Generasi Stoberi

Overheard di toilet sebuah kafe yang maha hietz di Plaza Senayan

“Hei, kamu sekarang udah di Jakarta?” Seorang gadis bertanya pada seorang temannya dengan aksen Cyncya Laura.

“Iya, tapi aku lebih banyak di daerah Jakarta Barat, aku kerja…” ujarnya, seolah Jakarta Barat bukan bagian dari Jakarta.

“Oh ya? Kamu kerja sekarang?”

“Iya, aku sekarang jadi Direktur! Jadi papa aku bikinin perusahaan terus aku dijadiin direkturnya deh..”

Sambil mencuci tangan gue mendengus resah. Ah dunia memang tidak pernah adil. Yang satu harus putar otak banting tulang dan menunggu tua untuk jadi direktur. Yang lain cukup segera lulus kuliah dan langsung menduduki posisi utama perusahaan.

 

You’ve heard it, you’ve read it, and you’ve probably dismissed it as much as I do.

 

Tentang ANAK MUDA JAMAN SEKARANG. (tergantung bagaimana intepretasi masing-masing orang terhadap kapan dimulainya jaman sekarang itu)

 

Seorang kenalan tampak normal dari luar. Penampilan meyakinkan. Kepercayaan diri OK. Ekspresif. Lulus dari universitas ranking dunia di Australia. Aktif organisasi. Mahir Microsoft word, photoshop hingga dreamweaver. Sehari kerja direview, diberi masukan. Besokannya resign. Pundung.

 

Seorang kenalan punya anak buah yang bikin blah bleh. Pinter ngomong. Punya ide brilian. Lulus cumlaude. Cepat belajar, menyerap feedback macam spons 3M. Tapi klien, partner, atasannya, semua dianggep bawahan. Bawaannya pengen nyuruh selalu, terutama untuk kerjaan administrative yang remeh temeh.

 

Sebenarnya gue juga enggan ngomonginnya, kadang serasa seperti ngomongin diri sendiri, atau generasi sendiri, tergantung dari sisi mana yang ngomong. Tapi semakin menjauhnya usia, semakin tampaklah apa yang dulu belum terlihat, dan semakin menyeberanglah gue ke sisi yang lain: generasi tua.

 

Lapangan kerja yang terbatas membuat gue mendapatkan pilihan cukup lebar bahkan untuk mencari freelance sekalipun. Dari sekian CV yang masuk, biasanya gue akan mengambil yang lulusan perguruan tinggi negeri bergengsi di Indonesia, IPK tiga koma sekian, dan punya cukup pengalaman organisasi.

 

Tapi bahkan di antara crème de la crème itu , gue masih suka ternganga-nganga dengan attitude yang belum pernah gue temui di angkatan sebelumnya. Biarpun terlihat meyakinkan saat interview, sanggup melakukan tugas-tugas, sehari setelah kerja ngilang. Dikejer-kejer baru akhirnya memberi alasan: ternyata nggak bisa komitmen.

 

Ada yang kerja bak steno, cepat luar biasa. Tapi begitu jobdesc diubah sedikit, langsung bosan. Nggak mau kerja tidak sesuai dengan ‘kesepakatan awal’, biarpun dibayar. Yang lain mengaku punya passion di bidang media, tapi dikasi kerjaan ini nolak yang ini juga ga suka. Baru tahu bahwa media pun punya kerjaan administratif.

 

Dan dengan berat hati pun gue mengakui, bahwa guepun melihat ada satu gap generasi baru: Strawberry generation. Manis. Seger. Packagingnya cantik. Tapi begitu dipencet, ternyata lembek. Gampang busuk. Musti disimpan di kulkas dengan suhu tertentu.

 

Generasi yang mana? Tidak ada tahun yang jelas, tapi yang gue lihat, biasanya mereka adalah generasi ketiga. Generasi pertama, tipikal yang hidup susah dari masa penjajahan, yang biasanya merintis usaha. Generasi kedua, tipikal yang lahir ketika jaman masih susah. Tapi pelan-pelan perusahaan makin maju lalu mengambil alih kepemimpinan. Atau sudah bisa sekolah hingga pendidikan baik.

 

Generasi ketiga, yang lahir dari orang tua sejahtera, orang tua yang sempat ngerasain susah dan nggak mau anaknya susah lagi. Generasi yang dijamin nggak perlu jalan jauh-jauh, dan sebisanya perjalanannya mulus menyenangkan. Lulus langsung jadi CEO. Temen-temennya jadi direktur.

 

Dari tampilan luar, generasi ini meyakinkan sekali. Wajah dan otak terpercaya paduan gen generasi kedua yang sudah bisa milih pasangan sehingga positif. Punya background pendidikan yang bagus, karena orang tua yang mampu membiayai hingga tinggi sekali, plus gizi yang baik.

 

Ide jernih, kerja cepet, KALAU KEADAANNYA MENDUKUNG. Kalau ditaroh di luar kulkas, di dalam kondisi kerja yang berbeda dengan yang diharapkan, bakal mengkerut dan sepet. Entah jadi banyak ngeluh, entah tidak dikerjakan, entah cepet keluar.

 

Nampaknya perawatan teratur jarang susah juga menciptakan mental yang kurang tahan banting, cenderung selektif memilih pekerjaan, mengharapkan perlakuan spesial, atau setidaknya perlakuan sama seperti di rumah di mana ia adalah anak kesayangan atau di sekolah di mana ia adalah asset kebanggaan.

 

“Ya namanya juga masih muda, apa sih yang ada di pikiran orang baru umur 22?” Gue berusaha membela, menjadi obyektif. Kalau dipikir-pikir, gue mungkin juga bagian dari generasi ketiga.

 

“Ah enggak deh, kita kenal juga umur 22, waktu itu nggak kayak gitu sikapnya!”

 

Ya emang enggak, gue membatin dalam hati, ga rela juga disamain. Gue sudah memiliki pelajaran berharga. Alkohol itu mahal. Taksi ada midnight charge. Tetangga seapartemen perlu jual diri. Seneng-seneng itu pake duit. Kerja nggak kerja HARUS kerja! RHARUGue perlu berpikir sedikit lebih keras jika mau bertahan hidup setelah kedok mahasiswa itu dicopot.

 

Maksudnya, gue juga tinggal dalam kulkas. Uang saku bulanan gue tiga kali lipat tunjangan beasiswa. Kamar gue (pada akhirnya) pake AC, ada internet, menghadap matahari pagi.

 

Tapi temen-temen sekolah gue anak Singapur itu hidup bermental kuli. Kalau ngeluh macamnya orang susah. Sewa apartemen naiknya dobel-dobel. Pembantu jaman sekarang banyak nuntut. Rumah jompo aja mahal. Membuat hidup gue yang nyaman itu serasa tidak nyata, tidak aman.

 

Lalu karena peer-pressure mencoba kerja. Bahkan saat magang saja, sudah tercemplung dalam office politics yang pekat dan busuk seperti air Muara Angke. Punya dua bos yang sayangnya masing-masing punya kepala yang terpisah . Ada direktur baik hati tapi terlalu tinggi untuk memperhatikan nasib cere seperti gue.

 

Gue harus muter otak, bagaimana caranya supaya terlihat ‘outstanding’, supaya nasib gue ini diperhatikan, lembur dilunasi, bonus dibagikan. Bagaimana caranya membaca tipikal orang, agar tepat membawa diri, selalu selamat dalam situasi, berkubu dengan geng yang tepat, tidak kena PHK saat ada merger.

 

Kerja freelance menulis dan menjadi pewarta juga ternyata tak semanis kata ‘bekerja untuk media’. Di negeri orang yang bahasanya jauh dari ibu. Ditipu bajaj asing. Harus bermanis-manis dengan koruptor. Pengen makan capcay tapi foto belum laku. Kena santet orang yang nggak seneng hati.

 

Dengan pengalaman seperti ini, kalau cuma ditegur bos sesekali, harus menjalani hal rutin yang jelas di atas kapasitas seorang lulusan s1, memperhalus bahasa agar tidak terlalu kentara sok taunya, malesnya, dan manjanya gue, OHHH! Pekerjaan dari surga!

 

Lalu gue berpikir sejenak… Apakah ini yang membuat beda? Karena gue pernah bertetangga dengan pelacur, tinggal di negara dengan warga mental kuli, merasakan pahitnya alkohol yang mahal? Karena biarpun di usia yang sama, gue mungkin sudah bertemu lebih banyak orang dan mengalami lebih banyak hal?

 

Seorang teman yang juga seorang Editor in Chief sebuah majalah travel punya teori yang cadas soal lembeknya anak-anak jaman sekarang. Stroberi-stroberi itu tumbuh karena anak muda jaman sekarang kurang travelling.

 

Beda dengan generasi-generasi terdahulunya (balik lagi, tergantung bagaimana intepretasi masing-masing orang terhadap kapan berakhirnya jaman dulu). Seperti dalam kasus teman ini, dari kecil sudah diajak nenek jalan-jalan mengunjungi pulau-pulau di Indonesia. Naik kapal Pelni. Tau nggak kapal Pelni? Itu adalah kapal yang membuat perjalanan satu jam menjadi Sembilan jam. Dan Sembilan jam itu terasa seperti bertahun-tahun lamanya. Nggak nyaman banget.

 

Di pulau seberang itu ia melihat alam yang berbeda. Tantangan yang berbeda. Yang melahirkan orang-orang yang berbeda. Orang yang bereaksi ‘APA ITU DUREN??’ tapi kemudian tersenyum lalu berkata ‘Ohhh.. Durian maksudnya’ ketika sedang mencari lokasi RUMAH DURIAN.

 

Dan tanpa disadari, pengalaman di tempat baru itu melatih seseorang beradaptasi dengan budaya baru, kondisi alam yang baru. Melatih kepekaan terhadap orang yang berbeda, lalu belajar memperlakukan dengan tepat.

 

Sehinga ketika dicemplungkan ke dunia kerja, beradaptasi dengan bos dan rekan kerja baru, mengikuti cara kerja dan norma yang ada, secara otomatis dilakukan. Macam tinggal ganti gigi di mobil manual. BIsa jalan cepet, bisa jalan lamban, bisa mundur…

 

Kesusahan kecilpun tidak jadi halangan untuk tetap bersikap konsisten dan profesional. Karena sudah terpatri dalam otak bahwa beda kondisi akan membutuhkan sikap yang berbeda juga. Ke gunung ya bawa jaket. Berat? Ya nggak apa daripada kedinginan.

 

Bagi beberapa angkatan, mungkin pengalaman naik kapal Pelni inipun sudah mewah dan sulit dilakukan. Tapi angkatan itu kemudian melakukan perjalanan yang lain. Keadaan mungkin memaksa angkatan ini untuk mungkin pindah tempat tinggal, atau pindah sekolah lebih sering. Yang jelas, memilih keadaan yang nyaman dan statis bisa jadi bukan pilihan.

 

Kesempatan travel inilah yang nampaknya hilang sejak satu angkatan tertentu. Ya travel sih, tour ke Eropa, ke Universal Studio, tapi bukan sebuah ‘perjalanan’ keluar dari zona yang dikenali. Perginya tetap nyaman, bisa milih ketemunya sapa siapa, seeing what is expected. Ke Paris liat Eiffel, masa lihat stasiun MRT-nya yang bau pesing?

 

Sayangnya absennya mabuk darat di jalanan yang gompal-gompal, yang tanpa disadari juga dirasakan oleh para orang tua ketika mereka masih kecil itulah yang menumbuhkan generasi yang sanggup bertahan dalam masa yang lebih sulit, yang suatu hari nanti bisa menumbuhkan usaha baru dari nol jika (amit-amit) usaha orang tuanya tiba-tiba bangkrut.

 

Nasi sudah menjadi bubur. Stroberinya sudah keburu mateng. Lagian orang tua mana yang ingin lihat anaknya sengsara, nggak ngebeliin iPad saat anaknya suka main puzzle bubble, nggak menghadiahi si ranking satu dengan tour ke Afrika Selatan.

 

Gue harus siap menurunkan ekspektasi dan memanfaatkan yang terbaik dari yang ada. Atau bahkan menerima menjadi bawahan stroberi karena memang sudah waktunya para bos lengser keprabon.

 

Semoga setidaknya stoberi yang gue kenal adalah yang versi Cina. Yang biarpun merah, besar, manis tapi anti busuk karena sudah disemprot pestisida dua botol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *