Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

11-st-peters-square

Gara-Gara Kondom

Entah sudah berapa kali S (merk sebuah kondom) menyelamatkan hidup Anda…Begitu slogan iklan kondom di Indonesia beberapa waktu silam. Tapi buat gue, kondom itu malah menjadi sumber kemaluan (-kata benda dari kata “malu”).

Semua berawal ketika teman gue, rekan mahasiswa komunikasi menggerakkan kampanye AIDS Awareness beberapa waktu lalu. Sebagai bagian dari programnya, beliau membagikan kondom secara gratis, yang dikemas secara menarik seusai ujian tugas akhir kami. Gue, yang punya prinsip “Segala yang gratis itu baik adanya”, segera mengambil kondom itu, bukan cuma 1 tapi 2 pak, meski belum terpikir kegunaannya dalam waktu dekat. Kedua pak kondom itu lalu gue masukkan ke dalam tas, dan gue segera meluncur karena terburu2 mau mengurus pameran foto yang hingga kini masih berlangsung.

Sepulangnya dari jaga pameran, ketika gue berjalan ke MRT station terdekat, gue berpapasan dengan seorang teman lama gue. Setelah say hi dan apa kabar, gue pun melanjutkan dengan prosedur yang sopan, “eh, loe ternyata disini juga tho, sini nomer telpon loe berapa, ntar kita kontek2an lagi…” Pada saat itu, tentunya gue sudah lupa dengan anggota baru dalam tas gue itu. Tapi gue segera diingatkan, ketika sedang merogoh compartment depan tas mencari handphone. Kedua anggota baru gue itu unjuk gigi, melambung rendah membentuk setengah lingkaran dan mendarat sempurna di ujung sepatu teman lama gue itu.

Me-notice bentuknya yang khas, teman gue langsung pura-pura ga ngeliat. Dan gue, dengan sangat malu, segera memungut karet pengaman itu, sambil terus menjelaskan dengan panjang lebar kampanye AIDS awareness yang berakhir dengan kondom di tangan gue. « Iya…jadi gitu dhe..gue sih ambil aja, biar kesannya kampanyenya sukses gitu…tapi gue juga ga tau sih apa gunanya buat gue, ahh…mending gue buang aja lah..daripada menuh-menuhin tas… » ujar gue sambil cengengesan, lalu segera melempar benda aib itu ke tong sampah. Padahal dalam hati gue menjerit, yaa..sayang banget belum dipake udah dibuang…

Seminggu setelah kejadian itu gue jadi malah mikir, kenapa yah gue harus merasa malu karena ketauan membawa kondom? Bukannya lebih malu-maluin lagi kalau gue digosipin aktif secara seksual tapi ga pernah siap kondom?

Pada hari yang sama itu seorang teman gue protes. Dia gak habis pikir kenapa kondom begitu sulit didapat. Bahkan 7-11 (convenient store) di kampus ga boleh menjual kondom. Padahal di Negara asalnya, condom vending machine itu disediakan di setiap dormitory, sehingga mahasiswa yang kepepet dapat dengan mudah mengakses kondom.

Kondom di Singapura, dan di Negara Asia Tenggara pada umumnya, menjadi sebuah barang terlarang, seolah-olah menjadi alat pendukung hubungan seks yang terlarang. Alasannya, orang yang menggunakan kondom mengindikasikan mereka tidak siap dengan konsekuensi hubungan seks, yang menandakan minimnya tanggung jawab dalam bercinta.

Kondom diletakkan di tempat yang mencolok, di dekat kasir, bahkan kadang harus diambilkan oleh mbak-mbak yang jaga kasir. Coba bayangkan di posisi seorang pembeli kondom di circle K, yang harus bilang, “Mbak, tolong dong, saya beli Durex Feathernya satu…” dan lebih susah lagi kalau mbaknya bilang, “yah mas…lagi kosong…” dan harus lanjut bilang, “klo gitu yang extra light aja dhe mbak…”

Daripada terlibat dalam pembicaraan yang kurang nyaman ini, gue yakin banyak yang memilih diam, berharap bisa menahan gairah, dan kemudian gagal, dan berharap lagi, mungkin pasangan gue bersih…

Ketika gue mengadakan AIDS Awareness campaign yang disponsori Health Promotion Board (HPB) Singapore, salah satu wejangan mutlak yang harus dipenuhi jika gue mau mendapatkan 3000dolar dari mereka adalah: Promosikanlah abstinence, bukan kondom! Oleh karena itu, segala display kondom atau pembagian kondom dilarang keras. Gue pun terpaksa menyampaikan pesan itu, dengan salah seorang pengunjung stand menunjukkan tampang ngeri, “Are you seriously gonna ask me to stay abstinence?” Tentunya, daripada konyol, gue menjelaskan, ohh..enggak…tapi gue Cuma bilang, yang paling bagus itu abstinence, tapi hari gini masi perawan..susah ya…makanya kalau ga kuat, at least pake kondom…

Dan ketika salah satu proposal kami adalah menyediakan condom vending machine di setiap asrama NTU, perwakilan HPB langsung menolak dengan tegas, mau dibawa kemanaa negri ini…

Padahal kalau ditilik lebih lanjut, coba dijawab, apakah karena punya kondom orang jadi niat ML atau karena orang memang kepengen jadi butuh kondom? Pertanyaan ini bisa ditelusuri dengan pertanyaan berikutnya: Mana yang ada duluan: sex atau kondom? Jika kondom itu diciptakan terlebih dahulu baru manusia menciptakan teknik prokreasi dengan hubungan sex, bolehlah kita menyalahkan kondom atas masalah dunia sekarang ini. Tetapi tentunya, sudah sejak jaman prasejarah sex itu exist, lalu kondom diciptakan, meski juga pada awal peradaban. Ini membuktikan bahwa peningkatan jumlah kondom dan sex itu berjalan secara sejalan, tapi tidak sebab-akibat.

Dan sifat bangsa Asia yang malu-malu kucing soal si latex ini justru membuat penyebaran HIV itu bertambah riskan. Ada vending machine atau enggak, mahasiswa NTU tetep kumpul kebo. Coba aja hitung jumlah sandal pria yang bermalam di depan kamar perempuan dan sebaliknya. Gue ga percaya kalau mereka cuma sekadar tidur bareng sama-sama merem. Nyatanya, banyak dari pengisi survey gue yang mengaku sudah pernah berhubungan sex. Dan kesulitan mendapatkan kondom cuma berakhir dengan mayoritas yang telah berhubungan sex itu, melakukannya untuk pertama kalinya tanpa pengaman setipis apapun.

Paham. Paham sepaham-pahamnya kalau sex itu tabu, pantang dibicarakan, tidak sesuai dengan budaya bangsa dan sebagainya. Ngerti juga kalau pembagian kondom secara gratis dan terbuka berisiko menimbulkan asumsi bahwa sex pranikah adalah sesuatu yang biasa dan sah. Tapi coba matanya dibuka lebar-lebar…sex bebas itu ada dimana-mana, suka gak suka, mending difasilitasi cara pengamanannya….Condom vending machine!

Gue juga ga tau kenapa tau2 gue berhasrat membahas hal ini. Mungkin karena baru dipilih untuk ketemu Menlu Singapura minggu depan. Dan ada banyak list dari rekan-rekan yang kritis untuk disampaikan tentang keadaan universitas gue, salah satunya si vending machine ini. Dan gue ga tau gimana cara menyampaikannya, meski bertanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi rakyat Singapura. Gue kan anak baik-baik..masa gue harus ngomongin kondom…gila aja…apa kata orang nanti…

24th April 2008 | 11:50 am |

17

Respon
  1. Di apotik dekat rumah gw aja, kayaknya gak ada jual kondom. Hm… Pake kantong plastik aja kali yah.

    admin | January 7, 2013 | 11:21 |

  2. gile… pake kantong plastik.. ga kebayang.. hahahaha…

    admin | January 7, 2013 | 11:21 |

  3. atow kondomnya didaur ulang! jd malunya skali aj…huahahahaha!

    admin | January 7, 2013 | 11:21 |

  4. hahahaha.. setuju!
    yang pertama perlu dibentuk adalah sudut pandang kampanye berkondom: medis dan bukan normatif.
    kampane beginian mah, jangan ngomong tabu, kesehatan yang harusnya jadi nomor satu.

    :) sukses ya!

    admin | January 7, 2013 | 11:23 |

  5. sip!!!!
    betul,,
    bukan tabu,,
    tapi healthy kan?
    tapi kenapa ya orang klo ML sukaan ga pake kondom??

    admin | January 7, 2013 | 11:23 |

  6. inilah dilemanya kondom..

    admin | January 7, 2013 | 11:24 |

  7. gw setuju nih, bukan tabunya yg harus dipikirin tp gimana caranya bisa meminimalkan penyebaran aids, dan penyakit kelamin lainnya. kesehatan tuh nomer paling wahiddd

    admin | January 7, 2013 | 11:25 |

  8. yang penting mah..jangan ML aja sampe nanti nikah
    jadi kan ngga perlu kondom
    gitu aja kok repot…

    admin | January 7, 2013 | 11:25 |

  9. ha..ha..ha..ha..ha untung ibu mutia hatta gak baca blog ini kalo nggak lo bisa di cekal masuk indonesia gie soalna albumnya julia perez aja di tarik dari pasaran gara2 bagiin kondom di dalam albumnya, tp lo pernah liat gak gie di sd2 inpres kondom itu di jadiin komoditi dagang tuk di tiup jadi balon trus di mainin ama anak2 kecil

    admin | January 7, 2013 | 11:25 |

  10. hahahah emank nih. disini beli kondom = memalukan.

    gue jadi inget dulu pas bikin tugas kuliah, kelompok gue memutuskan buat bikin kampanye iklan satu merk flavored condom. kelompok gue itu isinya 2 cowok dan 3 cewek (termasuk gue). Setelah memutuskan produknya, kita pun beramai2x pergi ke apotik buat beli produkya supaya bisa dilihat dan dipelajari (bukan dipraktekkan ya) sekaligus untuk keperluan foto produk. Dan malangnya gue, nggak ada satupun yang mau sentuh si kondom untuk dibawa ke meja kasir.

    jadilah gue sebagai orang yg paling cuek di kelompok itu yg ngeborong tuh kondom warna-warni (belinya family pack bok, yg 1 pak isi 3 rasa cihihih), sementara teman2x gue cuman cengar-cengir cengangas-cengenges serba salah sendiri mengikuti di belakang gue.

    ya pastinya mbak2x atau siapapun yg melihat gue saat itu akan punya konotasi pikiran macam2x soal gue. sedangkan gue mikirnya, “kenapa juga hrs malu or risih, toh gue belinya buat bikin tugas kok?”

    oh well, anyway… menurut gue saat ini orang2x harusnya udah melek dan accept the fact aja kalau premarital sex itu udah lazim banget di kalangan anak muda sekarang (yg g denger bahkan dr usia SMP!? O_o”). dilarang susah (banget), jd lebih baik dibantu dengan pendidikan dan fasilitas keamanan yg oke. salah satunya ya dengan penyediaan kondom itu. so, good luck yah on the campaign! =)

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  11. hehehehehehe susah ya… cewek bawa kondom dibilang “wah… sering one night stand nih”, cowok bawa kondom ceweknya mikir “kacau, jangan2 kemarin habis ke lokalisasi”, kalo gak pake kondom hehehehehe kalo hamil gimana dong????

    But anyway, pemikiran positif sangat dibutuhkan untuk hal hal seperti ini, kadang kalo gue nonton kampanye AIDS di teve, gue suka sedih sendiri liat bayi bayi tertular HIV, dan perempuan2 Afrika yang kena AIDS, apalagi kasus kasus kelaparan di Indonesia, rata rata mereka anaknya lebih dari 3, dari situ bisa keliatan arti pentingnya Kondom

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  12. klo mo bli kondom tanpa perlu banyak interaksi… silakan beli di carrefour *ini bukan promosi*. Soale… kondom letaknya dijajaran obat2 dan jamu ^^.

    gw sering tuh mlototin deretan kondom disana. Lumayan lengkap.

    Klo seandainya gw harus bli kondom entah untuk tugas kek… pnasaran kek…apa kek..*lom pernah sih. Aku kan gadis belia yang lugu.. hihihihi* Kayaknya gw tipe orang yang maen beli aja. Soalnya… ga semua orang yang ngliat gw bli kondom akan berpikiran gw binal. Hihihihihi…

    Pokonya.. saya mah asik2 aja

    tapi keren juga ya lo.. mo ketemu menlu s’pore^^. Ntar critain ya…

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  13. wew bahas kondom, terus terang jujur pertama liat tulisan “kondom” gw udah bayangin bentuknya yg lucu, sedikit mau tertawa sedikit bayangin yg engga2, campur sari, klo dirasain sih libido meningkat 20-30%, tpi ujung2annya jadi pengen ketawa….(abis sekarang kondom ada rasa melon segala) kekekeke
    emang kondom itu sebuah media pengaman, yg tujuannya bagus, tpi dampak yg d timbulkan juga ada, sekarang aj tmen gw yg doyan ngesex, klo gw liat2 frequensi ngesexnya bertambah saat dia sudah tidak malu2 lagi klo belanja kondom, dan seakan2 sudah ga punya rasa takut akan terkena penyakit, mentang2 klo berhubungan memakai KONDOM……(jgn tanya kok gw tahu??, y iyaa lah orang setiap ngesex curhat moloe, ky gini nih: “brik gw dah nyicip si XX donk, maknyos”) wew mangnya makanan…..

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  14. Jadi inget satu adegan di My Sassy Girl. Di sini beli kondom emang musti sembunyi2, dulu temen gue pernah beli kondom dan biar gak malu temen gue bilang “ini buat difoto kok mbak, buat tugas periklanan” padahal mbaknya kasir gak nanya hehe

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  15. wahaha,, kalo di mesir condom jadi barang biasa aja tuh, buat pengobatan bukan buat alat kontrasepsi

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  16. ha? pengobatan apa ya? pengobatan hamil? x)

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |

  17. wew.. dlu gw suka jadi agen kondom bt tmn2 gw.. klo gw mw k apotik suka pada treak..’nitip kondom yeah!’ (hahaha, sialan)

    admin | January 7, 2013 | 11:26 |