Ketika Singa Bermulut Besar yang Jahat Menulis Buku

“Gie, itu si X loe apain? Kok nggak kedengeran lagi kabarnya?”

“Nggak gue apa-apain kok, Cuma gue kitik-kitik aja pake kata-kata..”

“Kitik-kitik pake kata-kata! Ngeri banget sih loe!”

“Sungguhlah gue pecinta damai! Tapi dia menggangguku..Belom aja dia gue jadiin pembantu seumur idup!”
“Giee..untung gue temen loe ya?”

Seperti yang sudah terlihat dari percakapan di atas, sudah jelas sifat gue. Gue pendendam, tidak pemaaf dan tidak pengasih. Seandainya gue masih SMA, tentulah diterima bergabung di Gank Nero yang suka menggencet anak baru.

 

Singa bermulut besar yang jahat, demikianlah julukan yang gue terima dari teman sekitar, atas kemahiran gue sebagai atlet bela diri dengan senjata balas dendam yang runcing, traumatis dan menimbulkan luka dalam: Silat Lidah.

 

Gue pertama kali berlatih cabang olahraga tersebut saat masih ABG. Ketika dalam tekanan hidung penuh ingus dan mata yang kabur gara-gara air mata, mengetik sebuah artikel yang ternyata diterbitkan. Ceritanya ringan dan dianggap lucu, kecuali oleh satu orang: yang membuat gue menangis semalam tersebut. Lelaki yang namanya gue ambil versi perempuan-nya untuk tokoh antagonis gue yang perilakunya tercela di mata agama.

 

Masih belum terpuaskan balas dendam, gue ketagihan menyelipkan nama sang lelaki malang di setiap tulisan yang gue buat, tanpa orang lain menyadarinya. Dan the sweetest revenge datang, saat beliau memohon agar  namanya tak lagi dicatut untuk segala nama figuran, tokoh utama antagonis, sebagai banci dan perempuan. Saat gue bisa tersenyum manis dan menjawab: “How can I stop? You’re my inspiration…You will ALWAYS be…”

 

Now, I gotta be honest, blog ini punya awal yang mirip. Tidak dalam hal tokoh yang ditulis, tapi tujuan penulisan: Mengalihkan energi mencela dan menyakiti orang lain lewat tulisan. Jika akhirnya gue bisa menyebut satu ambisi gue: adalah menerbitkan buku supaya bisa menuliskan di halaman pertama, dedikasi penuh dendam yang selamanya akan tercantum dan dipajang di rak.

 

Selama dua tahun gue terobsesi memikirkan satu kalimat yang akan tercantum di halaman depan. Satu baris yang mewakili segala kebencian dan akan menusuk secara tepat satu orang yang dimaksud. Kata-kata membunuh yang jika dirangkum lebih singkat lagi akan berbunyi: NIH! MAKAN TUH! Dan gue akan memuntahkan segala dendam dan moving on. Lepas. Bebas.

 

Lalu kesempatan menuliskan kalimat tersebut datang. Blog ini, ya, blog yang sedang dibaca, yang jadi alat pelatih balas dendam, akan dibukukan. Dan gue duduk terdiam di depan laptop, menyadari, gue sudah tidak ingin lagi menuliskan kalimat itu.

 

Seorang oom pernah main adu kebut dengan mobil sebelah saat perjalanan ke Puncak. Tujuannya supaya tidak mengantuk dan memacu agar lebih cepat sampai tujuan. Tapi si Oom keasyikan main salib-salib-an hingga tak menyadari bahwa jalur ke Puncak telah terlewati. Saat melihat papan penunjuk jalan berjudul SUBANG, barulah ia menyadari bahwa ia telah sampai LEMBANG…

 

Manusia suka menciptakan patok-patok tujuan dalam hidup. Membuat target yang dijadikan pedoman apakah mereka sudah meraih sukses, atau berharap patok itu bisa jadi alat meraih tujuan. Tapi terkadang terlupakan, patok itu hanya parameter, bukan tujuan itu sendiri. Dan sanking fokusnya sama si patok, manusia justru tak bisa melihat tujuan yang dicari…atau bahkan tidak menyadari kalau tujuan itu telah tercapai meski tak melewati patok.

 

Sering terjadi juga, patok yang ditancap letaknya cukup jauh. Dalam perjalanan meraih patok, apa yang sebenarnya jadi prioritas hidup telah bergeser. Namun karena sudah kadung mematok, pergeseran ini tidak dirasakan. Sadar pun, sebisa mungkin diabaikan, karena merusak rencana yang telah berjalan.

 

Barulah saat patok itu dicabut dari letak awalnya, terasa, patok tetaplah patok, bukan yang jadi arti hidup. Sukur-sukur belum terlambat untuk putar balik dan meraih patok yang lain. Kadang patok itu memang sangat jauh sekali, dan seseorang tidak pernah sempat memaknai tujuan hidupnya.

 

Tulisan balas dendam di halaman pertama itu adalah patok yang gue buat. Bukti bahwa gue sudah lepas-bebas. Blog ini adalah sarana untuk meraih si patok. Tapi selama dua tahun, blog ini sudah bukan lagi sekadar sarana meraih patok. Bahkan patoknya, bak marka kuburan, sudah bergeser sekian meter.

 

Apa yang tadinya hanya pengisi waktu bengong guna menutup bolong rutinitas besar yang terpaksa hilang kini telah menjadi rutinitas itu sendiri. Sebuah kebiasaan yang jika dibuang, akan menciptakan geroak yang sama tak tertutupinya.

 

Sudah lama sekali blog ini tak lagi menyinggung  satu orang target dendam Nyi Blorong tersebut. Bahkan mungkin tak pernah berkisah tentang satu orang itu dari awal. Dan gue baru menyadarinya sekarang, bahwa entah dari kapan, gue sudah meraih apa yang gue inginkan.

 

 I have moved on, far before I knew I am freed to move. Gue tidak pernah ingin balas dendam. Yang gue inginkan adalah moving on. Berhasil balas dendam tentunya membantu proses maju kedepan itu, tapi tanpa disadari, gue telah bebas lepas tanpa perlu balas dendam

 

Blog ini sudah bukan lagi tentang satu orang yang memaksa gue mengawalinya. Blog ini adalah tentang lima pelacur Filipina yang pernah berbagi rumah dengan gue. Tentang  TKW yang duduk di sebelah dalam pesawat ValuAir Singapura-Jakarta. Tentang Oknum R, tentang Hansip Udin, tentang sahabat-sahabat perempuanku, tentang orang kota yang numpang lewat dalam hidup.

 

Blog ini juga tentang orang-orang yang telah dibawanya dalam hidup gue. Orang-orang yang kemudian memberi gue tujuan dan patok baru dalam hidup. Gara-gara si blog gue bisa makan kenyang dengan hidangan Jepang luarr biasa istimewa di resto Hanabi di Singapura plus tiramisu maknyus dari Helen’s cake, mendapat buku 5cm dengan tanda tangan penulis, cover plus foto profile yang keren karya Ade dan dibagi cerita-cerita tentang pacaran beda agama yang fantastis, kisah anak rantau…

 

Dan karena blog ini adalah tentang mereka dan loe semua, yang rela hati membaca hingga paragraf ini, gue bermaksud untuk mengundang kalian ke acara launch si buku blog itu. Acaranya bakal diadakan tanggal 8 November 2009, jam 5 sore, Di acara Indonesian Book Fair di Jakarta Convention Centre. Melihat posting ini berlaku sebagai undangan… J jangan lupa juga gabung di facebook event untuk launch ini

 

Biarkan gue memperuntukkan buku itu untuk kalian dan supaya terbongkarlah apa yang akhirnya gue tulis di  halaman terdepan. Sejambret kutipan yang karena salah fokus, cuma bisa gue pikirkan sehari sambil terkecut-kecut. Padahal butuh dua tahun merancang kata-kata penuh ranjau yang kini jadi sia-sia!

 

Gue berharap kutipan itu lebih mewakili patok hidup gue sekarang: membuktikan bahwa berpikir adalah hak setiap orang, dengan latar belakang apapun mereka dilahirkan. Karena buku ini adalah tentang untuk setiap penghuni kota besar, yang seumur hidupnya berjuang membuktikan bahwa, kami itu punya otak dan hati lho! Meskipun sedikit organ tubuh itu memang lebih banyak digunakan untuk merancang plot balas dendam daripada merenung… Tapi setidaknya kami adalah singa bermulut besar yang jika mengigit memberi vitamin…

I’ll see you there!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *