What (Gentle)Men Want

Rejeki orang memang tidak bisa ditebak. Seorang teman satu genk dan kerja kelompok di universitas jurusan jurnalistik dulu kini sudah menjadi pengusaha pemilik jaringan gentlemen club di Singapura.

 

“Wuih, bro, udah jadi orang loe ya sekarang!” gue memuji. Namun Joko, demikian saja namanya disebut, menepis. Menurutnya, dalam bisnis ini bukan dia yang meraup keuntungan terbesar. Adalah para flower girl (bukan dalam konteks upacara pernikahan) yang jadi paling kaya.

 

Flower Girl ini bertugas menari dan menyanyi bagi para tamu. Sebagai tanda apresiasi, para gentlemen yang datang akan mengalungi karangan bunga seharga 1000 SGD yang dibeli dari klub. Mirip metode sawer di dangdut pantura.

 

Dalam semalam, seorang flower girl bisa mendapatkan hingga 8 karangan bunga. Bayangkan, jika ia bekerja 3 hari seminggu saja, dalam sebulan ia akan meraup 96 ribu SGD. Itu untuk kelas flower girl yang biasa aja. Yang memang bintang panggung bisa menyabet lebih dari SGD 200.000 semalam.

“Eh bused, cowo-cowo itu pada nyari apaan sih? Hanya kepuasan yang fana! Mending duitnya buat invest sama gue di sini, bisa membantu petani!” Gue merespon.

 

“Lah dulu loe kenapa pacaran sama model celana dalem?” Sergah Joko.

“Pakaian dalam bro, bukan celana dalam!” Gue berkilah.

“Sama aja kali, pakaian dalam cowo kan emang Cuma kancut!” balasnya.

 

Gue terdiam sesaat mengingat masa lalu. Pertanyaan mendasar itu sudah jadi pertanyaan gue sejak masih kuliah. Bangga amat sih, jalan sama perempuan yang sudah dijajal sama banyak lelaki lain?

 

Kenapa banyak pria yang mau mengorbankan banyak harta bahkan kadang, hubungan yang nyata, demi sebuah fantasi bersama seseorang yang di dunia nyata tanpa uang mungkin nggak akan bisa dimiliki.

 

Begitu penasarannya hingga guepun memacari seorang pria, yang well, model pakaian dalam. Dengan cepat gue mendapatkan jawaban jelasnya. Ini pacar yang membuat gue bahagia lahir batin. Terserah orang lain mau bilang gue shallow melihat fisik aja. Lha yang fisik itu membuat psikis gue hepi beneran kok

 

Terlebih dengan ego gue yang segede lelaki itu. Oh, alangkah bangganya ketika masuk klub, segenap mata perempuan-perempuan lain menatap iri. Gue yang cenderung kontet ini digandeng cowok yang perutnya kotak-kotak enam, bisa diterawang dari jauh.

 

Tapi apa yang awalnya menjadi sebuah kebanggaan segera berubah menjadi sebuah kejengahan. Ketika bagian tubuh yang gue saja, menurut adat ketimuran belum pantas melihat, menjadi konsumsi semua perempuan yang naik MRT. Terpampang di billboard 10x ukuran aslinya. Saat itulah gue merasa risih, dekat dengan pria yang ‘dalemannya’ udah pada tau semua.

 

“Itu kan pikiran cewek, Gy, cowo mah pikirannya beda,” Joko merespon paparan gue, “buat cowok, yang penting nih cewe yang OK, milihnya GUE! Bukan yang laen! Biar kata yang lain bisa liat, tapi yang make kan gue…akhirnya!”

 

“Ya kalau dipake! Lha di klub loe, Cuma dikalungin bunga! Apa enaknya? Gue menyanggah, mengembalikan pada kasus Flower Girl.

“Kali sama tuh, sama cowok-cowok yang dulu ngajak loe foto bareng, itu buat apa? Joko membalikkan pertanyaan.

 

Ya…ya.. duluuu waktu gue masih miskin (sekarang juga masih sih, tapi sudah lebih tua aja), gue juga pernah mengambil pekerjaan yang sedangkal Flower Girl, bahkan lebih dangkal lagi karena bayarannya per jam hanya 80 hingga 120 SGD.

 

Setelah menang kontes ratu-ratuan, gue bergabung di sebuah agensi. Pekerjaan mudah yang sering gue ambil adalah ‘street-modelling’. Pada intinya kami dibayar untuk dandan yang menor, pake hak tinggi, baju sedugem mungkin, joget semangat serta bersikap ramah pada pengunjung klub malam atau pagelaran musik yang membayar, betapapun jeleknya.

 

Sebagai bagian dari keramahan, kami diwajibkan menerima ajakan berfoto bersama tanpa terkecuali. Oh, you will be surprised! Ternyata banyak loh pria yang mencari eksistensi dengan berfoto dengan perempuan-perempuan yang niat (dandannya), lalu fotonya di-upload di social media, seolah malam itu dia berhasil hook up. Bahkan biarpun wajah perempuan itu muncul di foto lima lelaki yang lain di malam yang sama.

 

Justru di saat foto bareng itu gue merasa ironis. Gue, dikurangi bedak 5 senti, bulu mata palsu, hak sepatu 15 senti serta rok mini, akan menjadi mahasiswa perguruan tinggi yang ketika dilewati di jalan, ditengok pun tidak.

 

Gue yang malam itu jadi kebanggaan jejaring social cowok-cowok, adalah perempuan yang sama, yang foto barengnya disembunyikan mantan pacar karena saat berfoto dia sudah punya pacar baru di Jakarta.

 

Tapi semua berubah, semudah karena peran yang sedang gue mainkan. I am THE STAR. Bahkan jika menjadi bintang itu hanya sebuah gelar. Sama seperti Flower Girl yang jadi puja puji, mungkin nggak akan ditengok ketika sedang bertani di kampung halamannya di Chengdu.

 

Dan untuk ikut dalam peran ini, ada banyak yang akhirnya dikorbankan. Uang, seperti ribuan dolar yang melayang dalam saweran flower girl. Atau bahkan hubungan yang nyata.

 

Buntut foto bareng, gue pernah dibuntuti pasangan penasaran yang mengira pacar atau suaminya selingkuh dengan anak kuliahan. Mereka ini bukannya jelek lho, bahkan mungkin lebih cantik dari gue. Tapi mereka menjadi korban karena perannya ‘hanya’ sebagai pasangan sah dengan pekerjaan yang wajar.

 

Pertanyaannya, mengapa mau mengorbankan hubungan yang riil dengan perempuan yang riil demi hubungan yang nggak akan kejadian, sama perempuan yang palsu?

 

“Ah loe mah Gy, mikirnya suka kelewat susah, buat cowok mah simple aja, ga ribet kayak loe,” sanggah Joko, “buat kita mah, yang penting malam ini hepi! Gue keren! Keren karena jalan sama cewe seksi, keren karena gue bisa BAYAR tuh cewe seksi! ITU gengsinya cowok” jelasnya.

 

“Bukan kayak cewek, yang bangganya kalau bisa punya exclusive relationship setia sampai mati, itu mah default aja, semua juga nantinya kayak gitu, ya pengen punya juga sih, banyak cowok yang bisa begitu, tapi nggak semua cowo sanggup bayar 200 ribu SGD semalam sama cewek yang sebahenol ini,” jelas Joko panjang lebar sambil menunjukkan satu katalog.

 

“Bro, kalau gitu gue pindah kerja tempat loe aja deh!”

“Dulu loe pas kuliah gue suruh tari perut di tempat Oom gue kagak mau!” Joko langsung menolak dengan keras.

“Itu dulu Bro! Gue masih naif! Gue pikir gue ini anak NTU, beasiswa, pernah masuk dean’s list, gue pasti bisa mendapatkan uang lebih dengan mengandalakan otak! Tapi ternyata gue salah Bro! Gue keliru!”
“Yaa… gimana ya Gy, tapi emang loe terlambat! Cewe-cewe di tempat gue itu umur 22 udah pada pensiun! Loe uda ketuaan 8 taon!” cetusnya sambil nyengir.

 

Berkali-kali gue pindah kerja dan sering diterima tanpa harus melewati tahap interview. Tapi kali ini, gue bahkan ga lolos screening CV! Rejeki orang memang nggak bisa ditebak…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *