Sebuah Perasaan Irasional Bernama Nasionalisme

“Kalau dulu kita yang menyeberang ke Timor Leste untuk foto-foto, sekarang gantian, mereka yang menyeberang kemari, lebih bagus di sini sih!” ujar seorang warga Atambua sambil tersenyum bangga, memamerkan sederet gigi putih khas senyum di pulau itu.   Pos perbatasan Timor Leste- Indonesia di Atambua itu memang mentereng. Bangunan masih berbau cat macam sofa yang belum dibuka pastik ...
read more

12-eiffel-dan-patung-kuda

Midnight in Paris : A first World City that isn’t Really No.1

Namanya juga baru dari Paris, jelas harus nonton film yang berbau Paris dong, biar makin terkenang-kenang menelusuri Champ-Elysees dan foto bareng menara Eiffel lagi. Wajar saja gue langsung memilih film ‘Midnight in Paris’ garapan Woody Allen sebagai salah satu peneman perjalanan 12 jam, saat gue menyadari kenyataan pahit : gue kini kebal Antimo…

Sesaat setelah film diputar gue langsung ber-ooh dan ber-ahh menikmati sinematografi manis yang membalut kisah seorang penulis yang ingin tinggal di Paris karena terkenang masa jaya seni era Picasso dan Dali di awal abad ke-20 ini.

Keajaiban yang terjadi setiap Paris memasuki tengah malam, saat ia terlempar sungguh ke abad impian, menjalin cinta dengan Adriana, kekasih Hemmingway, digambarkan dengan latar jalan-jalan dan bangunan kuno khas Paris, Montmarne, dan kafe-kafe mungil pinggir jalan yang selalu punya croissant enak.

Film ini memang sukses menangkap nafas kota Paris, tidak hanya romantis, tetapi juga sensual, penuh affair bergairah, dan menumbuhkan fantasi. Namun menonton film yang indah ini, gue seperti diberi izin untuk mencela Paris, atau Eropa secara keseluruhan.

 

Sebuah kritik yang juga ingin gue sampaikan namun tidak berani, lantaran merasa tidak layak sebagai warga Asia biasa, mencela sebuah first world country. Untung film ini mengindikasikan bahwa nampaknya seorang Woody Allen, dari Amerika juga punya keresahan yang sama.

 

Ketika pertama kali menjejak di Paris, si papih dan mamih langsung mengambil sebuah pilihan pasti. « Kita mau ke Singapur aja, deh ! » Kalau Singapura itu terletak satu setengah jam dari Orly, gue yakin mereka sudah akan mempercepat tiket pulang dan ngacir ke Orchard Road sekarang juga.

 

Bandara yang dekil agak suram, mirip bagian Soekarno Hatta yang belum direnovasi, masih adanya pesawat yang tidak pakai belalai gajah, leletnya petugas dan habisnya trolley benar-benar meruntuhkan bayangan tentang negara maju super modern pusat mode di dalam benak dua orang Asia yang merasa dari negara berkembang cenderung miskin.

 

Masuk ke tengah kota juga tidak mengubah kesan pertama. Mengharapkan minimal MRT Singapura yang wangi, mengkilap, punya tanda ‘This Side’ supaya bisa antre turun, si mamih benar-benar depresi saat harus memasuki lorong kereta bawah tanah yang naik turun tanpa adanya keberadaan lift, boro-boro eskalator.

 

Seluruh indranya langsung dimatikan saat  secara konstan disajikan bau pesing, jorok, suasana agak bronx saat malam menjelang, plus kereta kuno keluaran tahun 60an tanpa AC yang jendela dan pintunya selalu bergetar-getar sepanjang jalan. Apa bedanya kami jauh-jauh ke negeri orang kalau tetap harus merasakan vibrasi bajaj saat bertansportasi…

 

Apalagi kami baru selamat dari kereta malam menuju Italia beberapa hari sebelumnya yang merupakan sebuah pengalaman yang sangat ‘Senen’, baik dari sisi stasiun maupun kereta. « Kereta kayak gini mah, di Indonesia aja udah kagak dipakai lagi, udah dimasukkin museum kereta yang di Ambarawa ! » komentar si mamih begitu melihat kereta yang sungguh akrab di mata, terutama dalam berita tabrakan kereta ekonomi di stasiun TV lokal.

 

Hingga kini, si mamih masih suka mengigau sangking traumanya, setelah 12 jam naik kereta super tidak ergonomis, ber-WC bak barak penjara, dengan begitu banyaknya penumpang liar goler-goleran di lorong kereta sambil berteriak-teriak mabuk. Ditambah mendaratnya di stasiun Roma Termini yang metronya macam dibangun di masa Julius Caesar dan tidak pernah direnovasi lagi.

 

Sungguh ironis, berada di kumpulan negara yang katanya paling maju di dunia, tingkat pendidikan dan ekonominya adalah yang paling tinggi, sama sekali tidak impresif bagi warga negara miskin dengan tingkat kemajuan konon tertinggal puluhan tahun hingga tidak bisa mengejar.

 

Kalau sudah begini, siapa nih yang salah dalam menciptakan takaran kemajuan ini ? Orang Eropa yang matanya pada buta semua, nggak sadar punya standar hidup rendah mengibakan, apa orang Asia yang buta, tidak bisa melihat kemajuan yang tidak kasat mata ?

 

Midnight in Paris seolah memberi jawaban bagi pertanyaan gue itu. Eropa mungkin adalah sebuah benua yang jaya, jauh lebih maju dari belahan bumi manapun di suatu masa. Itulah masa mereka meraih gelar ‘First World’ itu. Namun setelah maju, mereka sudah tidak lagi ‘berkembang’, hingga akhirnya, ada banyak negara-negara lain yang berkembang dan meraih status maju yang lebih tinggi.

 

Melihat setting Paris di tahun 1920-an dalam film, gue menyadari, bahwa tidak banyak yang berubah dari Paris sejak saat itu hingga sekarang. Restoran dengan cahaya temaram di Montmarne seolah abadi dalam waktu. Gedung-gedung historikalnya tetap Sacre Cœur, Menara Eiffel, tanpa mengalami restorasi berarti. Gedung, apartemen, kantor, masih menggunakan bangunan abad belasan.

 

Bukan berarti semua itu tidak indah. Tentu saja, kita wajib mengabadikan warisan budaya leluhur. Maksudnya, Singapur juga menjadikan Chinatown, merlion pertama di ujung sungai sebagai objek wisata sejarah andalan. Namun mereka juga membangun Esplanade, Universal Studio, yang beberapa abad dari sekarang akan dikenal sebagai pencapaian di abad tersebut.

 

Tidak adanya perubahan juga mengindikasikan satu hal : Tidak adanya pembangunan dari masa itu hingga sekarang. They stuck in that moment. They still enjoy what their great-great grandparents built centuries ago, without creating new landmarks for their great-great grandchildren to enjoy.

 

Sayangnya, negara-negara ini seperti terperangkap dalam kejayaan masa lalu, sehingga tidak lagi melihat betapa Jepang, Singapura, Korea, bahkan China kini sudah melampaui kejayaan mereka. Eropa tetap merasa maju, meski terbelit utang, kredit gagal dan pasarnya dikuasai produk ‘Made in PRC’.

 

Seperti Adriana yang memilih untuk tetap tinggal di La Belle Epogue, dan tidak mau kembali ke abadnya, Eropa memilih mengubur mereka dalam kenangan masa jaya, saat Michaelangelo masih jadi pelukis nomor satu dunia, saat Fritsgerald harus ke Paris agar bisa terinspirasi menulis, saat warganya, masih berusaha begitu keras hingga menciptakan kebudayaan yang bisa bertahan berabad-abad.

 

Mereka menghiraukan bahwa semua legenda itu sudah mati. Dan saat ini, tidak ada satu pun orang Eropa yang menulis seperti Fritsgerald, atau melukis seperti Picasso, atau membangun gedung seperti Gustav Eiffel.

 

Mereka seolah lupa, bahwa kejayaan itu tidak diturunkan begitu saja pada bangsa tertentu. Kejayaan itu datang dari ambisi, kerja keras, dan kemauan yang keras untuk maju, seperti yang ditunjukkan Michaelangelo saat melukis atap Kapel Sistina. Etos kerja yang justru kini dimiliki oleh bangsa Asia, dengan pembangunan dan modernitas yang ditunjukkan.

 

Adalah China yang sekarang bikin roket, bukan Yunani yang ribet sama korupsi. Adalah orang Jepang yang pakai rok mini di tengah suhu 15 derajat, dipadukan legging hitam plus sepatu boot, bukan warga Paris yang pusat mode. Sementara warga Eropa libur serentak tiga minggu tanpa mau diganggu meski mengganggu perekonomian satu kota.

 

Dan karena maju itu adalah kata sifat yang relatif tergantung konteks dan jaman, Eropa sudah tidak berhak lagi mengklaim jadi negara maju. Mereka harusnya jadi negara berkembang saja, agar jadi terpacu lagi untuk maju. Sistem teknologi transportasi bawah tanah mereka memang yang pertama di dunia, tapi dari kaca mata anak negara miskin, sekarang yang macam itu sudah tidak dianggap teknologi lagi di Singapura !

 

Tapi bukan orang Eropa saja yang bisa terjebak merasa maju lalu lupa melihat ke sekeliling untuk menyadari telah ketinggalan. Nampaknya memang sifat manusia untuk jadi katak dalam tempurung. Gue selalu jadi anak kota Jakarta yang emoh tinggal di tempat lain. Bali dan Bandung paling banter, itu juga jangan lama-lama. Tidak terpikir bakal tinggal di daerah lain, apalagi wilayah yang jauh macamnya di Indonesia Timur.

 

Namun ketika gue berkesempatan ke Makassar, gue macam anak kampung masuk kota dibuatnya. Sepanjang jalan gue berdecak kagum dan melongo memelototi pembangunan di sekitar gue. Jalanan terasa begitu mulus, bahkan memicu keinginan main rollerblade di tol. Bibir pantai dipenuhi hasil karya pembangunan, gedung pencakar langit, mobil-mobil mengkilap, dan jalanan empat lajur .

 

Ada mall underpass, ada trans-studio, ada pantai Losari yang bersih dan rapi, ada konser rock di tengah lapangan. Membuat gue berkali-kali berdecak norak, kayak di Singapur, yah ! Kalimat yang tidak pernah gue sebut jika sedang ke kota besar di Jawa lainnya.

 

Saat itu gue merasa betapa malunya orang Jawa macam gue ini! Merasa paling maju, tapi ternyata ketinggalan dari segala aspek. Rasa maju ini juga terkadang membuat gue ‘sok-kota’, dengan ketidakpedulian terhadap orang dan alam sekitar.

 

Padahal ada daerah yang lebih kota lagi, tapi tidak kehilangan keramahan dan kehangatan penduduknya. Saat sedang celingak-celinguk di pelabuhan Paotere, Kapolres Pelabuhan yang baru selesai acara bersama menghentikan mobil dan mengantarkan gue membeli ikan dan menyeberang pulau untuk snorkeling.

 

Kebersihan juga sangat terjaga baik. Sekitar satu setengah jam dari bibir pelabuhan super sibuk, ada Pulau Samalona dan Pulau Kodingaringkeke yang berpasir putih, diselimuti keriaan hiu martil dan belut laut di bibir pantainya. Tidak terbayang 1.5 jam dari Semarang atau dari Tanjung Priok. Pasti lautnya masih penuh ikan-ikan neon buah berevolusi sanking gelapnya air tempat tinggal mereka.

 

Nampaknya to stay in the present and to face reality adalah sebuah pesan yang relevan disampaikan dari Midnight in Paris pada siapa saja, bahkan mereka yang sedang tidak ingin ke Paris. Ini film untuk semua yang punya mental orang Paris, bangun ! Pergi lihat Makassar, sana ! *lho ?

26th September 2011 | 12:26 pm |

14

Respon
  1. Paris mgkn lbh cocok bwt mereka yg ingin bernostalgia ke masa lampau

    ayanapunya | March 19, 2013 | 01:03 |

  2. segitu parahkah kereta api di paris + italy? Serem banget yaah..

    aghnellia | March 19, 2013 | 01:03 |

  3. langsung googling gambar Makassar gitu jadinya :))

    arthepassion | March 19, 2013 | 01:04 |

  4. Hallo.. salam kenal… Maaf, ikutan nimbrung… Emang kaget liat MRTnya Paris.. juga gembel2 yang mengais2 tong sampah mencari makan di Barcellona… tapi begitulah Eropa. Mungkin sebagai turis biasanya akan diarahkan ke old town of Paris.. tetapi mereka punya modern Paris/ La Defense (silakan googling), kawasan dengan gedung2 modern seperti di Hong Kong atau Singapore.. tetapi sekali lagi… tidak semewah negara2 Asia krn budaya mereka jg tidak bermewah2 lagi (alias orang kaya lama)… Lihat aja Galery La Fayette.. yang ternyata cuma seperti Sarinah Thamrin… Kalo urusan mewah, Asia lebih jago.. hihihi… Geli juga liatnya.. dan lebih geli kalo ke subwaynya yg bau pesing itu dan kreta dgn manusia2nya plus dipalak negro (saya ngalamin). Dan… again… Disneylandnya… Lebih bagus Dufan!! hahaha… Dan… jangan pernah ragu naek KRL Jabotabek krn gak kalah sama Paris… Proud to be Indonesian! :)

    arghaka | March 19, 2013 | 01:04 |

  5. @arthepassion Ktemu? Keren kaann..hihihihi…

    margarittta | March 19, 2013 | 01:05 |

  6. @aghnellia Ternyata iya… Seperti belum diganti dari jaman lampau! hihihi… Melihat KRL jadi tidak ngeri-ngeri amat…

    margarittta | March 19, 2013 | 01:05 |

  7. @ayanapunya Temanya memang di Midnight in Paris sedemikian…the past is more beautiful than the present…

    margarittta | March 19, 2013 | 01:06 |

  8. @arghaka Hore!! hahahaha… Juga jangan ragu ke Mall karena ga kalah sama ke La Fayette ya? hihihi… Pas ptama kali temenku dateng ke Jakarta, dia mlongo sendiri, karena central districtnya lebih menjulang-julang daripada La Defense, ketika ditanya emang ada yang isi gedung semua itu… *ya iyalahh..orangnya di Indo banyak!! hihihi…

    margarittta | March 19, 2013 | 01:07 |

  9. jadi terprovokasi untuk ke makasar, beneran lebih canggih dari jakarta dan bandung??? hahahhaa *sok ngota bgt*

    dwiceria | March 19, 2013 | 01:08 |

  10. awesome, amazing, astounding, excellent, extravagant, kereeen Margie !!!
    you punch the point : keep updating, or stay behind :)

    trangtravel | March 19, 2013 | 01:08 |

  11. dapet doong.. iya keren, sepanjang pantai Losari itu kayak bukan di Indonesia yah :D

    arthepassion | March 19, 2013 | 01:09 |

  12. Nice post. Saya menjadi tertarik ingin ke Prancis nih. Tapi sayang gak bisa bahasa Prancis. Semoga suatu waktu bisa berbahasa Perancis dan mendapatkan beasiswa ke sana. :D

    mnurulikhsansaleh | March 19, 2013 | 01:10 |

  13. ‘to stay in the present and to face reality’.. gambaran paris disini kok kaya hidup gw ya hahaha..

    thufflooto | March 19, 2013 | 01:11 |

  14. Kereta kayak gini mah, di Indonesia aja udah kagak dipakai lagi, udah dimasukkin museum kereta yang di Ambarawa <—– haha…. ngga bisa ngga ngakak baca ini :D

    idepp | March 19, 2013 | 01:11 |