The New Majority

“Lu pulang kagak bawa pacar?” tanya mamih, sesaat setelah gue menyelesaikan ziarah Eropa gue 3 minggu. “Kagak,” gue menjawab datar “Ah elu mah di sono kagak mau nyari, ntar di sini dapetnya yang beda agama lagi,” mamih berkomentar kuciwa. “ Yee Mak, Eropa sekarang udah nggak kayak dulu lagi! Udah ada pergeseran tren mayoritas!” gue berargumen. read more

9-borobudur-ala-postcard

Matinya Kulot dan Punahnya Kebaya Tasik

Pasar Beringharjo, Sabtu pagi.

“Mbak, jual kulot nggak?” gue bertanya. Kehabisan baju tidur bersih memang merupakan problematika para eksportir manggis yang hidup jauh dari rumah.

“Yang ini?” si Mbak menunjukkan sebuah setelan batik lengan panjang celana panjang.

“Yee itu mah piyama! Kulot Mbak! Yang celana pendek tangan buntung atau pendek buat tidur!”

“Ohhh… babydoll?” respon si Mbak dengan aksen Jawa yang kental.

 

“Sekarang tuh lagi ngetren baju syari’i! Yang kutungan nggak bakal ada yang jual!” Si Mamih yang menemani saat itu berkomentar. Gue tidak menggubris dan kembali meneruskan pencarian. Namun setelah kios kesepuluh yang menolak permintaan gue bak perempuan yang mau tidur senonoh, gue terpaksa menerima kenyataan pahit itu. Budaya Indonesia sudah mulai bergeser, dengan asimilasi budaya asing, hingga ke level baju tidur. Dan jika gue tidak ngotot mempertahankannya, entah apa lagi barang sehari-hari gue yang dianggap bawaan aseng.

Sedari kecil, gue selalu menganggap kulot adalah pakaian tradisional tidur Indonesia. Di mana-mana, dari tukang baju keliling hingga toko batik di mall, selalu menjual baju tidur model ini: Setelan kaos tangan pendek atau kutung, dan celana pendek pinggang karet bermotif batik. Semua sepakat menyebutnya, kulot. Entah darimana asal katanya.

 

Gue tumbuh menyaksikan,menyaksikan mbak di rumah, si mamih, serta tetangga-tetangga menikmati istirahatnya dengan busana ini. Menurut gue, baju ini tuh Indonesia banget. Bahann katun atau kaos terawangnya, kelonggarannya, serta modelnya, sangat cocok untuk iklim tropis Indonesia.

 

Gue tidak pernah membayangkan dalam 20 tahun dari masa itu, terjadi pergeseran budaya yang begitu drastis, yang menyingkirkan satu jenis varian kulot. Worse, memberikan nama baru yang asing untuk budaya kulot. Babydoll. Sebuah nama kebarat-baratan yang disematkan pada sebuah produk yang terkesan tidak sesuai dengan budaya bangsa.

 

Entah mengapa gue merasa sedih. Tidak cuma karena gagal mendapatkan baju tidur bersih, tetapi karena gue khawatir, bahwa kematian kulot ini, memberikan sebuah tanda lain, bahwa budaya Indonesia yang asli perlahan tergerus budaya baru yang datang, hingga akhirnya yang asli itu justru menjadi asing.

 

Persis ketika gue mendapati bahwa kebaya kerancang Tasik kini cuma tersedia by-order.  Sejak jaman nenek, gue sudah seringkali mendengar tentang tradisi bordir Tasik yang termasyur. Gue masih simpan beberapa kebaya encim, dengan renda di ujungnya yang begitu halus menyatu dengan kain dan bertahan selama puluhan tahun.

 

Maka ketika gue berkesempatan panen manggis di Tasik, gue langsung minta dibawa ke tempat pengrajin kebaya encim.

“Ibu mau kawin?” Begitu lugasnya pak ketua packing house mendengar permintaan gue.

“Ya kagak, buat pake sehari-hari aja sih Pak! Emang di sini udah pada nggak pake kebaya lagi?”
“Enggak bu,” jawabnya mantab.

“Terus sehari-hari pada pake baju apa?”

Ia tidak menjawab, namun gue segera mengetahui, ketika dibawa berkeliling sentra pengrajin bordir di daerah Kawalu. Deretan toko yang dulu menjual kebaya encim berbordir ready stock, kini sudah berubah menjadi toko busana Muslim. Kebaya kini sudah tidak lagi dipakai dalam kegiatan sehari-hari, hanya untuk kawinan adat. Itupun biasanya kawinan perempuan Cina macam gue ini, kata salah seorang pemilik toko.

 

No, gue tidak bilang bahwa ini pergeseran yang tidak baik. Demand-supply. Permintaan menentukan persediaan. Tentu pergeseran ini terjadi karena tidak banyak manusia semacam gue, yang masih tidur pakai kulot dan mengisi workshop pakai kebaya. Lebih banyak yang merasa nyaman pakai tangan panjang di tempat tidur, dan sehari-hari pakai abaya.

 

Inilah sifat budaya. Cair. Selalu berkembang. Tidak ada yang namanya budaya Indonesia tok. Semuanya perpaduan dari pengaruh Arab, China, Eropa yang berbaur dengan gaya Hindu-Budha kerajaan masa lalu. Pengaruh asing itu diterima karena dianggap baik, sesuai dengan nilai yang sudah ada, dan disukai manusia pengusung budaya tersebut.

 

Kebaya encim sendiri, juga punya pengaruh dari babah-nyonya jaman dulu, perempuan China Peranakan yang mengadaptasi tradisi bordir ke dalam model berpakaiannya. Dirasa baik karena sesuai dengan norma yang berkembang saat itu, dan tetap menghidupkan teknik bordir khas daerah setempat.

 

Namun dalam proses asimilasi ini, budaya yang awal tidak serta-merta ditinggalkan. Pemakai kebaya encim tidak bilang bahwa kebaya gaya Jawa tengah kuno dan seronok. Buktinya, kebaya Jawa tetap dipakai, bersanding sejajar dengan kebaya encim.

 

Inilah yang tidak terjadi saat ini. Seolah ketika budaya baru muncul, budaya yang lama jadi keliru, lalu diasingkan. Seperti ketika kulot menjadi babydoll, dan dianggap kebarat-baratan, tidak sesuai dengan norma baju tidur Indonesia. Seperti ketika kebaya bordir dianggap sensual, dan tidak layak dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Seperti ketika tari Jaipong dianggap mengumbar aurat. Seperti ketika relief Kamadhatu di Borobuddur harus ditutup kain.

 

Seolah Indonesia malu punya sejarah budaya yang sedemikian rendah, tidak sesuai dengan nilai global. Padahal, karena budaya itulah muncul manusia yang ada sekarang. The culture defines us. And if we do not acknowledge our past cultures, how should we define ourselves?

 

Gue khawatir, gue malah jadi manusia tanpa identitas, yang serta-merta mengadopsi identitas bangsa lain tanpa memahami secara dalam bagaimana identitas itu terbentuk. Yang  malu untuk mengakui budaya yang sudah lebih dulu berkembang di Indonesia, lebih bangga berbudaya asing.

 

Padahal barang KW itu selalu lebih murahan. Saat pemilik budaya asli sih keren-keren aja menjunjung budayanya, gue kelihatan norak, kampungan, berlebihan menjunjung budaya orang lain. Padahal, kalau gue jadi tas merk indie, gue jadi tas yang nggak kalah kece dengan caranya sendiri.

 

Memang, tidak nyaman jadi merk indie ketika bersanding dengan tas merk mainstream. Tapi jika tidak ada dukungan, maka perusahaan tas indie itu bisa tutup, bangkrut, kalah saing, dan punah. Seperti budaya Indonesia yang dituduh asing ini bisa mati dan punah tanpa pernah ada referensinya.

 

Dalam usaha gue tetap menjadi barang asli, gue tetap ngotot mencari ‘babydoll’ dan meluruskan bahwa ini hanya kulot semata. Akhirnya ketemu juga. Even better,  modelnya you-can-see. Diskon. Penjualnya juga lega bisa melepaskan diri dari model baju yang udah nggak banyak yang cari ini.

“Mungkin dingin kali ya Mbak,” si penjual menjawab mengapa kulot tak lagi populer.

“Iya bu, Indonesia memang mengalami anomali iklim, di saat seluruh dunia mengalami pemanasan global, di Indonesia suhunya malah turun drastis,” gue nyinyir.

“Hehe.. risih aja kali ya Mbak?” ia beralasan.
“Saya sih enggak, soalnya saya tidur sendirian. Kecuali kalau kulotnya, dipakai tidur sama non-muhrim, nah itu baru risih!” gue mencetus iseng. Waini, baru nggak sesuai sama budaya Indonesia!

12th March 2018 | 6:03 pm |

no

Respon

Be the first to comment!