Matchmaking Contest

“Gy, kasi ide dong! Ini gue lagi ketemuan ama cowo yang dijodohin, garing banget! Mana gue cuma makan bakmi bayar sendiri terus mau nonton masih lama die maunya nunggu di tukang bakmi aje!”   “Dih, loe apaan sih, uda pegi aja lah, bilang loe lupa mau ke gereja!” “Yee mana bisa! Jelas-jelas tadi dia jemput gue di Gereja!” “Ya udah bilang kek, rumah loe korslet, tadi lup...
read more

18-keraton

Hai Orang Jawa, Belajarlah Pada Papua!

“Kira-kira mau dibawain apa dari Jakarta?”

“Apa yah? Apa sih yang ada di Jakarta yang nggak ada di Papua?” koordinator lapangan kami, menatap dengan bingung seperti tidak punya ide.

 

Saat itu kami sedang bersiap untuk tugas peliputan ke Sorong, Papua. Ini pertama kalinya gue menjejakkan kaki ke pulau kepala burung itu. Gue tidak terbayang, bahwa satu-satunya yang orang jawa sombong ini bisa bawa ke Papua cuma rasa miskin dan kegagalan. Atau mungkin ilmu.

Itupun pas-pasan.

Maklum, bayangan gue tentang Papua hanya dibentuk oleh apa yang ada di media. Gambaran anak-anak yang perutnya busung entah karena gizi buruk atau karena cacingan, berbungkus koteka berbalur minyak babi, di tengah pedalaman tanpa listrik.

 

Dengan bayangan sepicik ini, jelaslah kalau ditanya apa sih yang ada di Jakarta yang nggak ada di Papua, gue akan jawab, YA BANYAK BANGET DONG.. dan gue akan menghitung satu persatu produk kapitalis buatan Cina yang berderet di rumah gue.

 

Namun ketika gue menjejakkan diri di Makbon, salah satu distrik di Kabupaten Sorong, gue langsung malu pernah nanya sok-sok bawa bantuan ke Papua.

 

Hal pertama yang menampar gue adalah MCK. Rumah boleh dari papan, bocor sana-sini, tapi kamar mandi musti permanen. Ukurannya bisa sebesar rumah tinggalnya sendiri. Di dalamnya, gue selalu menemukan kloset bewarna putih cemerlang, dengan persediaan air yang cukup dan lantai wangi hasil dikosek tiap hari.

 

Di beberapa area di Jawa saja, satu desa belum tentu satu MCK. Itupun, kondisinya penuh lumut dan bau pesing. Bahkan, ada beberapa area yang sudah punya MCK masih lebih doyan berhajat di kali. Kalau nggak hati-hati, malem-malem jalan bisa nginjek gituan.

 

Dari sisi kebersihan dan keberadaban, Si orang Jawa ini langsung merasa kalah telak. Belum lagi, ketika bicara soal kekayaan alam. Di sini, kepengen makan kepiting, tinggal mungut di got. SUER! Cuma nengok aja lalu rogoh-rogoh selokan kecil di samping rumah, langsung dapet.

 

Sayurnya tinggal petik di halaman belakang. Ada daun gede besar-besar yang tumbuh baik liar maupun ditanam, rasanya seperti daun papaya, manis pahit kaya serat, paling enak kalau dimasak dalam bambu.

 

Tapi kan gak ada listrik.. MEH! Kata Siapa! Penduduk di desa Baingkete bikin listrik sendiri. Mereka belajar via youtube, lalu berkenalan dengan ahli pembuat generator listrik hidrolik. Desa ini kemudian mengirimkan beberapa pemudanya untuk belajar membuat listrik di Sulawesi. Kini desa mereka menyala terang 24 jam non-stop, GRATIS pula! Cuma bayar biaya perawatan 10 ribu rupiah per bulan.

 

Kita si orang Jawa sering kali mengukur standar kehidupan hanya atas standar kebudayaan sendiri. Melihat orang Papua tidak makan nasi kasihan, berarti kelaparan. Melihat tidak ada industri besar, berarti nggak maju.

 

Padahal, sagu itu lebih bagus buat diet daripada nasi. Makan seperempat piring langsung kenyang, melar di perut. Emang sih rasanya rada tawar, tapi kalau gratis dan bikin cantik? Beauty is pain, you see..

 

Padahal, gue nggak tahu aja, ada kearifan lokal suku Moi yang mengatur konservasi laut sehingga tidak mengalami eksploitasi besar-besaran, namanya sistem sasi. Dengan sistem ini, industri ikan dan lobster dapat berjalan dengan memperhitungkan keberlangsungannya.

