Mega-Wedding

“Pelaminannya dari kaca yang diukir! Seluruhnya! Lalu ditembakkin laser!”

“Iya, gue denger juga bajunya nggak sembarangan, dari perancang siapa tuh? Yang ngetop banget di New York?”
“Pokoknya bener-bener Mega-Wedding dah!”

Demikian pembicaraan dalam taksi siang itu, tentang sebuah pesta pernikahan kenalan yang konon digelar gede-gedean dan menghabiskan biaya M-M-an.Mendengar konsep ini, gue langsung mengirim pesan singkat pada Oknum R.

“Konsep pernikahan loe di Bali sudah kurang gres lagi!”

“Oh gitu ya? Emang sekarang harus yang kayak gimana?
“Gue denger dari temen gue, konsepnya Mega-Wedding!”

“Emang Mega-Wedding apaan sih?”

Selalu ‘merasa’ tidak terima undangan dan tidak berhasrat mencari inspirasi dekor dalam waktu dekat, gue jelas tidak bisa banyak menjabarkan konsep Mega-Wedding. Namun secara kebetulan, gue dan Oknum R yang lagi liburan di Jakarta, diundang ke sebuah pernikahan seorang teman lama.

 

Acaranya diadakan di sebuah hotel berbintang lima di Jakarta, yang konon menjadi tempat dilaksanakannya pernikahan-pernikahan paling jreng ibukota. Mendengar rumor bahwa tamu undangannya 5000 orang, kami memutuskan untuk makan burger plus kentang goreng terlebih dahulu, lalu datang terlambat. Rencananya, pas sampai sudah sepi, bisa langsung salaman, makan kue, lalu pulang.

 

Bahkan dengan persiapan yang matang tersebut, kami tetaplah terjebak dalam antrean mobil yang sanggup membegokan satu anak masa depan Indonesia. Entah karena semua tamu punya pikiran sama dengan kami atau sekadar tamunya banyak saja, ketika kami sampai, seolah semua tamu juga baru sampai.

 

Gue terjebak dalam antrean masuk ke dalam ballroom yang mirip konser menonton John Legend di Java Jazz. Ketika berhasil menyeruak masuk, gue jadi bingung mau salaman atau makan dulu. Kedua-duanya punya antrean panjang mengular-ular yang akan memakan waktu minimal 45 menit untuk sampai di tujuan mengantre.

 

Meskipun begitu, pesta memang berlangsung sangat indah dan meriah. Seluruh ruangan didekor dengan kerlap-kerlip lampu dan disulap bak taman ajaib. Ada doorprize iPad dan iPod touch serta hadiah menarik lainnya. Sudah jelas, inilah pernikahan yang disebut sebagai… MEGA WEDDING.

 

“Duh, kenapa sih orang tuh menikah malah jadi susah?” gue berkomentar. Ketika masuk ruangan, mempelai beserta bridesmaid langsung memeragakan sebuah modern dance, sebuah ritual standar di hotel ini ternyata.

“Mana gue tau! Gue mah ogah kawin repot begitu! , kalau gue bestman-nya, masa gue musti latian nge-dance dulu seminggu sebelumnya? Gue mau bayar berapa?” Oknum R menimpali sewot.

 

He? Oknum R? Yang persiapan nikah di Bali-nya dimulai sejak H-8 tahun? Nggak mau repot kawinan?

“Lha loe bukannya mau nikah di Bali?” gue bertanya.

“Udah deh, gue udah nggak mau lagi kawin di Bali! Repot! Musti mikirin nginepnya lah, transportnya lah, yang di Jakarta aja udah ribet apalagi di Bali! Emak gue udah lebih tua, kasian nyiapinnya!” Oknum R menungkas.

“Kok emak loe sih yang nyiapin? Loe-lah yang bikin!”
“Mana-mana orang tua Margie yang sibuk nyiapin kawinan!”

 

Gue mengangguk-angguk setuju dan tiba-tiba merasakan mengapa meski indah, gue tidak berfantasi untuk melakukan Mega-Wedding. Mungkin karena seperti yang dikatakan Oknum R, Mega-Wedding yang repot ini bukan untuk mereka yang menjalani hidup baru. Padahal, yang mau nikah gue, bukan orang tua gue.

 

Konsep pernikahan selalu menjadi milik orang tua. Sebanyak sesibuk-sibuknya calon mempelai, adalah orang tua yang sebenarnya paling menentukan bagaimana pesta pernikahan itu dijalankan. Jika sebuah pelaminan mencitrakan gengsi, harga diri, status, biasanya yang dimaksud adalah gengsi, harga diri, dan status orang tua mempelai, bukan mempelainya sendiri.

 

“Malu dong mami kalau acaranya cuma segitu,” atau “Mau ditaruh di mana muka keluarga kalau nggak ada pesta?” adalah kalimat-kalimat yang akrab di telinga jika sang mempelai tidak mengadakan pesta pernikahan segegap gempita yang diharapkan. Itulah sebabnya tren pesta semakin megah semakin tiga-hari-tiga-malam, semakin…Mega-Wedding….

 

Sebagian besar tamu undangan yang hadir, juga biasanya adalah undangan orang tua. Guna menghibur tamu mayoritas tersebut, meski mewah, kondangan identik dengan bapak-bapak berbatik serta acara ‘kurang in’ lainnya seperti sambutan dari gubenur ini itu dan doa tiga bahasa. Bisa tegang para orang tua jika ada konsep stand-up comedy  seperti di tipi-tipi itu di tengah acara.

 

Bahkan, sanking  menjadi milik orang tua, pernikahan bisa jadi batal saat persiapan pesta pernikahan lantaran kedua orang tua yang masing-masing merasa memiliki pernikahan tersebut berantem.

 

Pernah satu kali seorang kenalan gagal menikah lantaran orang tua pasangan tidak sepakat dengan adat apa pernikahan itu seharusnya dilangsungkan. Begitu saling ngototnya kedua kubu hingga masing-masing menyimpulkan bahwa tidak ada niat baik menyatukan kedua anaknya.

 

Dan semakin Mega-Wedding pernikahan itu, semakin pulalah pernikahan itu jadi milik orang tua. Gue membuat perhitungan sederhana. Seandainya gue menikah di usia 30 tahun dengan mempelai berusia sama, berarti kami sudah bekerja sekitar delapan tahun. Seandainya pesta pernikahan itu bernilai 1.2 M, maka setidaknya tiap tahun kami harus menyimpan Rp 150.000.000,- Itupun, kalau gue pacaran dengan orang yang sama sejak gue lulus kuliah kemarin dan kami sevisi menabung untuk beli pelaminan berlaser.

 

Tanpa bantuan dukungan orang tua, kemungkinan gue akan berakhir hanya dengan sebuah pelaminan untuk seumur hidup pernikahan gue. Tak ada rumah, tak ada mobil, tak ada pula perabotan. Dengan keadaan seperti itu, pilihannya hanya dua. Gue setelah menikah menjadi sepenuhnya bergantung pada orang tua lebih dari apapun juga, atau pernikahan itu sepenuhnya jadi otoritas orang tua gue.

 

Semakin Mega juga, semakin besar daerah kekuasaan orang tua. Ada pasangan yang batal nikah lantaran tidak sepakat harga mahar. Meski saling cinta, pernikahan tidak dapat lagi dilangsungkan. Ada juga, yang karena tidak sepakat siapa yang harusnya membayar pesta, sekalian gagal total.

 

Memikirkan fakta ini, gue mengambil kesimpulan keras bahwa jika gue harus menikah, itu hanya demi orang tua gue. Artinya, jika pernikahan itu tidak membahagiakan orang tua, lebih baik tidak menikah sama sekali, hanya akan membangkrutkan gue.

 

Tapi menurut Oknum R, Mega-Wedding yang merepotkan itu belum pasti jadi pernikahan idaman orang tua. Jika kita yang anak muda ini bisa cape menyiapkan pernikahan, apalagi orang tua yang usianya sudah paruh baya? Seperti yang dialami oleh ibu seorang kenalan.

 

Si ibu ini punya tiga anak lelaki. Ketika anak pertamanya berniat ingin nikah tamasya, beliau jelas menentang keras. Apa kata handai taulan dan relasi jika anak pertamanya nikah tidak dipestain. Bisa-bisa dikira MBA! Maka dilaksanakanlah pesta besar dengan biaya ratusan juta itu.

 

Baju pengantin disewa dari bridal ternama, yang jika mote-motenya hilang satu bakal didenda seratus ribu rupiah. Persiapan pernikahan berlangsung berbulan-bulan, hingga begadangan di malam sebelumnya. Bahkan setelah acara usai, si ibu baru bisa pulang ke rumah jam satu pagi. Dengan segala keletihan itu, sadarlah ia betapa meletihkannya kawinan itu. Maka berkatalah ia pada kedua putra yang tersisa, “abis ini yang mau nikah tamasya, nikah tamasya aja deh sana!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *