Kisah Negara Minder dari Semarang

Di Semarang ada apaan sih? Gue seringkali dihadapkan pada pertanyaan ini, setiap kali gue bepergian ke ibukota Jawa Tengah itu. Bayangan udara lembab semenanjung berpadu dengan terik matahari menyapu gedung-gedung kuno yang mulai digeregoti tanaman liar, membuat setiap penanya, baik yang sudah pernah pergi maupun yang tidak, mengerenyit pesimis.   Petualangan, gue menjawab...
read more

16-aku-yang-agamis_0

Invisible Significance

Dalam agama saya, ada satu ayat injil yang menyatakan, ‘Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu! Karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua’

 

Seumur hidup, saya yakin ayat itu cuma kiasan. Yang bener aja, yang bikin dosa kan emang tangan lah, kaki lah, mata lah, idung lah, bisa buntung semua dong.

 

Namun ketika mendengar pengajian tuna netra di Masjid salah seorang teman, saya baru menyadari kebenaran ayat ini. Dengan penuh kekusyukan para tuna netra meraba Al-Quran versi huruf braille, sambil melafalkannya dengan lantang.

Bibir mereka setengah tersenyum, seolah sedang bicara langsung dengan Sang Empunya Dunia. Curhat, sambil memuji dengan mengeluarkan suara termerdu yang mereka bisa. Tidak ada mobil SUV lewat, anak kecil makan Chiki, dan perkara-perkara remeh lainnya yang dapat mengganggu kesenangan mereka mengaji.

 

Membandingkannya dengan ibadah saya sendiri bukanlah sesuatu yang apple to apple. Momen meditatif dalam ibadah terkadang bagi saya bener-bener nyiksa. Memejamkan mata dan berdiam dalam gelap begitu membosankan!

 

Dalam waktu 5 menit pikiran saya sudah akan berkelana meninggalkan gedung Gereja, membayangkan kesenangan-kesenangan yang akan saya lakukan begitu selesai misa. Otak saya mulai mengurutkan jadwal kegiatan yang harus saya lakukan, habis ini, besok, sampai minggu depan.

 

Kelengkapan indera selama ini telah membantu saya menyaksikan kebesaran Tuhan. Saya bisa melihat matahari terbit di balik gunung yang tersusun tiga ke belakang, mendengar kercipan burung, mengecap segarnya air terjun, merasakan halusnya butiran pasir, mencium bangkenya bunga Raflessia.

 

Dan setiap saya menikmati semua itu tentu terbersit rasa syukur atas kebaikan-Nya hingga saya bisa merasakan semua sensasi itu, dan rasa takjub akan kebesaran Sang Pencipta.

 

Namun di saat yang sama, keindahan dan kelengkapan itu justru menjadi godaan terbesar yang menjauhkan saya dari hal yang paling penting di dunia ini. Ada begitu banyak keindahan, kesenangan, atau setidaknya urusan dalam dunia ini, mengapa menghabiskan waktu dalam hening?

 

Akhirnya, ibadah hanya menjadi kewajiban. Sesuatu yang harus saya lakukan seminggu sekali, supaya ga dosa. Momen satu jam berdiam mendengarkan khotbah menjadi momen terlama dalam hidup. Kalau bisa datangnya mepet-mepet biar gak kelamaan ‘nganggur’. Seolah Tuhan adalah  guru killer yang mewajibkan saya masuk pagi ke sekolah.

 

Bukan lagi sebuah kesenangan seperti yang ditunjukkan para tuna netra siang itu. Mereka datang setengah jam sebelum kegiatan pengajian dimulai, setiap hari jika diizinkan. Dua jam terasa terlalu singkat, dan mereka merasa rugi jika tidak bisa ikut dari awal.

 

Karena bagi mereka ibadah adalah sumber sukacita di dunia. Hidup tanpa melihat kesenangan dan keriuhan yang lain membuat mereka dapat merasakan mengaji sebagai aktivitas paling menghibur. Konsep Tuhan jadi menyenangkan dan dinanti-nanti.

 

Mereka rindu berdoa, seperti saya rindu mengecek Instagram di sela-sela jeda waktu setelah komuni. Bedanya kalau mereka menanti jika Tuhan sudah merespon doa, saya cukup senang untuk tahu kalau foto yang baru diposting di Instagram sudah nambah like-nya.

 

Masih mending kalau yang diurusin cuma diri sendiri. Sang teman yang empunya Masjid berbisik di samping, enak kan Gy kalau masjid begini, Gue mao pake celana jins sobek-sobek, kaos oblong, ga ada yang komentar! Sesaat ia harus memberikan sambutan di depan. Kami semua terkikik-kikik di belakang, tidak terbayang modelan kayak ngono ngasi sambutan di Masjid lain.

 

Judgement. Ah, kadang mata ini memang lebih sering saya gunakan untuk jelalatan dan menilai orang lain dari luarnya saja. Si ini gak modis, si itu cupu, si anu social climber.

 

Memang paling gampang memberi penilaian dari luarnya saja. Menganggap seseorang sengkek karena matanya sipit. Atau yang lain radikal karena celananya ngatung.

 

Lalu karena paling gampang juga diikuti, penampilan seolah jadi satu-satunya yang perlu dijalankan. Sang teman pernah mengeluhkan whatsapp group kuliahnya yang sibuk memperdebatkan tentang memanjangkan jenggot. “Puluhan Haditz meminta kita membantu orang miskin, tapi mereka berantem tentang satu haditz tentang jenggot?”

 

Padahal, ketika itu semua dilucuti, nothing matters. Para tuna netra siang itu tidak tahu dan tidak peduli siapa yang berada di sebelahnya. Apakah santunan ini diterima dari tangan seorang bercadar dari Aksi Cepat Tanggap, atau dari tangan kuning langsat seorang Cina, bermata sipit yang cuma punya beberapa helai baju bertangan panjang.

 

Mereka tidak bisa membuat penilaian berdasarkan ciri-ciri fisik, dan ternyata, itu membuat ibadah mereka lebih fokus. Alih-alih menilai orang lain, mereka jadi bisa menyerahkan tugas itu pada Tuhan saja, dan bertekun kembali dalam ujian di mata Tuhan.

 

Ah mungkin memang benar kata seorang teman yang juga hadir. Di dunia ini, mungkin kita yang harus menuntun mereka. Tapi di akhirat, mungkin mereka yang akan menuntun kita. Karena mereka telah melepaskan indera yang begitu indah. Indera yang ternyata malah sering membawa kita menjauh dari-Nya.

16th October 2017 | 12:04 pm |

no

Respon

Be the first to comment!