 

Lebih parah lagi, lalu memaksakan takaran standar. Kirim beras bantuan. Nasi yang manis tentu lebih menyenangkan di lidah. Pohon sagu ditinggalkan, di saat padi sulit tumbuh. Yang tadinya kenyang makmur, jadinya kelaparan.

 

Bikin industri gede-gedean, bawa pohon sawit yang kemudian merusak keseimbangan alam, nambang sana nambang sini, bangun pabrik tanpa ada analisa keseimbangan alamnya. Katanya biar bisa pada kerja di situ. Begitu alamnya rusak, nggak ada yang ngerti cara memulihkannya. Balik lagi pengangguran.

 

Ketika gue mendengar bahwa terjadi Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk dan campak di Agats, Asmat, Papua, gue bertanya-tanya jika orang Jawa seperti guelah yang telah menciptakan bencana di Papua.

 

Gue memang belum pernah ke Asmat, tapi gue yakin, area itu adalah sekaya area-area lain di Papua.Mendengar kasus gizi buruk seperti melihat tikus mati di lumbung padi. Nggak masuk akal.

 

Kesalahannya sudah pasti bukan dari kondisi alam atau kekurangan makanan, akan tetapi kurangnya edukasi untuk masyarakat setempat memanfaatkan sumber daya alamnya.

 

Atau ada orang-orang Jawa lainnya masuk untuk mengeksploitasi area sekitar, tanpa memberikan informasi yang cukup tentang kegiatan yang terjadi, sehingga tiba-tiba alam rusak dan penyakit bermunculan.

 

Atau mungkin sesederhana tidak melakukan sesuatu, membiarkan murid-murid hanya disambangi guru sekali per dua minggu. Sehingga akhirnya anak muda di desa tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk melindungi alam dan masyarakat mereka. Bahkan ga tau definisi gizi baik.

 

Jadi kalau ditanya bantuan seperti apa yang diperlukan masyarakat Agats sekarang, ya jelas bantuan bahan makanan dan obat-obatan. Lha sudah kejadian, tentu perlu ditanggulangi secepatnya.

 

Tapi memberikan bantuan tanpa tindak lanjut edukasi, hanya akan menumbuhkan masalah tambahan di kemudian hari. Dan bukan cuma sekadar pendidikan, tapi pendidikan yang membantu masyarakat setempat untuk, bahasa orbanya, BERDIKARI.

 

Gue teringat cerita seorang teman dokter yang menemukan satu area di mana anak-anaknya semua minum susu formula dan yang tidak mampu beli susu berakhir kurang gizi. Ternyata semua diawali kasus bayi kurang gizi  sehingga posyandu setempat memberikan bantuan susu formula.

 

Namun bantuan itu tidak disertai pemahaman bahwa ASI sama baiknya dengan susu formula. Akhirnya, timbul keyakinan bahwa bayi harus diberi susu formula. Seandainya yang diberikan adalah edukasi cara memberi ASI, mungkin kasus gizi buruk malah tidak terjadi.

 

Beberapa hari dikelilingi berbagai potensi alam dan berbagai jenis bahan pangan yang tumbuh secara alami, gue yakin tidak perlu mencari makanan dari luar Papua. Sayangnya belum ada yang memahami dan membagikan pemahamannya.

 

Gue mengapresiasi mereka yang menghabiskan harinya mempelajari tatanan hidup di Papua dan menggunakan pengetahuan itu untuk mendobrak blokade ilmu. Gue berharap lebih banyak lagi yang ikut. Pasti ketagihan!

 

Karena, seperti yang gue alami, dalam proses sok-sok membantu itu gue malah dapet edukasi. Sebanyak ternyata gue telah bertanggung jawab atas proyek pemiskinan masyarakat di timur Indonesia ini, ternyata gue pun ikut dibuat merasa miskin ilmu mengetahui kearifan lokal Papua.

25th January 2018 | 3:51 pm |

3

Respon
  1. Sangat setuju dengan tulisan ini ….
    Saya pribadi punya pandangan … bahwa sudah saatnya pembangunan di negeri ini harus lebih banyak diarahkan ke Indonesia timur khususnya Papua.
    Singkatnya, kalau mau menilai Indonesia ini sudah maju atau belum, pembangunan sudah merat atau belum …. ya tinggal lihat Papua saja …
    Ya tapi itu cuma pandangan pribadi saya sih …

    Imma Andrera | January 31, 2018 | 07:32 |

  2. Ditulis dengan sangat apik, mbak Margarita :) (mudah2an gk keberatan sy panggil mbak hehe)

    Evi Kurnia | February 7, 2018 | 07:15 |

  3. trimakasih! Panggil Margie sajaaa.. hehehehe

    Margareta Astaman | February 15, 2018 | 17:40 |