Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

12-stasiun-tuntang

Ketika Tuhan Memang Satu, dan Kita (tiba-tiba) tak Samaaaaaa

Karena Kita Berbeda

 

Demikian hasil sebuah polling kecil yang diadakan sebuah radio wanita di Jakarta. Bahwa sebagian besar pasangan di ibukota, menjadikan perbedaan agama menjadi alasan terbanyak kedua putus hubungan mereka yang terakhir, sedikit di bawah ‘keluarga tak setuju’.

Digambarkan secara dramatis dengan nyanyi-nyanyi lagu Marcell, mengingat ini adalah hasil MAYORITAS, sudah pasti bakal banyak perempuan kota Jakarta yang tertawa-tertawa menangis meringis mendengarnya. Ya, ngaku. Gue juga. Apalagi gue. Yang seumur hidup sudah menggunakan alasan itu untuk menghancurkan hati ini over and over again. Caileh. Curhat. Biarin blog sendiri.

 

Sepintas gue langsung setuju. Jakarta yang semakin majemuk ini sungguh membuat pertemuan individu berbeda agama jadi gampang. Apalagi Jakarta juga makin sekuler, membuat pertemuan individu sama agama, juga semakin sulit.

 

Tapi di sisi lain, gue jadi menaikkan alis setengah senti meringis, sambil mikir, ah nih orang-orang pada nyari alasan aja. Karena sebanyak gue menjalaninya, sebanyak itu pulalah gue putus, dan sejujurnya, tidak pernah sekalipun agama menjadi penyebab gue putus dengan para mantan yang berbeda agama.

 

Setiap orang yang memasuki hubungan beda agama rasanya sudah dibekali dengan kesiapan akan toleransi yang tinggi. Jarang sekali dalam sebuah hubungan gue akan membawa-bawa soal agama, apalagi sampe berantem lalu PUTUS!

 

Jangankan yang pacaran beda agama, yang sama aja belum tentu akan mengisi waktu berduaan dengan membahas kitab suci. Oh No… Gue tetep bakal putus kalau begitu acaranya.

 

Dan tidak mungkin dalam hubungan seperti ini, yang lagi lucu-lucunya berjalan, tiba-tiba muncul pembicaraan, ‘marilah kita hentikan hubungan yang indah ini karena kita beda agama dan tidak mungkin menikah.

 

Tidak! Pembicaraan itu hanya terjadi saat pihak yang memulai pembicaraan punya alasan yang tidak terucap. Misalnya, sudah punya BACK-UP, sodara-sodara! Karena sudah ada orang lain yang sama rupawan, sama pintar, sama tajir, DAN bisa dinikahi Atau karena ada yang mulai membentak dan melempar barang-barang *eh itu namanya KDRT, ya? Ada yang karena bosan saja.

 

Dan di titik nadir bosan itu, maka pembicaraan agama mulai muncul. Yang awalnya nggak papa nikah beda agama, rela nikah di Pyongyang meski jauh, atau rela hidup jauh dari orang tua, kini minta convert, minta poligami, minta stiker rumah gadang ditempel di jidat. Pokoknya setidakmasuk akal mungkin, agar tercetus, ‘yah, kita nggak cocok lagi, putus aja deh!’.

 

Padahal, sungguh, alasan-alasan sebenarnya cukup universal, Kalau ada KDRT, selingkuh, ataupun bosan, mau agamanya Kresten, Katolik Budha, Konghucu, Islam, Hindu, Tao, Kepercayaan, Sikh, Sintoisme, atau apapun, tetep aja, dia tidak akan menjadi Imam/Pendeta/Pastor/Biksu/atau sekadar pemimpin keluarga yang baik bagi siapapun.

 

Lantas, alasan beda agama itu nggak valid, dong? Jadi semua orang, TERMASUK GUE, selama ini mengada-ngada tiap cari alasan putus gitu ya? Eh, valid juga ah!

Coba kalau pacar gue agamanya sama, biarpun dia suka melempar barang-barang, mungkin akan tahan-tahanin. Gue bakal belajar karate. Sehingga tiap kali dilempar barang, gue akan berteriak ciyaatt..sambil melempar balik barang bak bumerang. Apalagi kalau dia ganteng, kaya raya, dan…jarang ada di rumah. Ban Kuning juga cukup.

 

Tapi karena beda agama, gue mikir. Coba bayangkan, gue masih seger, buger, seksi, punya kerjaan gini aja uda dilempar permen. Gimana kalau gue hidup sendiri, dikucilkan orang tua, teman dan tetangga tiada sudi membantu, tiada mendapat pekerjaan, hidup bergantung secara ekonomi-fisik-dan batin, tua, keriput, menopause, kering? Pasti bukan barang-barang lucu lagi yang dilempar. Kompor! Itu sangat berbahaya!

 

Atau kalau misalnya agamanya sama, mungkin gue tidak selingkuh. Demikian juga alasan yang disebut mantan pacar guna membela diri saat itu, dia berkata, ‘kalau kamu Islam, aku juga nggak akan nyari yang lain,’ gitu. Dan gue menerimanya dengan lapang dada. Itu masuk akal kok.

 

Kok bisa? Coba ditilik tabel syarat lelaki pujaan versi gue ini. Ngaku, setiap orang pasti punya tabel serupa, yang dikeluarkan saat sedang bingung di antara dua hati. Oke, gue memang gak terlalu mahal, kriterianya sedikit saja, nilainya juga semua seimbang, kecuali kekayaan.

 

Materi Nilai
Seiman 1
Ganteng 1
Kaya 2
Baik Hati 1

 

Misalnya ada dua pria yang datang mendekat, yang satu ganteng, kaya baik hati, tapi nggak seiman. Lalu ada pria kedua, seiman, ganteng, kaya, tapi jahat. Dan ada pria ketiga, Seiman, kaya, baik hati, tapi jelek, maka akan dimasukkan nilai seperti tabel di bawah ini:

 

Materi Nilai Pria A (Tak seiman) Pria B (seiman)
Seiman 1 X 1
Ganteng 1 1 1
Kaya 2 2 2
Baik Hati 1 1 X

 

 

See! Nilainya jadi sama! Logikanya, kalau sudah punya pacar yang ganteng, kaya baik hati harusnya tidak mencari yang lain. Tapi karena beda agama, nilainya tidak sempurna, dan karena manusia selalu mencari Tuhannya yang sempurna, maka kecenderungan mencari yang lain jadi tumbuh.

 

Sebaliknya, kalau sudah seiman, maka kecenderungannya ditahan-tahanin, gapapa deh dia jahat, yang penting dia seagama, bisa dinikahi di katedral, hore! Atau gapapa deh dia jelek, yang penting dia baik dan kaya. Kalau buat cewe itu yang paling penting kan? Iya kan? Kan? Kan?

 

Dan masih banyak hal kecil lainnya yang sebenarnya bukan merupakan sifat kha suatu agama, tetapi karena BEDA AGAMA, sifat khas itu menjadi lebih ganggu, lebih tak tertahankan. Duh udah beda agama, orangnya begini begono lagi…Mau dibawa ke mana…

 

Lalu mulailah gue bersikap fanatis. Gue akan bilang ih dia jahat karena dia ini itu. Lalu dia marah dan menuduh gue fanatik. Lalu gue marah karena dianggap fanatik (padahal iya). Lalu dia menuduh gue fanatik karena gue ini itu. Lalu gue bilang dia fanatik karena menuduh gue fanatik. Dan berakhirlah kita bak poso mini di Jakarta.

 

Maka akhirnya, agama tidak pernah menjadi alasan untuk putus. Tetapi, perbedaan agama menjadikan hubungan lebih rapuh, karena semua alasan-alasan putus lainnya jadi lebih mudah untuk muncul. Seseorang menjadi kurang mau berusaha untuk mempertahankan hubungan.

 

Tentu saja hal ini terasa aneh. Mereka yang berbeda agama cenderung gigih, melawan orang tua dan guru (kalau sekolahnya sekolah agamis ya..). Mengusahakan segala hal demi persatuan mereka.

 

Ini memang benar, bagi mereka yang berhasil menikah. Tapi kegigihan itu di satu sisi juga lebih mudah tergerus, karena satu beban yang ditahan itu. Ketika ada satu masalah muncul, yang ditahan bukan satu masalah ini, melainkan satu PLUS…satu masalah perbedaan agama yang sudah dari awal muncul.

 

Lantas, apakah dengan begitu gue akan berhenti menyebut hubungan gue berakhir karena beda agama dan mulai dengan jujur menyebut alasan aselinya, meski tentu hanya akan terjadi karena beda agama? TENTU TIDAK!

 

It’s the best excuse ever! Kalau gue bilang gue putus karena selingkuh, atau karena gue nabok pacar gue pake dandang panas, siapa yang bakal kasihan sama gue? Siapa juga mau jadi korban pacar gue selanjutnya? Tapi kalau gue bilang gue putus karena beda agama, gue bisa mengklaim diri gue sebagai korban kehidupan kota Jakarta yang plural, bertumbukan dengan adat dan kehidupan agama.

 

Itu alasan paling valid dan juga lebih trendi daripada ‘ketidakcocokan’. Gue bahkan bisa mengindikasikan diri gue sebagai pribadi yang plural, tidak membeda-bedakan dan punya pergaulan luas.

 

Agama memang terlalu sering dijadikan kambing hitam utama untuk memuluskan hal-hal yang negatif. Bakar rumah ibadah atas nama agama. Larang konser pake atas nama agama. Mungkin karena terbiasa ini makanya ada banyak ‘gue’ yang mengatasnamakan beda agama sebagai alasan putus, biarpun beda agama sudah dari sejak pacaran, thus the survey.

 

Sedih ya? Nyanyi lagi aja yuk….

12th July 2012 | 6:46 am |

31

Respon
  1. idepp
    balas
    ribet ah….

    hahaha… been there..
    bukan karena agamanya sih, tp waktu itu gw ngerasa kalo hub ini cuma akan stuck di poin “akan begini2 aja” so, tanpa keputusan putus, lebih baik saling sadar (syukurnya saling sadar :p) untuk menghentikannya.

    tuh ribet kan, ya udah nyanyi sm mas marcell aja deh :p

    idepp | March 16, 2013 | 16:13 |

  2. Hohohoo…
    MakJleb mBakkk…….. “Sungguh-Sungguh Terjadi” kalo bahasa koran Kedaulatan Rakyatnya….

    Agama yang dijadikan alasan bahkan di kambinghitamkan, ditambah bumbu lagi yaitu “moralitas” sebagai penyedapnya….
    Dan seolah-olah semua berkepentingan menjadi “chef” dalam meramu resepnya…. baik aparat pun “yang sok tahu” tentang agama…

    Mo nyanyi apaan mBak…?

    ohtrie | March 16, 2013 | 16:19 |

  3. Ahh Margie, selalu suka sama tulisannya :)

    Aku muslim, suamiku katholik baru menikah 7 bulan-an ditahun ke 10 pacaran hehe..
    Ehmm, dulu semasa pacaran 3-4 kali putus alasannya beneran karena beda agama kok, ga ada yang lain, ga ada KDRT, ga ada orang lain, setelah berbulan2 putus dan akhirnya balik lagi pun, ga ada orang lain di antara kami :)

    Kami sempet memutuskan ga menikah, beli rumah deketan aja sampe tua biar bisa taking care of each other (yeah rite, mirip film2/ dongeng, but thats us)
    Di saat kita sampe pada titik pasrah tertinggi itu, eh para orang tua malah yang ngotot pengen kita nikah..Bagi kami, restu orang tua adalah mutlak, makanya kami tidak akan menikah tanpa restu mereka, dan pas akhirnya bisa menikah didampingi semua keluarga lengkap, thats the best day in our life.. :)

    Now here we are, menikah tetep dengan agama masing2 karena dari awal memang ga berniat mengajak pasangan kita pindah agama mengikuti kita..

    ealah malah komennya kepanjangan :D

    v3dyah | March 16, 2013 | 16:20 |

  4. idepp
    idepp menulis on Jul 2, ’12
    ribet ah….

    hahaha… been there..
    bukan karena agamanya sih, tp waktu itu gw ngerasa kalo hub ini cuma akan stuck di poin “akan begini2 aja” so, tanpa keputusan putus, lebih baik saling sadar (syukurnya saling sadar :p) untuk menghentikannya.

    tuh ribet kan, ya udah nyanyi sm mas marcell aja deh :p

    idepp | March 16, 2013 | 16:22 |

  5. yuk, nyanyi Patah Hati-nya Rachmat Kartolo ya ;p #jadulabis

    duabadai | March 16, 2013 | 16:23 |

  6. Ini pasti masih di masa-masa orang yang berbeda agama dan suku tidak saling mengenal…belum globalisasi soale!hahaha…

    margarittta | March 16, 2013 | 16:24 |

  7. Aihh..sweet banget!! Baca bagian ini jadi terharu… Tapi mungkin itu mbak, akhirnya ‘jadi’ kan, hehehe..nggak putus kan.. :D Berarti memang ini salah satu pasangan yang teguh kukuh mempertahankan hubungan!!

    margarittta | March 16, 2013 | 16:26 |

  8. Iya nih, kebiasaan buruk di negara yang ‘beragama’ ini… :( Negara bertuhan, artinya: apa-apa karena Tuhan… apa kabarrr nihhh..lama kita tidak bersua! Yuk nyanyi bareng! hahaha..

    margarittta | March 16, 2013 | 16:27 |

  9. Hehehe.. semoga sekarang tlah menemukan yang hubungannya tidak stuck di satu point yah.. :D ayoo atur suara satuu duaaa tiga…

    margarittta | March 16, 2013 | 16:29 |

  10. Hemm….
    Jadi mikir lagi tentang “negara berTuhan” itu lho mBakk….

    Pandanganku jadi mengatakan; tak akan lebih buruk bagi para pengikut faham “Anarkisme” dimana lebih mengorientasikan “pribadi yang berperikemanusiaan” dibanding negara yang sok memiliki punggawa, agama yang mempunyai pemimpin, ataupun tiap manusia yang acapkali mengagung-agungkan kepemilikan atas Tuhannya masing-masing.

    Hanya saja, sayangnya kebanyakan dari kita saat ini lebih mengamini arti anarki yang salah kaprah, bukan lagi anarki sebagai “keteraturan secara sukarela (V for Vendetta)” .

    Hihi, kabar baik mBakkk… Yups lama tak ber suaaaa….
    Kapan ketemuan lagi yaaa…

    Balik nanya lagi, mo nyanyi apaan jee…?

    ohtrie | March 16, 2013 | 16:31 |

  11. Sedikit pembahasan,semoga tidak salah dan tijadi sara. Menikah menjadi haram kalau niatnya adl untuk menyakiti,dendam atau sifat yg bikin sakit. Intinya adl wanita itu bisa menjaga ke hormatan untuk keluarganya dan menjaga keturunan. Ada beberapa ayat yg secara tegas menolak dan ada yang menjeladkan iya. Tapi ada beberapa syarat untuk melakukan itu. Semoga sedikit membantu,saya gak mau terlalu panjang. Takut sara dan jadi merembet kemana2. Klo koment ini terlalu bermasalah hapus saja.

    jimmoris | March 16, 2013 | 16:32 |

  12. ga usah jauh2 mba, Tom Cruise ama Katie Holmes pisah katanya karena beda keyakinan juga, padahal mereka tinggal di Amerika, land of freedom… :(

    nanaskuningkeci | March 16, 2013 | 16:36 |

  13. Bukannya karena mreka kawin kontrak? hihihi… *seorang perempuan penggemar gosip dan teori konspirasi

    margarittta | March 16, 2013 | 16:38 |

  14. Sila…hehehe.. biar menambahkan dari artikel ini dan jadi pengetahuan yang lebih dalam :)

    margarittta | March 16, 2013 | 16:39 |

  15. menjelaskan ini bisa jadi kerusuhan, jadi cukup garis besari saja. kalau memang itu jodoh dan di amini Tuhan untuk berpasangan, alam semesta pasti akan mendukung. asal tidak terjadi keributan di kemudian hari setelah puya anak. anak harus ikut agama si ayah atau si ibu, jangan sampai menyalahkan agama yg dianut kedua belah pihak. dan tidak salah memilih, karna menikah bukan hanya soal agama, tapi prinsip, sosial,lingkungan, mungkin juga harta, hal2 yang seperti ini bisa melenceng ke tanah agama. semoga cukup membantu, kalau saya mengeluarkan ayat Tuhan disini, takut terjadi kerusuhan. salam damai

    jimmoris | March 16, 2013 | 16:40 |

  16. Shalom! hehehe..ahh..mudheng saya. Setuju Om Jimo, agama sbenernya ga ada hubungannya, kecuali bahwa Tuhan yg menentukan jodoh kita… tapi itu dia tadi..dibawa2 lagi untuk disalah-salahkan lagi… dan klo kita ga berjodoh sama siapa2, kecenderungannya, orang Indonesia lalu…menyalahkan Tuhan…

    margarittta | March 16, 2013 | 16:41 |

  17. Atau mungkin orang Indonesia itu sekadar tidak pernah mendalami satu paham dengan arti sebenarnya. Taunya judulnya saja. Bertuhan, berarti semuanya atas nama Tuhan…Anarki, artinya semua pakai anarki…

    Iya nih! Sudah nggak ke kumpul2 Multiply lagi soalnya..hehehe… Nyanyi apa ya enaknyaa? Lagu-lagu kebangsaan!

    margarittta | March 16, 2013 | 16:41 |

  18. Kalo judul tentang agama pasti banyak yg komen. Yah inilah kelebihan orang Indonesia, beragama dan korupsi jalan terus. Maksudnya gue mau bilang kalo alasan agama yg dijadikan putus itu alasan yg paling gampang.

    hennyfoto | March 16, 2013 | 16:42 |

  19. Mau disalahkan atau di propaganda,sekalipun dijadikan alat tinju.kita sebagai umatnya yg terpenting adl menjaga kehormatan keluarga,menjadi contoh baik buat keturunan,mengarahkan/mengingatkan agama yg dipilih si anak atU pasangan. Hindari sisi sensitif,menghormati hari raya,klo bisa symbol2 agama jg di tonjolkan di dalam rumah. Selanjutnya bagaimana kita menjalani

    jimmoris | March 16, 2013 | 16:43 |

  20. Gampang dan Baik! Seperti semua hal-hal buruk yang selalu ditaruh di pundak agama biar jadi gampang, dan (terdengar) baik…hehehe..Ahh…bahkan judul tulisan kalau bawa-bawa Tuhan jadi rame.. :D

    margarittta | March 16, 2013 | 16:44 |

  21. agak gimanaa gitu kalo “beda agama” dijadiin alasan putus, kalo udah ga cinta mah ya udah aja. Kan dari awal pacaran juga udah tau beda agama. hehehe

    fanilicious | March 16, 2013 | 16:45 |

  22. gie…jadi lebih penting kaya dari pada ganteng ya?????sumpeh hhehehhee

    dwiceria | March 16, 2013 | 16:45 |

  23. *mendadak galau* aku juga lagi ngejalanin yang beda mbak.. Hmm selalu beda sih.. Yang penting kasih sayang dan saling menghormati kan? ;) asik mbak tulisannya..

    agniagnia | March 16, 2013 | 16:46 |

  24. agama bukan kepercayaan, untungnya ya saya cuman beda kepercayaan, aku percaya ama dia eh dia ga percaya ama aku.. buyar deh :D beda kepercayaan aja buyar apalagi beda agama? *lupakan dan patah hati :p

    joetechlink | March 16, 2013 | 16:46 |

  25. Lha ya ini nih, yang melatar belakangi banyak cerita di ibukota.. hehe.

    potretkaca | March 16, 2013 | 16:47 |

  26. Stuju! Dan jangan sampai putus ya…hehehehe

    margarittta | March 16, 2013 | 17:07 |

  27. Itu dia…Lady Gaga juga nyanyinya ud lama, tapi baru didemonya pas uda deket2an…

    margarittta | March 16, 2013 | 17:07 |

  28. Ahmadiyah? hehehe…

    margarittta | March 16, 2013 | 17:07 |

  29. nah kan, gimana mungkin sy ama si ahmad? ahmadkan cwok :p
    ngaco deh mulai hehehe
    kapan ya bisa bertemu mbak margie lagi? padahal tingal sudah tinggal di kota yang sama sekarang :D

    joetechlink | March 16, 2013 | 17:08 |

  30. Doain ya mbak. haha.
    udah nonton film cin(t)a belom? pas nih temanya…

    agniagnia | March 16, 2013 | 17:08 |

  31. Waa..di Jakarta nii… Hayok bersua!

    margarittta | March 16, 2013 | 17:08 |