Memilih Hidup Tanpa Pilihan

“Gy, gue bingung nih, gue diterima di University of Columbia…Cuma 14 orang dari seluruh dunia yang dapet, tapi gue ga dapet beasiswa, karena emang ga ada beasiswa…”

 

“Lha? Loe bukannya udah dapet beasiswa dari Stanford University?”

 

“Iya sih Mar, tapi ngerti ga sih, New York itu IMPIAN GUE! Like Carrie…kalau uda pernah kesana, loe bakal pengen hidup dsana dhe! And  THIS IS UNIVERSITY OF COLUMBIA gy! sayang banget ga sih kesempatannya?”

 

Demikianlah Oknum R, sahabat gue yang ga punya hati nurani, dengan beritanya yang tidak sensitif.

 

“Eloe mah enak gy! Karier loe jelas, tinggal jadi super model, kerja dua hari sisanya spa! Nah Gue? gimana kalau gue ga memilih yang TERBAIK? Gimana kalau gue akhirnya GAK BAHAGIA? I mean, Stanford sih ok, dan susah juga dapetnya, tapi gy..darimana gue tau kalau ini emang JALAN GUE? Ini kan once in a life time, gue ga bakal lagi ke New York”

 

“Duhh…gue nyambi ya gara-gara nganggur!ga ada pilihan! Mungkin keputusan loe itu nantinya bukan YANG TERBAIK, tapi apapun juga, keputusan loe itu tetep BAIK, karena loe berada di antara dua pilihan yang TERBAIK BAGI ORANG LAIN!”

 

Begitulah gue menjawab Oknum R. Manusia emang suka kurang bersyukur. Bukankah pilihan itu indicator kesuksesan? Aktris figuran bakal ikut shooting apa saja. Tapi Bunga Citra Lestari bisa pilih mau main sinetron apa layar lebar. Dan kalau pilihannya adalah main sinetron Cinta Bersemi dengan lawan main Nicholas Saputra atau main sinetron Kembang Cinta dengan lawan main Rionaldo Storkorst, mau pilih yang mana aja sama aja bukan ? Memilih yang terbaik dari yang terbaik tentunya tidak merugikan.

 

“Seandainya gue jadi loe yah, gue bakal ngambil keputusan pake cap-cip-cup. Kurang dari 2 menit! Apapun juga ga bakal bikin gue nyesel, toh semuanya hasilnya bagus juga!” Ujar gue, sambil meninggalkan Oknum R.

 

Maaf aja gue sedang tidak jadi teman yang baik. Saat itu gue adalah pengangguran slash part-time-model-dengan-order-tak-tentu slash fotografer-foto-apa-saja, yang bahkan bukan anaknya pengusaha property. Dan memiliki pilihan..ohh..sangat indah kedengerannya…

 

Dua minggu kemudian, giliran gue jadi Oknum R. Mendapat tawaran jadi Country Editor di sebuah kantor berita internasional sebulan sebelum kelulusan memang bukan opsi yang jelek. Ditambah gue akan mewakili kantor Indonesia, berbasis di Jakarta, dan tetap akan mendapatkan gaji standard Singapura plus status permanent residency.

 

Lalu tiga hari kemudian…”Selamat siang Margareta, ini saya Andi…Margareta diterima di Metro TV…”arrghh….Selanjutnya Cuma terdengar samar-samar bagi gue.

 

Dan giliran gue lah merepet-repet, Ini impian gue…Gue selalu punya cita-cita jadi news presenter…Cuma 2 orang yang diterima dari 500 yang diseleksi…kesempatan sekali seumur idup…Gimana klo ini emang jalan gue? Gimana klo nanti gue ga bahagia ga mengejar cita2 jadi reporter? Gimana klo gue batal ketemu jodoh gue?

 

Tentunya gue dinasehati, kesempatan jadi Country Editor juga kesempatan sekali seumur hidup. Tentunya gue diberi masukan bekerja di gedung Microsoft sarat insinyur muda adalah cara yang lebih realistis ketemu jodoh dibandingkan kerja di TV yang mayoritas perempuan bak mengulangi masa SMA gue. Tentunya secara kertas gajinya 5x lipat dari kerja reporter. TAPI… Tipi buuu..Tipi!!! ujar gue sambil menunjuk-nunjuk box mini berlayar kaca di hadapan gue. Gue bakal sakit hati tiap kali nonton Metro TV; It could’ve been me!!!

 

Hidup ini pilihan. Mau jalan lewat tol, atau lewat Senen. Mau nonton bola, atau mau tidur. Setiap bagian hidup itu ditentukan oleh pilihan, yang nantinya akan berbuntut ke opsi yang lain lagi. Meski kadang keputusan itu ga bisa di-undo, tetep bisa ditanggulangi. Bahkan seandainya tidak bisa ditanggulangi, tetap bisa DIAMBIL HIKMAHNYA…

 

Herannya, meski diberi daily training dalam mengambil keputusan, gue tetep aja mengkeret. Sambil mengkalkulasi untung-rugi dua pilihan gue,gue menguping pembicaraan orang disebelah gue. Rupanya si mbak yang satu ini lagi diinterview untuk jadi pelayan di Starbuck oleh manager operasi Starbuck ini. Si mbak pakai bajunya santai, yang interview juga rilex. Pertanyaannya dasar, dan diakhir interview, sudah ada ucapan, “Selamat, Anda diterima.” Si mbak tersenyum, “Saya mulai kerjanya kapan, Mas?” Tiga hari lagi si mbak akan mulai kerja.

 

Teringat seleksi enam ronde Metro TV gue, live reporting test, test pengetahuan umum, on-cam news reading test, psikotest, group interview, individual interview… Teringat muka jlimet Executive Producer gue di MSN yang didatangkan langsung dari Amerika Serikat, menghitung-hitung apakah gue mampu ditinggal sendirian di Jakarta, proses pemikiran yang memakan waktu hampir satu bulan. Teringat gue yang lagi gundah gulana… Semua karena kita punya banyak pilihan. Jika Cuma ada satu orang yang pengen kerja, tentunya sistemnya bakal sederhana seperti interview pelayan Starbuck. Dan mbak starbuck itu sudah puas, karena emang ga bisa lagi ngelamar kerja di tempat lain.

 

Tapi gue mungkin juga ga berminat interview di starbuck. Gue memilih untuk interview di Metro TV dan nyari posisi diatas kemampuan. Karena siapa juga yang memilih hidup tanpa pilihan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *