Renungan Ulang Tahun: Edisi Baru Belajar Astrologi

Gambaran grafis berdasarkan detail kelahiran seseorang ditampilkan di dalam kelas astrologi siang itu. Wajah-wajah para murid berkerut, membaca apesnya pemilik birthchart.

“Cacat dari lahir, ya?” tebak seorang murid.

“Apa orangnya masih hidup?” Tanya seorang murid yang lain. 

Bu Guru hanya tersenyum, “masih, dan ada di antara kita, coba, tunjuk tangan, birthchart siapa ini?” Gue, cengengesan seperti biasa, mengangkat tangan. Ruangan penthouse apartemen di bilangan Jakarta Selatan itu tiba-tiba terisi gemuruh bisikan. Gumaman kasihan, yang disertai tatapan tidak percaya. 

Bagaimana mungkin, seseorang yang begitu digandrungi penyakit dan kenaasan, bisa bertahan hingga usia dewasa, punya perusahaan sendiri, menulis tujuh buku, keliling puluhan negara,  belajar astrologi pula. Sambil ketawa-ketawa.

Lah jangankan mereka, gue aja kadang heran kok.

Kalau dalam bacaan fengshui, gue terlahir lewat bintang kematian. Biasanya, mereka yang semacam ini meninggal di usia kanak-kanak atau terlahir cacat secara fisik. Sering kali, adalah anak-anak yang ditumbalkan, atau emang nasibnya aja begitu. 

Kalau dalam astrologi, gue punya rekor planet di rumah keenam, rumah kesehatan, yang terbanyak yang pernah dilihat sang Bu Guru sepanjang puluhan tahun karirnya. Katanya, semakin banyak planet, semakin berat tantangan di bidang itu. Penyakitnya biasanya berat-berat, dan mengancam kehidupan semua. 

Gitu deh kalau papih mamih nggak percaya gitu-gituan, nggak milih tanggal lahir anaknya. Secara medis, anaknya terlahir sempurna, or so what my parents and I think, tapi punya koleksi kelainan antik. 

Hingga usia tertentu, gue hanya diberi asupan bubur daging karena mamih berharap setidaknya kalau nggak muntah, gue menelan protein. Sebagian besar sih gue muntahin lagi. Seandainya kondisi ini bertahan lebih lama lagi, pertumbuhan otak dan fisik gue pasti terhambat.

Beranjak remaja, gue mengenal segala penyakit aneh. Hepatitis dengan kadar SGPT SGOT Di atas 2400, sedangkan angka normalnya di bawah 30, sudah 4 kali. Tifus, campak, liver, demam berdarah di saat yang bersamaan. Dan koleksi terakhir, lepasnya jaringan retina mata. Gue baru tahu, bahwa banyak rekan sebaya yang belum pernah opname. Gue pikir kayak gue semua, tiap tahun sekali-dua kali lah…

Titik kritis gue banyak, apalagi pas masih kecil. Pada tanggal birthchart gue dibuka, sekitar 2014/2015, saat gue nggak bisa bangun dari tempat tidur dan dibilang ‘expire’, ada banyak tanda-tanda yang mengindikasikan hari kematian. Tanda yang sama yang terlihat di chart Lady Di atau Ibu Ani di hari mereka berpulang.

I might have, if not for one thing. Kita pernah baca semua kisahnya. Setiap juara paralimpic, setiap motivator berketerbatasan fisik, survivor penyakit kritis penulis buku inspiratif. Mereka yang diberikan tantangan paling besar secara fisik, justru yang paling punya kekuatan mental. Yang harusnya hidup malang, justru malah bisa memberi semangat hidup pada orang lain.

Karena for everything that is lacking, God is giving something else abundantly. Dalam hal ini, gue dianugerahi hati yang bersuka cita. Banyak banget. Kalau dalam astrologinya, ada empat elemen sagitarius yang menguasai kepribadian dan pikiran gue. Rasi yang sangat cuek, selera humornya tinggi dan suka menertawakan diri sendiri. 

