Gereja Tua

Seberapa susahnya sih mencari Gereja di Roma?   Siang itu gue sedang berdiri di depan Basilica Santo Petrus di Roma, ketika kepala gue berputar-putar seperti tujuh keliling. Yang sudah kenal gue sudah khatam, kalau antimo gak bakal mempan. Gue perlu buru-buru masuk ke tempat ibadah untuk mendapatkan ‘obat penangkal’. Aneh emang, tapi sejak kapan idup gue gak aneh.   Antri...
read more

2-pantai-losari

Gereja Tua

Seberapa susahnya sih mencari Gereja di Roma?

 

Siang itu gue sedang berdiri di depan Basilica Santo Petrus di Roma, ketika kepala gue berputar-putar seperti tujuh keliling. Yang sudah kenal gue sudah khatam, kalau antimo gak bakal mempan. Gue perlu buru-buru masuk ke tempat ibadah untuk mendapatkan ‘obat penangkal’. Aneh emang, tapi sejak kapan idup gue gak aneh.

 

Antrian di depan masih panjang mengular-ngular. Mungkin masih sekitar satu jam lagi. Jalur potong antrian harganya 8 Euro, tidak cocok dengan semangat backpacker gue. Lagipula gue sudah pernah masuk Basilika dan cuma mau cari Gereja saja. Dalamnya kayak apa ga penting.

 

Gue lantas memutuskan untuk keluar antrian dan pindah Gereja saja. Maksudnya, ini Roma gitu loh, pusat kekatolikan dunia, yang sepanjang jalan ada Gereja bangsa 500 meter sekali. Yang basilikanya ada 28 buah beserta uskup-uskupnya. Pasti dong menemukan gereja itu semudah menelan remah-remah rempeyek!

 

Gue menuju Gesu, sebuah Gereja Jesuit yang katanya penuh interior historik. Sekalian piknik. Namun ketika gue mencoba membuka gagang pintu Gereja, pintu terkunci rapat. Gue tidak percaya, mencoba mencari pintu lain. Tetap tidak terbuka. Gereja megah ini tidak buka di hari Senin.

 

Gue memilih gereja yang lain, dekat Fontana di Trevi. Sekali lagi, Gereja ini pun tutup. Bahkan gerbangnya sudah karatan seperti lama tidak dibuka.

 

Lagi renov. Sudah tutup. Hanya buka hari Minggu. Tidak tahu kapan buka lagi yang jelas sudah tutup. Menjadi jawaban yang gue terima berulang kali ketika gue mengetuk pintu-pintu Gereja itu. Gue hampir putus asa. Rasanya lebih mudah menemukan Gereja di negara berpopulasi Muslim terbesar dunia daripada di Roma.

Hingga akhirnya gue berhasil menemukan Gereja Maria Minerva, yang dari luar juga kelihatan tutup, dan dalamya sebagian lagi direnov juga, tapi masih boleh masuk, dan gue ternganga melihat isi Gereja itu.

 

Langit-langit yang dilukis dengan warna dasar biru tua, kapel-kapel cantik penuh patung-patung hasil karya sekolah seni Italia masa lampau, altar gemerlap. Secara otomatis biarpun masih pusing, gue memilih selfie dulu dengan latar bubungan Gereja, baru berdoa.

 

Gereja ini begitu indah, begitu megah, namun begitu sepi pengunjung. Siang itu hanya gue pengunjungnya. Sampai gue serem sendiri, habisnya gerejanya gelap, sepi, banyak patung raksasa. Mana lagi jaman itu ngetrend banget kubur batu para uskup disimpan di Gereja.

 

Di situ lah kadang saya merasa sedih.

 

Di Eropa ini Gereja-Gereja megah bertaburan. Hampir setiap Gereja yang biasanya gue tidak sempat masuki karena sibuk dengan jadwal lain gue sambangi, memiliki interior yang vavavoom.

 

Langit dan dindingnya full dilukis. Patung-patung dan lukisan karya seniman Italia rebutan tempat. Dan semua dibuat secara unik satu gereja dengan yang lainnya. Sekolah seni yang berbeda-beda berlomba-lomba membuat persembahan.

 

Namun umatnya tiris. Penduduk Eropa sudah tidak lagi bisa dihibur oleh pujian kepada Tuhan. Ketika gue misa di Paris, paling hanya lima baris bangku yang terisi – masing-masing dua orang – umurnya semua di atas usia pensiun.

 

Gereja-gereja ini ditinggal sekarat. Pemeliharaan karya seni di dalamnya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Akhirnya hanya Gereja-gereja besar yang dipertahankan. Sisanya banyak yang tutup. Tukar guling sama restoran. Atau sekadar mati-segan-hidup-tak-mau, belum tutup sih tapi udah nggak ada misa.

 

Sangat kontras dengan kondisi di Indonesia. Di dekat tempat gue packing salak di Magelang, berdiri sebuah Gereja tua. Atapnya bocor, kusen-kusennya keropos digeregoti rayap, halaman penuh tanah liat, tanpa pagar menghalangi dari tebing di sekelilingnya.

 

Nih biar pada nangis lihat bangunan Gerejanya

Nih biar pada nangis lihat bangunan Gerejanya

Gereja yang dibangun tahun 1988 ini hampir roboh. Sempat dicoba untuk dibetulkan, namun berhenti tahun 2012 karena kekurangan dana. Maklum, kolekte dari masyarakat sekitar total paling Rp. 100.000 per minggu, berat sampai ke angka 600 juta yang diperlukan.

 

Namun umatnya tetap rajin ke Gereja. Nenek-nenek bisa harus terpeleset, belepotan comberan karena tanah liat menjadi licin kala hujan. Meski was-was takut anaknya terpelanting ke jurang, para orang tua tetap membawa mereka dan mengajari berdoa.

 

Nih biar pada nangis lihat bagian ruang pertemuan Gerejanya

Katanya, dalamnya lebih mengharukan lagi

No, gue bukan orang bener, di Jakarta juga ga tiap minggu ke Gereja. Tapi mencantumkan agama dalam KTP ternyata punya pengaruh. It defines us. Semales-malesnya, ternyata orang Indonesia masih lebih religius. Biarpun masih dengan sekadar ikut doktrin saja, tapi masih ikut.

 

Dan kesadaran itu membuat gue jadi rajin hunting Gereja. Di setiap kota yang gue kunjungi, di Verona, di Desenzano, bahkan di kota-kota yang Gerejanya nggak terkenal. Seperti sedang merayakan identitas.

 

 

Bandingin sama Gereja St Anastasia di Verona yang dilukis sampe langit-langit

Bandingin sama Gereja St Anastasia di Verona yang dilukis sampe langit-langit

Gue yang seringnya berdoa karena kepepet setan itu, jadi suka menikmati kesunyian dalam Gereja yang telah ditinggal pengikutnya itu. Ikut misa dengan jaminan duduk di depan. Kalau di Gereja yang cakepan dikit aja macamnya Katedral Jakarta, kursi hotseat macam ini hanya bisa didapat jika datang 30 menit sebelumnya,

 

Gue berdoa panjang-panjang tanpa takut setelah ini ruangan akan dipakai untuk Misa Perkawinan. Mendaraskan doa perlahan, memanfaatkan fasilitas yang luar biasa megah dan mentereng ini seorang diri. Plus bonus melihat-lihat karya seni bernilai tinggi seperti di museum, gratis.

 

Dan setiap kali gue mengenang lukisan di langit-langit, pikiran gue melayang pada Gereja tua Deyangan Magelang. Kalau Gereja macam ini dipindah ke Magelang, tentu bakal jadi hietz. Umatnya bakal makin rajin bikin misa, bahkan bisa dijadikan obyek ziarek alias ziarah rekreasi. Sayang Gereja di Roma tidak bisa ditukar guling ke Magelang.

 

Ini si Gereja Maria Minerva

Ini si Gereja Maria Minerva

Tentu gue tidak berharap bisa ada Gereja berkubah di Magelang. Kalau Gereja yang cakep ada aja sepi, ngapain bangun Gereja megah-megah? Ya tentu saja, gue sempat berpikir seperti itu. Mending dananya dibagikan pada orang miskin. Tapi sesaat gue ingat ketika kepala gue keliyengan di Basilika, apa yang gue cari?

 

Beribadah adalah sebuah kebutuhan. Entah karena takut entah rindu, berdoa di tempat yang layak adalah sebuah pemenuhan kebutuhan, seperti makanan dan baju. Dan hari ini kebutuhan itu tidak merata terpenuhi di Deyangan.

 

Of course you can help. By making full use of those prayer facilities to cherish your religious identity, just to do its justice, seperti gue. Tapi jika ada yang mau membantu lebih jauh, bisa menyumbang untuk pembangunan Gereja Deyangan di sini:

Rekening CIMB Niaga

No Rek:11260000037715

Atas nama: PGPM Paroki Santo Yusuf Mertoyudan QQ Wilayah Deyangan

 

Siapa tahu, ketika kebutuhan beribadah itu muncul di Magelang, tidak perlu susah-susah keliling kota mencari Gereja yang buka. Ada satu, dan memberikan persinggahan dengan faslitas yang (mudah-mudahan nantinya sudah) baik.

24th November 2017 | 4:49 pm |

no

Respon

Be the first to comment!