bisa mengaguminya dan kembali jatuh cinta pada diri gue sendiri. Life would be much easier.

 

I want to fall in love with my own life. I want to get head over heels about things that I do. I want to passionately share my daily routine. Gue mau tergila-gila dengan  tempat tinggal gue, pekerjaan gue, keluarga gue, rumah gue, dan segala hal yang jadi milik saat ini.

 

Dengan semangat ingin bersemangat menjalani hidup itulah gue berusaha memaksimalkan jalan-jalan gue di Solo minggu lalu. Langsung melompat naik kereta api uap wisata keliling Solo ketika melihat si stroom mini sedang berhenti di depan jalan.

 

Sibuk berfoto dan menikmati pengalaman Kampung Batik Kauman sambil menikmati jamu jahe, es susu segar, diiringi alunan gamelan mini di dalam kereta, tanpa memikirkan kenapa tak ada tiket yang harus dibeli. Tetap tidak khawatir saat menyantap tengkleng, nasi goreng bakar, sambel belut, es podeng kopyor, sate ayam dengan voucher 30 ribu di Galabo, area jalanan yang ditutup menjadi tempat wisata kuliner.

 

Barulah saat gue mendengar pengumuman: BAGI KELUARGA BESAR BAPAK SUHANDI DIHARAPKAN SEGERA KEMBALI KE KERETA, gue menyadari bahwa gue selama ini sudah menjadi penumpang gelap dalam acara reuni keluarga besar Bapak Suhandi yang telah mencarter si kereta wisata hari itu…Maaf Bapak Suhandi, saat itu mood saya adalah untuk menikmati apa yang ada dan dimana saya berada semaksimal mungkin!

 

Naik mobil ngebut dalam perjalanan menuju airport Solo, gue mencatat dalam hati bahwa gue akan mulai melihat tempat tinggal gue dengan mata orang lain. Gue akan mulai dari Soekarno Hatta yang selalu gue cela.

 

Namun ternyata memang agak sulit. Saat tiba, bandara di Jakarta begitu penuh sesak dengan warganya yang baru pulang long weekend. Bagaimana bisa melihat kalau lantainya saja tak kasat mata lantaran seluruh permukaannya tertutup tapak kaki! Mengeluh lagi tentang daerah sendiri…

27th December 2009 | 5:03 am |

no

Respon

Be the first to comment!