Semacam seluruh blog ini sebenarnya isinya adalah keapesan gue, mulai dari sakit, ditinggal kawin, sampai disantet. Gue berusaha keras membuatnya jadi pedih biar yang baca pada nangis. Tapi bukannya iba, malah pada ketawa… I always find comedy, in every satire of my life, and somehow it makes me feel better.

Dan kemampuan menertawakan diri sendiri itulah yang memberi gue kekuatan. Di saat gue telengkup sebulan karena retina lepas, gue tahu satu-satunya yang membuat gue bertahan adalah kalau gue nggak depresi. Jadi gue bikin lawakan sepanjang hari. Hingga si mamih ngomel, “bisa nggak sih kalau sakit tuh nggak cerewet?”

Dengan perasaan hati semacam ini, I really can’t sweat the small thing. Kalau cuma diledekin karena jerawat doang sih nggak life-threatening. Bruh.. coba rasain kalau kulit ari tidak tumbuh selapis di atas kulit jangat, melainkan saling bertaut. Kulit ari yang selalu mengelupas, akhirnya selalu menarik kulit jangat tempat pembuluh darah dan syaraf untuk terlepas, mengakibatkan sekujur tangan selalu berdarah-darah. Kondisi terburuk adalah hingga copotnya kuku dan kebotakan. 

Gue juga nggak sempet watir kalau ulang tahun. Abis gimana dong. Waktu masih kecil, saat selalu demam, selalu muntah, selalu minum puyer, gue berandai-andai apa rasanya jadi remaja berusia 14 tahun. Udah kiamat belom ya? Gue gak yakin akan diberi usia melewati masa kanak-kanak. Kalau perkara umur segini belom kawin lah, belom tajir lah, belom paripurna lah, ya elah, ntar gue ditegor Tuhan, dikasi hati minta jantung!

Dampaknya, gue jadi sering terlihat kurang empati. Gue pernah membuat seseorang menangis, setelah mengeluhkan nasibnya nggak kawin-kawin.

“Emang kenapa sih pengen banget nikah?” gue berusaha menelusuri pangkal kegelisahan.

“Gue udah umur segini, gue pengen punya keluarga.. pengen punya anak..”
“Ya elah kalau mau punya anak doang sih, zaman sekarang nggak usah pake nikah juga bisa!” gue lalu mengeluarkan beberapa opsi mulai dari donor sperma hingga pembekuan sel telur. 

Sang teman malah nangis sesenggukan. Membuat gue merasa bingung dan awkward di sampingnya.

Tentu saja angka harapan hidup gue saat ini tidak berasal dari gue seorang saja. Buat gue yang madesu ini, dititipkan bintang penolong yang telah menyelamatkan gue dari masa ke masa. Dokter yang mengantongi tiga spesialis; kulit, liver dan penyakit dalam, yang memahami sejarah penyakit gue luar dalam. 

Bunda, yang darinya gue mengenal doa yang jelas menambah ekstra ketabahan dalam hidup. Hingga Brud, yang salibnya adalah tetap tahan mendoakan gue yang banyak musuh tapi sedikit doa … And that’s exactly the point. God won’t left anyone alone too. He gave us the exact tools and companion we need to survive.

Ngemeng dah kayak pemuka agama, mentang-mentang udah mau natal.. Ya sama sih, Ada masanya gue berandai-andai bagaimana jika gue diberi fisik yang sehat. Ada banyak hal yang ingin gue lakukan, tempat yang ingin gue kunjungi, mungkin gue bakal pengen cepet-cepet nikah. 

Tapi belom tentu juga gue hepi. Gue kan tidak diberi hati yang sensitif, atau kerentanan terhadap depresi. Gue tidak tahu bagaimana sengsaranya punya hati yang tak damai, atau punya anggota keluarga yang tidak menyenangkan.

Jadi, untuk menjawab pertanyaan favorit pemirsah di masa ulang tahun tentang resolusi tahunan, I would say: I want to focus more on what I have, not on what I don’t have. To celebrate each day as a bonus. Kalau ada watir-watir dikit dalam hidup, that’s a good sign, karena itu pertanda, we’re alive. Apa lagi sih yang dicari?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *